Cerita Pendek: Secarik Kertas di Meja 12
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 10 Mar 2025
- visibility 1.526
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Cerpen Banyu Amerta
AKU bukan tipe orang yang gampang penasaran. Kalau ada gosip di grup WhatsApp keluarga soal tetangga yang ketahuan selingkuh sama tukang jus alpukat, aku bukan orang yang bakal kepo cari tahu siapa tukang jusnya dan di mana dia biasa mangkal. Aku nggak peduli.
Tapi ada satu hal yang bikin aku penasaran sejak beberapa bulan terakhir, meja nomor 12 di perpustakaan kampus.
Sebagai mahasiswa yang lebih sering berdiam diri di kos daripada keluar kos, kepergianku ke perpustakaan sebenarnya murni karena satu hal, Wi-Fi. Kosanku punya koneksi Wi-Fi yang sangat buruk, hingga bisa menjadi alasan yang bagus untuk aku mengerjakan tugas di luar.
Setiap kali aku duduk di meja nomor 12, selalu ada secarik kertas kecil tertinggal. Awalnya aku pikir itu coretan orang yang malas buang sampah, tapi setelah beberapa kali datang, aku mulai sadar kalau kertas-kertas itu bukan kertas biasa.
Minggu pertama, aku menemukan ini:
“Langit hari ini seperti perasaan yang kupendam: gelap tapi penuh bintang.”
Oke. Aku kira ini cuma mahasiswa sastra yang habis patah hati. Aku hampir aja mengembalikan kertas itu ke meja lain, berharap dia sadar kalau puisinya kelewat melankolis.
Tapi minggu berikutnya, ada lagi.
“Orang-orang membaca buku untuk menemukan dunia baru, aku membaca wajahmu untuk menemukan perasaan lama.”
Aku mulai curiga. Ini bukan kertas biasa. Ini adalah kertas curhat anonim.







Saat ini belum ada komentar