Senyap di Aspal Jalur Selatan: Catatan Perjalanan Indomobil Emotor Adora Solo-Kebumen
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Kam, 19 Mar 2026
- visibility 370
- comment 0 komentar

KEINGINAN untuk beralih ke kendaraan listrik sebenarnya sudah lama mengendap. Sejak akhir tahun lalu, layar ponsel saya kerap dipenuhi diskusi hangat di forum komunitas motor listrik. Pilihan pun jatuh pada unit Indomobil. Setelah sempat gagal meminang tipe Tyranno karena kendala wilayah pembiayaan, semesta akhirnya mempertemukan saya dengan Indomobil Emotor Adora.
Statusnya bukan unit baru gres, melainkan unit “tarikan” dealer tahun 2025 dengan angka di odometer menunjukkan +- 6.700 km. Setelah proses survei dan administrasi di IMFI Solo rampung dalam sepekan, hari Rabu, 18 Maret 2026, menjadi waktu eksekusi.
Perjalanan Dimulai dari Rel Kereta
Tepat pukul 10.20 WIB, saya berangkat dari Kebumen menggunakan kereta api Ranggajati dan tiba di Stasiun Solo Balapan saat matahari tepat di atas kepala.
Usai menunaikan salat, saya segera menuju kantor IMFI Solo untuk menyelesaikan berkas. Di sana, Adora dengan spesifikasi baterai 76,8 Volt 32 Ah sudah menanti untuk diajak pulang sejauh 160 kilometer menuju Kebumen.
Sebelum benar-benar meninggalkan Solo, saya menyempatkan diri mampir ke dealer resmi untuk general check-up. Meski harus merogoh kocek Rp25.000 karena kartu garansi dari pemilik pertama tidak ada, hasilnya melegakan: baterai dinyatakan sehat.
Etape Pertama: Solo-Jogja dan Berkah Ramadan
Pukul 16.00 WIB, petualangan dimulai. Rute Solo-Jogja sejauh 59 km ditempuh dengan kecepatan rata-rata 55 km/jam.
Suasana sore yang padat oleh warga yang “ngabuburit” memaksa saya beberapa kali melakukan akselerasi. Tiba di PLN Gedongkuning, Jogja, sisa baterai berada di angka 30%.
Di sinilah kehangatan Ramadhan terasa. Sambil menunggu pengisian daya (yang memakan waktu 2 jam untuk tambahan 1 kWh/menjadi 67%), petugas keamanan PLN dengan ramah menawarkan berbuka puasa.
Nasi kotak dan takjil gratis di masjid kompleks PLN menjadi kawan menunggu yang nikmat. Sore itu, SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) tampak ramai oleh pemudik dan warga sekitar yang juga sedang “mengisi nyawa” kendaraan mereka.
Etape Kedua: Godaan Fast Charging di Wates
Pukul 20.00 WIB, saya melanjutkan perjalanan ke arah Wates. Menempuh 34 km, baterai menyusut dari 67% hingga 33%.
Di PLN Wates, saya sempat berbincang dengan pengguna motor listrik lain. Ia menyarankan penggunaan fast charging untuk perjalanan jarak jauh agar tidak membuang waktu berjam-jam di jalan.
Namun, melihat harga charger resmi yang mencapai Rp5 juta, saya memilih tetap setia dengan proses pengisian normal. Dua jam kembali saya lewatkan demi mengejar angka 67%.
Etape Terakhir: Uji Nyali di Jalur Gelap
Perjalanan Wates-Kebumen sejauh 70 km adalah fase paling mendebarkan. Dengan baterai hanya 67%, hitung-hitungan di atas kertas terasa sangat mepet. Saya terpaksa menggunakan Mode 1 dengan kecepatan maksimal 35 km/jam agar daya lebih awet.
Rasa was-was memuncak saat memasuki wilayah Purworejo. Indikator baterai menunjukkan angka 20-an persen, sementara aspal masih membentang jauh.
Dengan sisa tenaga yang ada, saya tetap konsisten di kecepatan rendah. Pukul 01.45 dini hari, Adora akhirnya memasuki halaman rumah di Kebumen dengan sisa baterai hanya 4%.
Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan, namun sekaligus membuktikan bahwa motor listrik bukan sekadar kendaraan dalam kota. Dengan manajemen daya dan sedikit keberanian, jarak 160 km pun bisa ditaklukkan dengan biaya operasional yang sangat murah. Makin Tahu Indonesia








Saat ini belum ada komentar