Usai Ditutup Selama 3 Tahun, Jalur Pendakian Gunung Semeru Akan Dibuka
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Jum, 19 Jul 2024
- visibility 25.487
- comment 0 komentar

Willy, Mufid, Ilham, dan saya di Ranu Kumbolo Gunung Semeru. (Foto: Hari)
Angin bertiup kencang, hawa dingin juga terasa sampai ke tulang sumsum. Sesekali berhenti untuk mengatur napas di mana kami masih adaptasi mengingat baru bangun tidur.
Sekitar satu jam perjalanan, kami sampai di pos Arcopodo. Pos di mana terdapat dua arca kembar yang kini keberadaannya entah di mana. Mungkin memang tidak di pinggir jalur pendakian, jadi tidak terlihat.
Lepas dari Arcopodo, kami mulai meninggalkan area hutan di mana pohon-pohon cemara sudah mulai berkurang. Area ini dinamakan Cemoro Tunggal.
Tapi sayangnya pohon cemara tersebut sudah roboh entah diterjang angin kencang/terkena longsoran jalur. Yang jelas waktu itu sudah tidak ada pohonnya.
Medan Berpasir
Memasuki medan berpasir, harus ekstra waspada dan hati-hati. Di mana area ini sering terjadi kecelakaan berupa cedera kepala akibat terkena batuan lepas.
Biasanya adalah batuan lepas yang tidak sengaja terinjak pendaki. Awalnya batu kecil yang menggelinding. Lalu menabrak batu lainnya yang lebih besar. Maka dari itu di sini tidak boleh lengah.
Juga yang perlu diwaspadai adanya area yang dinamakan blank 75. Di mana area ini terdapat jurang yang sering menjadi titik ditemukannya pendaki bila tersesat setelah turun dari puncak/terpeleset/salah jalur.
Antre
Langkah demi langkah kami lalui beriringan. Setiap dua atau tiga langkah lalu berhenti, begitu seterusnya. Mengingat setiap pijakan kaki di situ akan sedikit membuat mundur kaki kita karena berupa pasir dan batuan. Juga karena antri dengan pendaki di depan kita. Ke gunung waktu tahun 2013 sudah mulai antre.
Ada momen di mana saya dan Mufid tertinggal agak jauh dengan Willy dan Ilham. Lalu saya putuskan untuk sholat Subuh. Tentunya mengambil area yang aman, tidak di tengah jalur, dan sambil duduk.
Menjelang matahari terbit, hampir semua pendaki yang masih terjebak di jalur berusaha mengabadikan momen tersebut. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk menyalip pendaki lain yang sedang berhenti. Karena jika tidak cepat, bisa kesiangan sampai di puncak.









Saat ini belum ada komentar