Pemulangan Jenazah Sri Rahayu Ditanggung Perusahaan, Ini Kronologi Kejadian yang Menimpanya
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 452
- comment 0 komentar

BP3MI Provinsi Jawa Tengah bersama Disnaker Kebumen dan Migrant Care mendatangi rumah duka dan menemui ayah kandung Sri Rahayu. (Foto: istimewa)
KEBUMEN (KebumenUpdate.com) — Upaya fasilitasi pemulangan jenazah Sri Rahayu (21), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Tlogosari, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen yang meninggal di Hokkaido, Jepang, terus dikawal.
Seluruh biaya penanganan dan pengiriman jenazah dari Jepang hingga ke tanah air dipastikan ditanggung sepenuhnya oleh pihak perusahaan tempat korban bekerja.
Kepastian ini diperoleh setelah perwakilan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kebumen dan Migrant CARE mendatangi rumah duka dan menemui ayah kandung korban, Suratin, Senin 8 Juni 2026.
Koordinator Migrant CARE Kebumen, Syaipul Anas, menyampaikan bahwa proses pemulangan telah menunjukkan titik terang. Jenazah almarhumah direncanakan diterbangkan dari Tokyo dan dijadwalkan mendarat di Indonesia melalui Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).
“Alhamdulillah, untuk seluruh biaya ditanggung oleh pihak perusahaan di Tokyo, Jepang. Rencana pengiriman jenazah akan melalui Bandara Jogja. Kami masih menunggu kepastian jadwal pastinya. BP3MI, Disnaker, dan Migrant Care siap mendampingi pihak keluarga dari awal hingga pemakaman,” ujar Syaipul Anas melalui stafnya, Maryatun, Senin, 8 Juni 2026.
Merespons perkembangan tersebut, ayah kandung almarhumah, Suratin, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu pengurusan hak-hak anaknya. Ia berharap proses birokrasi pemulangan dapat berjalan lancar tanpa hambatan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu. Alhamdulillah, semua biaya sudah ditanggung oleh perusahaan dari Tokyo. Harapan kami selaku keluarga, semoga jenazah anak saya bisa secepatnya dipulangkan ke rumah,” ungkap Suratin.
Kronologi Asli Kejadian di Lokasi
Di sisi lain, tabir mengenai kronologi tragis yang menimpa Sri Rahayu kini mulai terungkap jelas. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 4 Juni 2026 sekitar pukul 20.00 waktu setempat di Kota Chitose, Prefektur Hokkaido.
Aksi mencekam bermula ketika terduga pelaku (mantan kekasih korban) mendatangi tempat tinggal korban untuk mencarinya. Kedatangan pelaku sempat memicu kepanikan para penghuni perempuan lainnya karena pelaku terus memaksa masuk kamar dan menuduh mereka menyembunyikan korban.
Sempat pergi selama 10 menit setelah diancam akan dilaporkan ke polisi, pelaku justru kembali ke lokasi dengan menyelipkan senjata tajam jenis pisau dapur (hocho) di belakang badannya. Pelaku diduga memang sudah berniat dan merencanakan pembunuhan ini sejak berangkat dari wilayah Chiba.
Setibanya kembali di lokasi, pelaku berpapasan dengan korban yang saat itu baru keluar rumah bersama pacar barunya. Perkelahian fisik pun pecah di antara kedua pria tersebut, di mana pelaku sempat terpelanting akibat pukulan pacar baru korban.
Namun, pelaku bangkit dan langsung menyerang pria tersebut menggunakan pisau hingga menyebabkan luka robek yang dalam pada tangan kirinya.
Melihat pertikaian itu, Sri Rahayu berusaha mendekat untuk melerai. Malangnya, korban justru dibanting dari tangga oleh pelaku hingga terjatuh dalam posisi tengkurap. Benturan keras tersebut mengakibatkan luka di kepala hingga almarhumah.
Situasi semakin kritis saat pihak Kepolisian Jepang tiba di tempat kejadian perkara (TKP). Meski polisi telah berulang kali meneriakkan perintah untuk berhenti (“Yamero! Yamero!”), pelaku yang panik justru menjadikan korban sebagai sandera. Pelaku menodongkan pisau ke leher korban dan mengancam akan menusuknya jika polisi nekat maju.
Saat petugas mencoba merangsek mendekat untuk mengamankan situasi, pelaku secara beringas menusuk korban berkali-kali di bagian dada hingga mengakibatkan luka fatal.
Pelaku juga sempat menyerang dan menusuk salah satu anggota polisi sebanyak satu kali hingga mengenai bagian kakinya, sebelum akhirnya berhasil diringkus petugas.
Saat ini, rekan-rekan korban di Jepang bersama pihak KBRI Tokyo terus merampungkan dokumen laporan resmi agar seluruh proses hukum pelaku berjalan seadil-adilnya dan pemulangan jenazah ke Kebumen dapat segera direalisasikan. Makin Tahu Indonesia








Saat ini belum ada komentar