Usai Ditutup Selama 3 Tahun, Jalur Pendakian Gunung Semeru Akan Dibuka
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Jum, 19 Jul 2024
- visibility 25.488
- comment 0 komentar

Willy, Mufid, Ilham, dan saya di Ranu Kumbolo Gunung Semeru. (Foto: Hari)
Sayang sekali di sini kami tidak bisa berdekatan tendanya, karena memang kondisi di Ranu Kumbolo saat itu ramai. Untuk memilih lokasi pun cukup sulit. Saya sendiri mendapatkan kapling tenda di area yang jauh dari bibir danau. Malahan hampir saja masuk ke area ranjau darat, untung tidak menginjaknya.
Yang ada di pikiran kami saat itu ingin cepat-cepat istirahat. Sebelum tidur saya sengaja mengisi perut agar tidak masuk angin. Termasuk Mufid juga saya paksa ngemil/makan.
Karena hal ini cukup membantu. Terutama untuk menambah tenaga dan menghangatkan badan.
Baca juga: Tektok Gunung Prau Jalur Wates

Di Oro-oro Ombo. (Foto: Hari)
Tidak lama waktu tidur kami karena kami mulai terlelap menjelang pukul 3.00 WIB. Alarm yang saya setel waktu Subuh membangunkan kami.
Hari ke-2
Setelah Subuhan, saya mulai meracik menu sarapan. Sementara Mufid jalan-jalan ke tenda sebelah. Berkenalan, minta nomor hp dan lainnya (bercanda).
Menu pagi itu sayur oseng kacang. Saya juga mengajak Willy dan Ilham yang tendanya berdekatan dengan kami untuk sarapan bareng. Setelah sarapan, saya segera menuju tendanya Rey dan yang lain.
Memastikan akan lanjut ke pos Kalimati jam berapa. Ternyata agak siangan karena masih ingin bersantai di Ranu Kumbolo.
Setelah berembug dengan Mufid, Ilham, dan Willy, kami memutuskan berangkat lebih dulu ke pos Kalimati. Dan itu tidak jadi soal, karena pada dasarnya kami bergabung dengan rombongan ini untuk memudahkan dalam pendaftaran saja.
Memang lebih baik jika berjalan sesuai daftar peserta yang registrasi supaya tidak merepotkan kita sendiri nantinya. Misal saat pengecekan sampah dan tiket.
Ke Kalimati
Perjalanan menuju Kalimati sebagai titik camp kedua dimulai setelah tengah hari. Kami berempat melewati tenda-tenda pendaki lain.
Tidak jauh meninggalkan Ranu Kumbolo, kita langsung melewati Tanjakan Cinta. Berupa tanjakan yang mitosnya adalah jika kita naik tanjakan ini tanpa berhenti sampai atas dan tidak menoleh ke belakang, maka jodoh kita akan dikabulkan. Hehehe.
Lepas dari Tanjakan Cinta, pemandangan berupa padang luas yang diisi tumbuhan berwarna ungu. Belakangan diketahui itu adalah Verbena brasiliensis, merupakan jenis tanaman asing invasif yang berasal dari Amerika Selatan. Lokasi ini dinamakan Oro-oro Ombo.
Melewati Oro-oro Ombo dapat ditempuh selama kurang lebih satu jam. Lalu sampailah kami di pos Cemoro Kandang.
Waspada Macan Tutul Jawa
Oya, ada pengumuman dari pihak basecamp bahwa saat melewati area Cemoro Kandang tidak boleh berjalan sendirian. Alasannya, di area ini masih terdapat hewan liar yaitu panthera pardus melas atau macan tutul jawa.
Kami diminta waspada dan berhati-hati selama melewati area ini. Walau pada dasarnya hewan tersebut tidak akan menyerang manusia kecuali sedang mengalami gangguan (stress, penglihatan terganggu, kekurangan makanan di areanya, dan lainnya).
Namun tidak ada salahnya kita berhati-hati. Dan tentunya kita cukup bangga bahwa di Gunung Semeru masih terdapat macan tutul jawa. Semoga tetap lestari.









Saat ini belum ada komentar