Ruang Budaya di Koridor Kota
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 19 Nov 2021
- visibility 5.315
- comment 0 komentar

Tugu PKK di Jalan Pahlawan. (Foto: Padmo)
Oleh: Sigit Tri Prabowo*
Beberapa pekan terakhir wajah sebagian pusat kota Kebumen tampil berbeda. Dimulai dari pengaturan jalur searah di bulan Mei kemudian diikuti pembongkaran pembatas jalur di sepanjang Jalan Pahlawan. Kepala Dinas PUPR mengungkapkan kepada media bahwa penataan yang dilakukan tidak hanya sebatas pelebaran jalan namun juga pembuatan jalur pedestrian (pejalan kaki), tempat duduk, lampu hias, taman dan ruang terbuka hijau serta jalur difabel.
Sekalipun saat ini fokus pembenahan masih sebatas Jalan Pahlawan, namun jalur pembenahan sebenarnya meliputi Jalan Pahlawan, Jalan Sutoyo dan Jalan Kusuma (Pasuma). Tiga ruas jalan inilah yang disebut sebagai koridor perkotaan dalam beberapa dokumen perencanaan.
Lepas dari pro kontra soal pembenahan koridor kota ini, sebenarnya ada sisi yang penting dan menarik untuk dibahas (dan sayangnya kerap diabaikan) yaitu aspek budaya. Dalam konteks sejarah budaya maupun antropologi kota, jalan utama perkotaan tak semata berfungsi sebagai sarana pemindahan barang dan manusia semata.
Baca Juga: DPUPR Kebumen Anggarkan Rp 12 Miliar untuk Lanjutkan Penataan Koridor Jalan Pasuma
Jalan utama kota secara tradisional memiliki fungsi-fungsi sosial budaya bagi warganya. Jalan menjadi ruang pertemuan, kegiatan bahkan seringkali ruang perhelatan aktivitas budaya. Dalam konteks branding wilayah, jalan utama juga menjadi wajah muka sebuah kota.
Dalam konteks inilah penataan ruas jalan utama wilayah perkotaan Kebumen mesti juga memperhatikan fungsi budaya sekaligus sebagai citra awal wajah kota. Dengan demikian koridor kota tak hanya bermanfaat secara fisik namun memberi manfaat berkelanjutan bagi kota dan warganya. Kondisi ini tentu membutuhkan proses yang panjang, partisipatif serta inklusif (merangkul semua pihak).
Jalan sebagai Ruang Publik
Masyarakat Indonesia sangat lekat dengan ruang-ruang keguyuban dalam hidup sehari-hari. Di kota-kota tradisional Jawa, jalan utama kota dan alun-alun adalah tempat di mana warga berpesiar di sore hari, berjumpa dengan kerabat dan sahabat. Keramaian alun-alun Kebumen terutama di hari-hari libur menunjukkan bahwa fenomena itu masih hidup di tengah warga.







Saat ini belum ada komentar