Prembun Gawe Gumun: Saatnya Menatap ke Timur
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 15 Jun 2022
- visibility 13.405
- comment 0 komentar

Berangkat ke Pasar Kelapa Prembun. (Foto: Ondo S)
Oleh: Sigit Tri Prabowo*
DIAKUI atau tidak, saat ini ayunan bola pembangunan kabupaten cenderung bergerak ke wilayah tengah dan barat. Berbagai kebijakan pembangunan terasa ‘njomplang’ mengarah ke kedua wilayah tersebut. De facto pertumbuhan ekonomi memang lebih terasa di wilayah tengah Kebumen sebagai pusat pemerintahan dan wilayah barat yang secara historis diwakili kawasan Gombong sebagai simpul ekonomi.
Jika diibaratkan rumah, tampak muka Kebumen ada di sisi barat. Wilayah timur menjadi pekarangan yang jarang dipandang, menjadi daerah yang seakan tak terjamah perkembangan. Kecamatan di ujung timur; Kutowinangun, Ambal, Prembun, Mirit, Padureso dan Poncowarno menjadi kecamatan yang cenderung statis tanpa geliat pembangunan yang berarti.
Baca Juga: Nikmatnya Menu Ndeso di “Kopi Kebon” Prembun
Ketimpangan ini juga tampak dalam kebijakan perencanaan wilayah sebagaimana tertuang dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW). Di situ ditetapkan Kebumen dan Gombong sebagai kawasan perkotaan, sementara wilayah timur semuanya merupakan wilayah pedesaan.
Menciptakan Kutub Pertumbuhan
Ekonom Perancis Francois Perroux memunculkan teori kutub pertumbuhan (growth pole) sebagai salah satu sistem pengembangan sebuah wilayah. Perkembangan sebuah wilayah yang relatif luas akan berjalan baik jika mampu dimunculkan kutub-kutub pertumbuhan yang menyebar. Pemusatan kutub pertumbuhan akan memperlambat pertumbuhan dan memunculkan ketimpangan antarwilayah.
Secara sederhana, kemajuan Kebumen akan sulit dicapai jika pusat pertumbuhan hanya bertumpu di kawasan kota Kebumen. Perlu ada kemauan keras dari pemerintah (yang didukung dunia usaha dan masyarakat) untuk memunculkan kutub-kutub pertumbuhan yang menyebar di berbagai sudut wilayah.







Saat ini belum ada komentar