Pelesiran Tumenggungan: Jalan sebagai Ruang Perjumpaan
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 26 Okt 2022
- visibility 2.981
- comment 0 komentar

Warga berbincang di Jalan Soekarno-Hatta. (Foto: Padmo)
Ruas jalan Sukarno Hatta yang telah tertata akan menjadi perwakilan jalan yang tumbuh kembali fungsi sosial dan budayanya. Masyarakat bisa mendapatkan destinasi wisata keluarga yang hemat, sehat namun tetap kaya manfaat. Tumbuhnya arus pelintas lambat (karena berjalan kaki bukan bermotor adu cepat) juga diharapkan mampu membuka kembali pintu-pintu toko yang lama tutup.
Baca Juga: Kualitas Hidup Rendah, Ibu Remaja Rentan Depresi Pasca Melahirkan
“Tak usah ke Jogja untuk merasakan Malioboro, cukup ke Kebumen saja!” kata seorang teman penuh semangat.
Ini sah-sah saja karena ndilalah beberapa ornamen dan desain memang mengingatkan pada jalan legendaris itu. Namun melakukan branding dengan mengekor hal populer sesungguhnya tak elok karena justru menunjukkan inferioritas, ketidakyakinan atas milik kita.
Kebumen sebagai simpul perjumpaan masyarakat kisik (pantai) dengan para petani perbukitan Serayu Selatan sesungguhnya sudah memiliki karakter dan kekayaan sendiri. Memunculkan istilah-istilah lokal akan terasa lebih mengakar dan tetap memiliki kekuatan branding yang kuat.
Pelesiran Tumenggungan atau istilah lain rasanya layak dipikirkan. Membuat event-event branding yang gaungnya cukup kencang keluar juga wajib dilakukan. Pemerintah, komunitas dan lembaga terkait wajib duduk bersama untuk mengoptimalkan ruang baru ini.
Di Kawasan Pelesiran Tumenggungan kita disadarkan: jalan adalah ruang perjumpaan.
Sigit Tri Prabowo, penulis dan peminat budaya







Saat ini belum ada komentar