Nikmatnya Menu Ndeso di “Kopi Kebon” Prembun

Kopi Kebon
Menu makanan ndeso di Kopi Kebon disajikan secara prasmanan. (Foto: Padmo)

DALAM perjalanan pulang takziah dari Banyuurip, Purworejo menuju Kebumen, Senin 4 Januari 2020 saya bersama Mas Suk dan Nwh bingung mencari tempat untuk sekadar ngopi atau sekalian makan siang. Maklum saja, jam di tangan sudah menujuk pukul 11.20.

Menyusuri lingkar utara Purworejo hingga Kutoarjo, tak satu pun tempat makan atau warung kopi yang bikin kami sepakat untuk menepi.

Bacaan Lainnya
Warung di Tengah Kebun Jadi Pilihan
Kopi Kebon
Pintu masuk sisi barat. (Foto: Padmo/KebumenUpdate)

Ya, sudahlah di Kebumen saja. Satai kambing Amad Khusni di depan Stasiun Prembun dan Warung Asli Kutowinangun awalnya jadi pilihan. Tetapi Mas Suk mengusulkan berhenti di warung di tengah kebun yang berada sebelah barat Polsek Prembun lama (sekarang Pos Lantas Prembun). Setuju!!!

Sampai perbatasan Purworejo-Kebumen, mobil yang dikemudian Mas Suk melambat. Lama tak melintasi jalur ini, ternyata sisi timur Kebumen mengalami perubahan. Alih fungsi lahan terjadi dengan berdirinya SPBU Candisari Grup. Tak jauh dari situ bangunan MTs Negeri 7 berdiri megah layaknya kampus perguruan tinggi Islam.

Sejak beroperasinya Jalan Lintas Selatan-selatan (JLSS), saya lebih sering melewati jalur selatan-selatan (Pansela) saat akan pergi ke Yogyakarta. Sehingga jarang melintas jalur utama Kebumen-Kutoarjo-Purworejo.

Bangunan  Sekilas Mirip Rumah Banjar
Kopi Kebon
Arsitektur ini mengingatkan rumah banjar di Kalsel. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)

Saat mobil menepi dan berhenti seorang lelaki paruh baya menyambut dengan memberi aba-aba untuk parkir. Tampak dari jalan raya, sebuah rumah panggung yang desainnya cukup unik, mengingatkan pada rumah Bumbungan Tinggi (Rumah Banjar) khas Kalimantan Selatan.

Genteng metal ditabrakkan dengan anyaman bambu pada atap tak mengurangi keunikan arsitektur bangunan yang berada di tengah kebun tanaman hias itu.

Desain Interior Memikat, Surga Bagi Penyuka Selfie
Kopi Kebon
Menikmati kopi di tempat istimewa. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)

Hendak memasuki bangunan, selain tulisan gantung Coffee Kebon’s, sejumlah peralatan pertanian tradisional tergantung menjadi ornamen yang menyambut tetamu. Kami memang tidak langsung masuk  melainkan keliling terlebih dahulu menikmati susana khas pedesaan. Di belakang bangunan tampak seperti pembibitan beragam tanaman.

Tak hanya terlihat dari luarnya tempat ini istimewa, desain interiornya juga sungguh memikat. Apalagi koleksi barang jadulnya yang dipajang melengkapi suasana tempoe doeloe. Bagi penggemar fotografi atau penyuka swafoto alias selfie, tempat ini seperti surga kecil yang bikin betah.

Lodeh Lumbu, Oseng Genjer dan Kembang Turi
Kopi Kebon
Sayur lodeh, oseng dan tempet tahu bacem siap disantap. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)

Oke, lanjut ke inti tulisan ini. Meskipun namanya Kopi Kebun, ternyata tempat ini tidak hanya menyediakan kopi. Tetapi juga menawarkan menu  camilan dan makanan khas pedesaan seperti sayur lodeh (lumbu dan jantung pisang), oseng (genjer, kembang kates, godhong kates, kembang turi). Sedangkan lauk ikan lunjar, tahun dan tempe bacem.

Konon menu spesial di tempat ini adalah ingkung bakar. Sedangkan camilan ada pilihan pisang tepung, pisang keju, singkong goreng dan mendoan. Untuk minuman ada kopi klotok, kelapa muda, teh campion,  kopi susu, squash bunga telang, minuman kebon, teh, susu dan wedang rempah.

Jujur, Pengin Nambah Tapi Malu
Kopi Kebon
Sayuran dan bumbu pun ditata dengan rapi. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)

Yang menarik, menu makan disajikan secara prasmanan dengan wadah gerabah  yang unik. Saya cukup ambil nasi putih, sayur lodeh, dan sambel. Bahkan sebelum pesanan tempe mendoan dan pisang goreng datang nasi saya sudah ludes. Jujur, pengin nambah tapi malu.

“Maknyus,” kata almarhum Bondan Winarno. “Endul, endol,” kata pembawa acara program kuliner kekinian. Karena di dalam daftar menu tanpa mencantumkan harga, saya penasaran saat kasir mulai berhitung. Ternyata, seluruh menu makanan yang kami pesan hanya membayar sebanyak Rp 62.000.

“Hati senang, pikiran terang, perut kenyang, dompet aman. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?” Dalam hati saya bergumam, “Sepertinya kapan-kapan saya kudu mampir ke sini lagi mengajak anak-anak KebumenUpdate.”

Baca Juga: Buka di Jalan Gereja, Kopi Nostalgia Hadirkan Wajah Baru

Oh, iya nama Kopi Kebon menurut saya lebih cocok dipakai ketimbang Coffee Kebon’s yang hybrid Englonesia. Selain itu, karena berada di jalur cepat, ada baiknya 300-100 meter sebelum lokasi diberi tanda. Tentu akan semakin banyak pengendara yang akan menepi, sekadar untuk menikmati kopi  atau ngaso sembari menyantap menu makanan ndeso. (ndo)

Pos terkait