Mendaki untuk Melunakkan Ego, Bukan Merawat Feodalisme
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 54
- comment 0 komentar

CUKUP lama tidak menikmati momen seperti ini. Berkumpul bersama teman-teman Gaspala yang sudah saya anggap seperti adik sendiri, baik yang masih menjadi pengurus maupun yang sudah lulus.
Ya, malam ini, Jumat 29 Mei 2026, saya bertemu langsung dengan mereka setelah sekian purnama. Cafe Burjois yang dipilih jadi tempat pertemuan kami.
Mereka pengurus Gaspala angkatan 34 Jenggala Arsa. Terakhir kali bertemu saat kegiatan caving Gua Petruk akhir tahun lalu.
Hadir 5 anak; Pandu, Andros, Alya, Nisrina, dan Fia. Oh ternyata tidak, Pandu pernah bertemu juga setelahnya. Tepatnya momen Lebaran Idulfitri kemarin di selasar Pasar Tumenggungan.
Untuk alumninya, angkatan 32 Agrakala Madaharsa cukup banyak yang datang. Ada Fitra, Naura, Devi, Fadhil, Ulhaq, Dendy, Galih, dan Irsyad.
Banyak yang dibahas. Mulai dari rencana pendakian di bulan Juli saat mereka libur panjang, rencana dadakan ke Gua Petruk besok pagi (yang akhirnya batal), mama Ghufron, wall climbing yang semakin rapuh, sampai membahas kabar terkini Gaspala ke pengurus.
Tidak terasa pengurus Gaspala sebentar lagi akan melaksanakan kegiatan pamungkasnya: diklat/pelantikan pengurus baru. Itu tandanya angkatan 34 akan digantikan oleh angkatan 35.
“Sekarang ada berapa anggota yang aktif? tanya saya ke Pandu.
“Yang terdata ada 17-an anak, tapi yang rutin berangkat KR (kegiatan rutin) di bawah itu,” jawabnya.
“Prediksi berapa anak yang hadir diklat?” tanya saya lagi.
Sebelum dia menjawab, dan saya pun tidak akan menuliskannya di sini berapa perkiraannya, tentu bisa diprediksi.
***
Tujuh tahun lalu. Senin, 18 Maret 2019.
Saya menggunakan kereta lokal Prameks sekitar jam 1 siang dari Stasiun Tugu Jogja menuju Kutoarjo.
Selanjutnya estafet menggunakan bus ekonomi dan turun di Kedungbener. Lalu naik ojek menuju SMAN 2 Kebumen. Kegiatan pertama saya sebagai pembina Gaspala sore itu diisi perkenalan.
Hanya dalam waktu 1 bulan sejak mengisi posisi pembina saat itu, langsung dihadapkan pada kegiatan diklat.
Lokasi yang dipilih bukit belakang sekolah: Gupakan atau Bangkong. Orang-orang menyebutnya begitu.
Kegiatan diklat berjalan lancar tanpa kendala berarti dan menghasilkan 20 pengurus Angkatan 28 Bulan Terang. Nama angkatan yang asosiasinya adalah martabak manis.
Barangkali si pemberi nama melihat kalau angkatan 28 diisi anak-anak yang berwajah manis seperti martabak. Entahlah.
***
Kembali ke malam ini di Burjois.
Pada intinya, pertemuan ini selain sebagai ajang silaturahim, berbagi cerita, juga sebagai obat rindu kepada Gaspala.
Sebagai orang yang pernah menjadi bagian dari Gaspala, saya masih bisa memahami situasi dan kondisinya jika ada di posisi mereka.
Kita mendaki untuk melunakkan ego yang keras, bukan turun ke lembah membawa dendam yang membekas.
Hutan adalah madrasah untuk membaca semesta, jangan kotori ia dengan panggung konyol merendahkan sesama.
Hormat itu tumbuh dari keteladanan yang nyata, bukan dipaksa lahir dari takutnya angka di atas kepala.
Alam mengajarkan bertahan dengan nalar yang matang, bukan menyiksa raga dalam kelaparan yang telanjang.
Puncak tak pernah lari dikejar oleh sang waktu, pulang dengan selamat adalah kemenangan yang tumpu.
Saat bumi terluka dan butuh aksi yang nyata, mengapa kita masih merawat tradisi feodal yang kedaluwarsa? Makin Tahu Indonesia









Saat ini belum ada komentar