Mendaki Itu Candu, Catatan Pendakian Merbabu Via Jalur Wekas

Catatan Hari Satria Wibowo

“Mendaki gunung itu bisa menyebabkan kecanduan.”

Rasa-rasanya kalimat tadi benar adanya, setidaknya menurut saya sendiri. Karena hampir sebagian orang yang melakukan aktivitas ini, biasanya akan kembali melakukannya.

Bacaan Lainnya

Hanya sebagian kecil saja yang merasa “kapok”. Tidak ingin mengulangi lagi. Rasa-rasanya begitu 😄.

Seperti yang baru saja saya alami. Tak disangka bertemu dengan seseorang yang dulunya bisa dikatakan “gila gunung” 😅, sebut saja Aan. Lalu pada suatu ketika Aan menyatakan berhenti alias vacuum dari dunia pendakian. Gantung carrier.
Tidak disengaja bertemu dengan dia saat melakukan pendakian G. Merbabu kemarin. Ternyata masih tersimpan jiwa-jiwa pendaki di dalam dirinya.

Simak ceritanya,…

Jumat, 10 Desember 2021

Awal mula pendakian ke Gunung Merbabu ini diadakan karena adanya niatan mengajak adik-adik saya di Gaspala (ekstrakurikuler pecinta alam di SMA Negeri 2 Kebumen) untuk mengisi liburan akhir tahun.

Selain itu juga ditambah pertanyaan dari Gun dan Okta yang jauh-jauh hari sudah dibahas, yaitu ke Merbabu. Memang kedua anak ini sudah cukup sering pergi mendaki bersama saya di antaranya ke Lawu, Sindoro, Prau.

Sementara untuk adik-adik di Gaspala, sebenarnya tujuan utamanya “ngajak” mereka yang masih kelas XI, syukur-syukur kelas X kalau ada yang mau dan diijinkan. Tentunya kegiatan ini adalah independen, tidak wajib ikut, bebas diikuti oleh siapa saja yang mau bergabung, dengan catatan diijinkan oleh orang tua masing-masing.

Rencana awal adalah tanggal 20-an Desember ketika libur sekolah, biar banyak yang bisa ikut. Namun ternyata Okta yang ngga bisa, karena dia sedang UAS di tanggal tersebut. Selain itu, adanya berita pemberlakuan PPKM level 3 di Indonesia menjelang libur Nataru.

Maka praktis rencana tersebut bergeser menjadi lebih maju. Lalu diputuskan tanggal 10-12 Desember untuk pendakian Merbabu via jalur Wekas. Itupun masih dipusingkan dengan kepastian acara diksar Gaspala apakah di-acc atau tidak. Dan pemilihan di tanggal 10 ini berpengaruh pada anak-anak yang masih sekolah rupa-rupanya.

Personel pendakian Merbabu:
  1. Samsul
  2. Abi
  3. Sulkhan
  4. Gun
  5. Okta
  6. Hanip
  7. Rima
  8. Zul
  9. Saya sendiri

Jumat pagi posisi saya yang masih di Jogja, praktis membuat sedikit terburu-buru. Setelah menyelesaikan tugas, jam 7.00 baru bisa “otw” ke Kebumen. Lalu sampai rumah mulai packing perlengkapan. Kurang lebih menjelang jumatan, packing telah selesai. Hanya saja belum belanja perbekalan, alamakkkk…!

Seusai sholat Jumat, bergegas menuju Toserba “Jadi Baru” untuk membeli perbekalan alias logistik. Waktu yang disepakati pukul 13.00 untuk berkumpul di rumah Samsul otomatis sedikit “molor”. Saya sendiri baru bisa menuju rumah Samsul jam 13.30. Sesampainya di sana sudah nampak Abi dan Sulkhan yang sedang asik diberi jamuan oleh tuan rumah.

Ngobrol singkat ini itu, lalu kontak Gun, Zul, Okta, Hanip dan Rima, yang ternyata mereka sudah sampai di titik kumpul lain, pertigaan Sruni. Sambil menunggu kami yang masih di rumah si Samsul, Okta dkk menyempatkan makan siang bakso di sekitar sana.

Sepertinya mereka sengaja makan siang bakso, biar saya ga minta dibelikan. Malahan si Zul beli chicken, jelas sekali kalo ini biar saya ngga bisa minta..!!! Ya karena saya vegetarian.

Pos terkait