Anak Kembar Buruh Serabutan Lolos UGM, Subsidi UKT 100 Persen
- account_circle Anindya Astadewi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 68
- comment 0 komentar

Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah) foto bersama bapak dan ibunya. (Foto: ugm.ac.id)
PONOROGO (KebumenUpdate.com) – Kegigihan dua anak kembar asal Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah), putri pasangan buruh serabutan, berhasil diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) dengan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) 100 persen.
Mahmudah diterima di Program Studi D4 Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Vokasi UGM, sedangkan Rikah lolos di Program Studi D4 Teknologi Veteriner, Sekolah Vokasi UGM.
Keduanya berasal dari keluarga sederhana. Ayah mereka, Meseri (48), bekerja sebagai buruh serabutan yang mencari nafkah dari pekerjaan pertanian dan buruh bangunan. Sementara sang ibu, Siti Rokhayati (43), merupakan ibu rumah tangga yang sesekali membantu suami bekerja di sawah. Penghasilan keluarga tidak pernah tetap.
Dukuh Klitik sendiri pernah dikenal dengan julukan “kampung idiot”, sebutan yang muncul akibat isolasi wilayah, kemiskinan, minimnya akses pendidikan, serta praktik perkawinan sedarah pada masa lalu yang berdampak pada sebagian warganya. Seiring waktu, wilayah tersebut lebih dikenal sebagai “kampung TKI” karena banyak penduduk memilih bekerja sebagai buruh migran di luar negeri.
Berbeda dengan kebanyakan anak muda di desanya, Mahmudah dan Rikah memilih melanjutkan pendidikan tinggi sebagai jalan mengubah masa depan.
Sejak kedua putrinya lahir, Meseri dan Siti berkomitmen memberikan pendidikan terbaik. Mereka memutuskan hanya memiliki dua anak agar dapat memfokuskan perhatian dan biaya pendidikan.
“Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga,” ujar Siti seperti dikutip oleh website resmi UGM.
Sejak usia dini, Mahmudah dan Rikah telah dikenalkan dengan buku dan latihan menulis. Keduanya selalu bersekolah di tempat yang sama, mulai dari SDN 3 Krebet, MTsN 5 Ponorogo, hingga SMAN 1 Badegan.
Menurut Rikah, keputusan bersekolah bersama dilakukan untuk mempermudah berbagai kebutuhan keluarga.
“Satu sekolah itu untuk mempermudah, dari segala kebutuhan, akomodasi, dan lain-lain,” katanya.
Koleksi Prestasi dari Tingkat Karesidenan Hingga Nasional
Di bangku sekolah, keduanya dikenal sebagai siswa berprestasi. Sejak sekolah dasar mereka rutin masuk tiga besar di kelas dan kerap bersaing memperebutkan peringkat pertama.
Mahmudah mengoleksi 18 prestasi, sedangkan Rikah meraih 14 penghargaan, mulai dari olimpiade tingkat karesidenan hingga lomba esai dan poster tingkat nasional.
“Dalam kompetisi memang kemenangan itu selalu ada, begitu juga dengan kekalahan,” ujar Mahmudah.
- Penulis: Anindya Astadewi
- Editor: Hanny Garnet








Saat ini belum ada komentar