Usai Ditutup Selama 3 Tahun, Jalur Pendakian Gunung Semeru Akan Dibuka
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Jum, 19 Jul 2024
- visibility 25.485
- comment 0 komentar

Willy, Mufid, Ilham, dan saya di Ranu Kumbolo Gunung Semeru. (Foto: Hari)
Ajak Satu Anak Gaspala
Oya, saya juga mengajak salah satu pengurus Gaspala SMAN 2 Kebumen yang saat itu sedang libur kenaikan kelas. Mufid namanya. Walau sebenarnya berangkat sendiri pun berani, tapi hitung-hitung sesekali nyenengin adik angkatan ngga ada salahnya kan? Ke Semeru bro…
Menjelang kepulangan saya ke Jawa, saya rutin olahraga atau latihan fisik di mess tempat kerja. Lari, naik turun tangga, push up, sit up. Mengingat proyek ke Semeru ini lain daripada yang lain, di mana fisik harus benar-benar fit dan prima.
Baca juga: Survei Lokasi di Kaliratu: Antara Mangrove, Cemara, dan Pelepasan Tukik

Poster di rumah singgah pendaki saat transit di Desa Tumpang. (Foto: Hari)
Selain medan yang dilalui nantinya cukup menantang. Normalnya membutuhkan tiga kali bermalam (camp) dengan perkiraan waktu 5D 4N (5 hari 4 malam) termasuk perjalanan pergi pulang Kebumen–Malang.
Kembali ke awal, di mana peserta pendakian berasal dari beberapa daerah. Saya dan Mufid dari Kebumen, Rey dari Bogor, lalu ada Willy dan Ilham dari Bandung yang belakangan ternyata Willy sama-sama ikut Wanadri di tahun 2016.
Pendaki lainnya saya lupa nama dan asalnya, tapi kebanyakan berasal dari Jakarta.
Titik kumpul/meeting point ditentukan di Stasiun Kotabaru Malang, mengingat peserta menggunakan kereta api yang berbeda-beda.
Berangkat
Sore itu saya dan Mufid naik bus dari simpang Kedungbener menuju Kutoarjo. Kemudian naik kereta api Prameks menuju Jogja.
Sampai Stasiun Tugu sekitar waktu Isya. Kereta yang akan mengantar kami ke Malang adalah Malioboro Ekspres. Sambil menunggu kereta berangkat, kami sempatkan makan malam di ruko stasiun.
Tidak ada momentum dadah-dadah ke pengantar, karena kami memang tidak diantar siapa-siapa. Pukul 21.00 WIB kereta berangkat.
Hari 1
Kereta tiba di Stasiun Kotabaru Malang menjelang Subuh. Langsung disambut hawa dingin Kota Malang. Sesuai dengan tulisan di plakat stasiun yang tertulis ketinggian 400-an MDPL (meter di atas permukaan laut).
Saya dan Mufid menuju ke musala stasiun untuk menjalankan ibadah Subuh. Setelahnya, kami tidak langsung keluar stasiun, tapi istirahat di ruang tunggu.
Selain menunggu rombongan lain yang naik kereta berbeda, juga untuk memudahkan kami kalau ingin ke toilet. Karena waktu itu toilet hanya ada di dalam stasiun.









Saat ini belum ada komentar