Pelesiran Tumenggungan: Jalan sebagai Ruang Perjumpaan
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 26 Okt 2022
- visibility 2.980
- comment 0 komentar

Warga berbincang di Jalan Soekarno-Hatta. (Foto: Padmo)
Oleh: Sigit Tri Prabowo
SEORANG pakar gamelan dari Inggris, Peter Smith, pernah bercerita mengenai kebiasaan orang Inggris pedalaman yang mirip dengan kebiasaan masyarakat pedesaan Jawa. Perjalanan berbelanja di pasar yang cukup dekat seringkali ditempuh dalam waktu yang relatif lama.
Bukan karena kondisi jalan yang rusak namun karena banyaknya selingan tegur sapa bahkan obrolan dengan sahabat kerabat yang ditemui di sepanjang jalan.
Masyarakat Jawa tradisional yang relatif rendah mobilitasnya memandang jalan tak semata-mata dalam konteks transportasi. Kata ratan (jalan .jw) berarti area yang diratakan. Munculnya area yang diratakan tak semata-mata untuk memudahkan perpindahan namun juga menjadi sarana untuk bertandang, untuk berjumpa.
Baca Juga: Ruang Budaya di Koridor Kota
Maka di kawasan pedesaan, berkendara dengan kecepatan tinggi adalah hal yang tidak dianjurkan. Tak hanya karena aspek keselamatan, namun juga karena hilangnya kesempatan bertukar senyum dan angguk kepala dengan orang yang berpapasan.
Seiring dengan perkembangan jaman serta laju pertumbuhan ekonomi dan industri, pelan-pelan orang melupakan makna sosial yang diemban jalan. Ukuran kualitas jalan semata-mata diukur dari kondisi dan ukuran jalan. Semakin cepat jalan dilalui, semakin banyak barang bisa diangkut dalam waktu singkat, semakin tinggi nilai sebuah jalan.







Saat ini belum ada komentar