Anak Kembar Buruh Serabutan Lolos UGM, Subsidi UKT 100 Persen
- account_circle Anindya Astadewi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 91
- comment 0 komentar

Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah) foto bersama bapak dan ibunya. (Foto: ugm.ac.id)
Impian kuliah di UGM tumbuh sejak mereka masih kecil. Rikah mulai bercita-cita masuk UGM setelah mendengar cerita gurunya di kelas IV SD tentang alumni yang berhasil kuliah di kampus tersebut melalui beasiswa.
“Saya masih polos waktu itu, jadi saya simpan sendiri. Saya juga tidak cerita ke Mahmudah,” kenangnya.
Sementara itu, Mahmudah mengaku mulai tertarik setelah sering mendengar nama Universitas Gadjah Mada.
“Kalau ditanya mau kuliah di mana, saya selalu jawab UGM sambil bercanda. Tapi diam-diam selalu berharap itu bisa jadi kenyataan,” ujarnya.
Perjalanan Menuju UGM Tak Berjalan Mulus
Perjalanan menuju UGM tidak berjalan mulus. Keduanya gagal melalui berbagai jalur seleksi masuk perguruan tinggi negeri, termasuk SNBP. Rikah bahkan menghitung telah mengalami tujuh kali kegagalan mengikuti berbagai proses seleksi.
“Kami pasti merasa down, tetapi akhirnya bangkit lagi. Kami yakin masih ada banyak jalan yang terbuka,” katanya.
Setelah sempat diterima di perguruan tinggi di Malang, keduanya memilih tetap mengejar impian masuk UGM melalui jalur PBUTM.
Harapan itu akhirnya terwujud ketika pengumuman seleksi menyatakan Mahmudah dan Rikah lolos bersamaan serta memperoleh subsidi UKT 100 persen.
“Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan akhirnya membuahkan hasil,” ungkap Mahmudah.
Orang Tua Bangga Sekaligus Bersyukur
Keberhasilan kedua putrinya membuat Meseri merasa bangga sekaligus bersyukur. “Saya mendengar itu, ya senanglah. Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima di UGM,” tuturnya.
Rikah berharap ilmu yang diperolehnya di bidang teknologi veteriner dapat diterapkan untuk membantu masyarakat desanya, termasuk membentuk komunitas penyuluhan peternakan setelah lulus nanti.
Di tengah kenyataan bahwa sebagian besar lulusan di desanya memilih langsung bekerja atau merantau menjadi buruh migran, Mahmudah dan Rikah memilih menempuh jalan berbeda melalui pendidikan tinggi.
“Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya,” ucap Rikah kepada kedua orang tuanya. Makin tahu Indonesia
- Penulis: Anindya Astadewi
- Editor: Hanny Garnet








Saat ini belum ada komentar