Prameks Diperpanjang ke Gombong? Ini Hasil Audiensinya
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 113
- comment 0 komentar

JAKARTA (KebumenUpdate.com) — Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, Arif Anwar, memberikan perkembangan terkait permohonan perpanjangan rute layanan Kereta Commuter Line Prameks.
Hal tersebut disampaikan saat Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, bersama jajarannya menggelar audiensi dengan Ditjen Perkeretaapian, Rabu 22 Juli 2026.
Arif mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima surat terbaru dari Bupati Kebumen tertanggal 25 April yang mengusulkan perpanjangan rute hingga Stasiun Gombong.
Menanggapi usulan ini, DJKA bersama PT KAI sebelumnya telah menempuh sejumlah langkah, mulai dari penyusunan perjanjian kerja sama dengan Daop 5 dan Daop 6, pelaksanaan joint research di Stasiun Kebumen dan Stasiun Kutowinangun, perbaikan bangunan, hingga penyusunan kajian internal dan potensi demand bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi.
Kendati demikian, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan sarana. Rangkaian Kereta Prameks yang tersedia baru mencakup dua train set dan satu kereta cadangan yang harus dibagi penggunaannya dengan Kereta Bandara YIA.
Secara fiskal, usulan perpanjangan ini dinilai memungkinkan, namun keterbatasan armada menjadi kendala teknis yang harus dicarikan solusi.
Sebagai gambaran, pola operasi Kereta Prameks saat ini melayani lintas hingga Kutoarjo dengan frekuensi 10 perjalanan per hari dan tarif Rp8.000 untuk waktu tempuh sekitar 62 menit.
Berdasarkan data periode Januari 2025 hingga Mei 2026, total penumpang tercatat mencapai 1.647.531 orang dengan rata-rata okupansi sebesar 137 persen, bahkan kerap menembus di atas 150 persen saat peak season.
Sebagai tindak lanjut, PT KAI saat ini tengah mengkaji penambahan dan telah melakukan penggantian sarana dari Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) ke kelas ekonomi (K3) demi kapasitas yang lebih besar.
PT KCI juga sedang menyusun rencana kebutuhan train set, kapasitas, sarana cadangan, jadwal pengadaan, hingga fasilitas pelayanan dan kebutuhan petugas di Stasiun Kebumen – Gombong.
“Kaitannya dengan usulan dari Ibu Bupati sampai ke Gombong, nanti kami koordinasikan dengan KAI agar kajiannya diperpanjang sampai ke Gombong,” ujar Arif.
Kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar hukum dalam mengusulkan subsidi atau PSO kepada pemerintah.
Lebih lanjut, Dirjen Perkeretaapian, Ir. Allan Tandiono, menyatakan dukungan penuh agar rute tersebut segera diperpanjang.
Mengingat angka okupansi yang sangat tinggi dan banyak penumpang yang berasal dari wilayah Kebumen, ia menilai keputusan ini tidak sulit untuk segera direalisasikan.
Terkait tarif, Allan menegaskan agar perhitungannya dilakukan secara cermat dan berkeadilam agar tidak terpaut terlalu jauh dari tarif eksisting ke Kutoarjo, serta tetap terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Paling cepat kapan, Pak? Sekarang jangan sampai melempar-lempar saja gitu ya. Karena dari kami sangat mendukung, sangat mendukung, ya. Jadi terkait tarif akan kita usahakan tarif terbaik juga. Kita hitung yang baik itu di angka berapa. Jangan sampai kok dari Kutoarjo berbeda banyak gitu,” pinta Allan.
Menutup pertemuan tersebut, Allan menegaskan kembali komitmen pemerintah dalam mendukung mobilitas masyarakat dan memaparkan rencana tindak lanjut berupa agenda launching.
Ia menginstruksikan agar PT KAI, KAI Commuter, dan perwakilan Pemkab Kebumen segera menggelar rapat koordinasi lanjutan dalam waktu dekat.
“Kalau bisa secepatnya kita launching. Terkait kapan bisa diluncurkan, mungkin secepatnya, kalau bisa di minggu depan rapat PT KAI, PT KCI, dan juga perwakilan dari Pemkab Kebumen untuk mengkonfirmasi kapan siapnya. Kalau bisa launching di hari besar atau momen spesial,” tegas Allan.
Mendengar hal tersebut, Bupati Lilis Nuryani menyambutnya dengan rasa lega.
“Terima kasih Pak Dirjen, saya jadi lega, alhamdulillah sekali,” ungkapnya.
Meski demikian, Allan mengingatkan bahwa langkah ini merupakan solusi jangka pendek mengingat keterbatasan sarana dan frekuensi yang ada saat ini. **Makin Tahu Indonesia








Saat ini belum ada komentar