Usai Ditutup Selama 3 Tahun, Jalur Pendakian Gunung Semeru Akan Dibuka
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Jum, 19 Jul 2024
- visibility 25.334
- comment 0 komentar

Willy, Mufid, Ilham, dan saya di Ranu Kumbolo Gunung Semeru. (Foto: Hari)
Sesampainya di Ranupane, kami istirahat sejenak lalu registrasi pendakian (diwakilkan oleh Rey dan temannya).
Oya waktu itu Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru belum menggunakan sistem boking online, jadi masih manual.

Di Ranu Kumbolo. (Foto: Hari)
Pendakian Malam
Kami start pendakian malam hari selepas Isya diiringi rintik hujan. Diawali berdoa bersama dan membentuk lingkaran kecil, kami berkenalan satu per satu, lalu briefing singkat untuk menentukan leader, titik camp, dan lainnya.
Saya dan Mufid lebih banyak diam karena masih merasa asing. Sementara peserta lain lebih riang gembira.
Baca juga: Cukup Sekali: Catatan Pendakian Gunung Merbabu Jalur Selo
Jargon kami selama perjalanan adalah “Kopi hitam kupu-kupu, kopi hitam semangatku”. Bila mendengar suara tersebut, maka teman yang lain langsung meneruskan. Cukup membuat suasana menjadi cair. Yang akhirnya saya tahu itu adalah salah satu lirik lagu reggae. Uyeee.
Pos 1, 2, 3 dan seterusnya saya tidak ingat secara detail karena perjalanan kami yang malam hari. Yang jelas kami sering berhenti untuk istirahat.
Pendakian malam praktis tidak bisa menikmati pemandangan sepanjang jalur. Juga menurut saya pribadi memang terasa lebih melelahkan. Apalagi kami baru saja menempuh perjalanan jauh. Tapi hal itu bukan jadi masalah berarti, toh kami tetap menikmati perjalanan walau harus sering berhenti.
Menjelang Ranu Kumbolo sekitar jam 2 dinihari, kami benar-benar kelelahan. Bahkan beberapa sempat tertidur saat istirahat di pinggir jalur. Walau sudah terlihat kerlap-kerlip lampu tenda pendaki di bawah sana–Ranu Kumbolo.
Dengan langkah gontai kami berjalan menuju titik camp kami. Segera memilih lokasi lalu bongkar ransel dan mendirikan tenda masing-masing.







Saat ini belum ada komentar