Kebebasan Berekspresi Dibungkam, Why?
- account_circle Abduh Hisyam
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 58
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Mengapa kebebasan berekspresi dan berpendapat di negeri ini terus dibungkam? Karena para penguasa negeri ini takut kepada kebenaran.
Penguasa yang zalim adalah mereka yang senantiasa berada dalam kegelapan. Kata zalim berasal dari bahasa Arab zulm yang berarti gelap. Sebaliknya, kebenaran adalah cahaya. Mereka yang selalu berada dalam kegelapan sangat takut pada cahaya karena cahaya akan menyingkap apa yang selama ini mereka sembunyikan. Ibarat Count Dracula dari Transylvania yang tidak tahan terhadap sinar matahari.
Film Pesta Babi merupakan sebuah informasi mengenai peristiwa yang hingga kini masih berlangsung di Tanah Papua. Melalui proyek strategis nasional yang bertujuan menyediakan ketahanan pangan, dilakukan pembukaan lahan sawah dan perkebunan sawit dalam skala besar. Perusahaan-perusahaan yang mengelola lahan tersebut hanya dimiliki oleh satu atau dua keluarga besar, antara lain keluarga H Isam dan keluarga Fangiono. H Isam atau Andi Syamsuddin Arsyad diketahui memiliki hubungan kekerabatan dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Hubungan mereka adalah saudara sepupu.
Selama ini kita hanya mendengar bahwa persoalan Papua berkaitan dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM). OPM kini disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), yaitu kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, pemerintah tidak pernah menjelaskan secara gamblang mengapa OPM yang jumlahnya relatif kecil tetap berupaya memisahkan diri dari Indonesia. Padahal, menurut film Pesta Babi, terdapat realitas lain yang selama ini jarang disampaikan kepada publik.
Selama enam puluh tahun, Papua menunggu perubahan yang tidak pernah benar-benar terwujud. Kekayaan alam mereka dieksploitasi dan hasilnya dibawa ke Jakarta, sementara kehidupan masyarakat Papua tetap miskin dan memprihatinkan. Banyak warga hidup dalam lingkungan yang kurang sehat. Pembukaan lahan sawit menyebabkan air tanah yang sebelumnya jernih berubah menjadi kekuningan dan tidak layak diminum. Saya mendengar langsung kesaksian ini dari seorang guru sekolah Muhammadiyah yang tinggal di Merauke pada Juni tahun lalu.
Film Pesta Babi ibarat cahaya yang menerangi pikiran dan kesadaran kita mengenai keadaan saudara-saudara kita di Papua. Film ini membuka mata bahwa pemerintah telah berlaku tidak adil terhadap rakyat Papua. Kita menyaksikan penderitaan yang oleh sebagian orang dipandang serupa dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rohingya maupun Gaza.
Jika kita menangis melihat penderitaan saudara-saudara kita di Gaza dan Rohingya, maka kita juga perlu memperhatikan penderitaan yang dialami masyarakat Papua.
Muncul Kesadaran Masyarakat
Munculnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap penderitaan saudara-saudara mereka di Papua inilah yang ditakutkan oleh pemerintah. Karena itu, pemutaran film ini dilarang di berbagai tempat. Di sinilah letak kekuatan informasi. Jika masyarakat menerima informasi yang benar tentang Papua, mereka akan terdorong untuk bertindak dan menyuarakan kepedulian mereka. Dari sudut pandang penguasa, film ini dianggap berbahaya.
Mengapa Perang Vietnam berakhir dan Amerika Serikat akhirnya hengkang dari Vietnam? Apakah karena tentara Vietnam lebih kuat daripada tentara Amerika? Tidak. Yang mengakhiri Perang Vietnam adalah publik Amerika sendiri. Setelah wartawan Amerika, Seymour Hersh, memberitakan tragedi Pembantaian My Lai, yaitu peristiwa ketika tentara Amerika membunuh warga sipil yang tidak bersalah, kepercayaan publik terhadap narasi pemerintah mulai runtuh. Masyarakat kemudian mencari informasi dari para wartawan dan menemukan bahwa banyak tindakan militer Amerika di Vietnam tidak sesuai dengan nilainilai yang selama ini diklaim pemerintah mereka.
Kemerdekaan Indonesia juga terbantu oleh munculnya kelompok oposisi di parlemen Belanda yang menentang berbagai upaya kerajaan untuk mempertahankan kolonialisme di Indonesia. Berkat dukungan sebagian masyarakat terdidik di Belanda, perjuangan kemerdekaan Indonesia memperoleh pembelaan dari dalam negeri penjajah itu sendiri. Hal tersebut terjadi karena masyarakat Belanda mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai perilaku pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap penduduk Indonesia.
Mengalirnya informasi kepada kelompok terpelajar inilah yang kemudian mendorong tuntutan untuk mengakhiri kolonialisme Belanda di Nusantara. Inilah sebabnya kebebasan berekspresi di negeri ini sering kali dihambat. Penguasa takut kepada kebenaran karena kebenaran dapat menyingkap hal-hal yang selama ini ditutupi.
Dalam bahasa Arab, menutup disebut kafara. Dalam tradisi Islam, istilah kafir sering dipahami sebagai orang yang menutupi atau mengingkari kebenaran yang telah diketahuinya. Berdasarkan pemahaman tersebut, penulis berpendapat bahwa siapa pun yang berusaha menutup kebenaran sesungguhnya sedang melakukan tindakan yang serupa, yaitu menutupi fakta agar tidak diketahui masyarakat.
Mereka yang melarang pemutaran film Pesta Babi, mereka yang melakukan kekerasan terhadap para pengungkap kebenaran seperti Novel Baswedan, maupun mereka yang terlibat dalam pembungkaman kritik dan kebebasan berpendapat, menurut pandangan penulis, didorong oleh ketakutan bahwa kebenaran akan terungkap.
Mereka takut pada cahaya yang menerangi kenyataan. Mereka memilih berada dalam kegelapan dan mempertahankan kezaliman. Karena itulah mereka berusaha membatasi kebebasan berekspresi yang menjadi sarana utama bagi masyarakat untuk menemukan dan menyampaikan kebenaran. *** Makin tahu Indonesia
Abduh Hisyam, Guru Ngaji Sirah Nabawiyah di Masjid Baiturrahman PKU Muhammadiyah Sruweng. Tulisan ini disampaikan dalam diskusi Film Pesta Babi dan Kebebasan Berekspresi dalam Bingkai Demokrasi yang diselenggarakan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen, Minggu 7 Juni 2026.
- Penulis: Abduh Hisyam








Saat ini belum ada komentar