Ruang Budaya di Koridor Kota
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 19 Nov 2021
- visibility 5.315
- comment 0 komentar

Tugu PKK di Jalan Pahlawan. (Foto: Padmo)
Namun dalam perjalanan waktu, tata kelola kota –khususnya lingkungan jalan– lebih mengedepankan kepentingan ekonomi dan kadang juga popularitas politik. Pembiaran pencaplokan fungsi publik oleh kepentingan-kepentingan ekonomi, pengabaian tata visual dengan dalih pendapatan daerah serta hilangnya hak-hak pejalan kaki membuat jalan kehilangan fungsi budayanya. Ini sangat terlihat ketika terjadi polemik penataan koridor kota, topik perdebatan sebatas fungsi ekonomi dan hal-hal praktis semata. Fungsi budaya, sosial dan kemanfaatan luas bagi publik hampir tak muncul di permukaan.
Fungsi Sosial Budaya vs Sentra Ekonomi?
Paparan Kepala Dinas PUPR tentang penataan koridor perkotaan memberi harapan baru munculnya fungsi-fungsi sosial budaya jalan. Pembuatan pedestrian, zona hijau dan jalur sepeda memberi peluang bagi warga untuk memanfaatkan jalan-jalan utama Kota Kebumen tak sekedar sebagai tempat berlalu lalang. Demikian juga pembuatan jalur dan fasilitas ramah difabel membuat lingkungan jalan menjadikan kemanfaatan jalan menjadi semakin luas.
Kekhawatiran bahwa nilai dan fungsi ekonomis akan berkurang sebenarnya tak perlu muncul. Jalan Malioboro di Yogyakarta dan Jalan Braga di Bandung menunjukkan bahwa berkembangnya fungsi sosial budaya ruas jalan justru mendorong tumbuhnya ekonomi lokal. Jika semula mayoritas pengguna jalan adalah ‘orang lewat’, ke depan diharapkan semakin banyak yang memang menjadikan kawasan jalan ini sebagai tujuan perjalanan sehingga peluang terjadinya transaksi ekonomi semakin besar.
Sesungguhnya sejak sekarang para pelaku ekonomi di seputaran koridor perkotaan mesti mulai bersiap menangkap peluang ini. Sekalipun perubahan pola lalu lintas pasti membawa konsumen ke fase penyesuaian (yang sangat mungkin berimbas sepinya pembeli), namun sesungguhnya itu tahapan untuk menuju kawasan premium kota yang secara ekonomis lebih menjanjikan.
Baca Juga: Pengusaha Tionghoa Kebumen Dukung Sistem Satu Arah
Tentu keserasian fungsi ekonomi dan sosial mensyaratkan fasilitas yang memadai dan regulasi yang konsisten dari pemerintah. Diharapkan proses penataan ini tidak hanya menyentuh hal-hal fisik namun juga tata kelola yang baik, transparan dan konsisten ditegakkan. Bukan rahasia lagi bahwa berbagai kerumitan yang muncul di kawasan jalan utama dan alun-alun saat ini diakibatkan oleh perencanaan yang parsial, tata kelola yang tak rapih dan tak dijalankan dengan konsisten.
Hal ini selain membutuhkan konsep matang dari pemerintah selaku regulator juga harus ada kesediaan para pemilik toko, rumah dan perkantoran di kawasan ini. Mesti ditumbuhkan kesadaran bahwa lokasi premium kota selain mendatangkan keuntungan strategis secara finansial juga membawa tanggungjawab moral yang lebih. Sebagai penghuni teras depan kota, mereka juga dituntut untuk merawat toko, rumah dan perkantoran sehingga mampu bersumbangsih bagi citra kota.
Budayawan Membudayakan Jalan
Sejarah membuktikan bahwa ruas-ruas jalan utama yang berfungsi optimal sebagai ruang budaya mampu menghasilkan budayawan dan seniman terkemuka. Chairil Anwar, Umbu Langi dan Ebiet G Ade adalah sastrawan yang besar di ruang budaya Malioboro. Di Jalan Braga Bandung, munculah begawan musik Harry Roesli yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang.







Saat ini belum ada komentar