Catatan Pinggir KIE: Kongres Diaspora dan KIE 2023
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 1 Jul 2022
- visibility 2.314
- comment 0 komentar

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki membuka Kebumen International Expo. (Foto: Istimewa)
Oleh: Sigit Tri Prabowo*
PERHELATAN Kebumen International Expo (KIE) yang begitu akbar dan menggelegar sungguh menjadi bahan perhatian dan pembicaraan hampir semua warga Kebumen. Bisa dimaklumi, ini adalah kegiatan yang secara skala mungkin terbesar dalam sejarah event di Kebumen. Selain itu, target dan sasaran yang begitu memukau memang layak mendapat sorotan, tak hanya sepanjang perhelatan bahkan mungkin beberapa waktu sesudahnya.
Ada dua agenda utama yang begitu menonjol di mata publik. Yang pertama adalah jajaran stan pameran dengan beragam isian: stan BUMN, perusahaan swasta, kabupaten tetangga (bahkan hingga luar Jawa) sampai deretan produk UMKM asli Kebumen. Yang kedua, ini yang menjadi magnet bagi puluhan ribu pengunjung setiap hari, adalah parade artis-artis papan nama ibukota yang –entah bagaimana caranya—bisa tampil bergantian selama sepekan di panggung KIE. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan selama ini, tak hanya bagi wong Kebumen, namun juga bagi warga daerah tetangga.
BACA JUGA: Prembun Gawe Gumun: Saatnya Menatap ke Timur
Di sela-sela kemeriahan itu sebenarnya banyak juga kegiatan yang tidak kurang bobotnya namun luput dari perhatian publik. Salah satunya adalah kehadiran dua tokoh diaspora (perantauan) Kebumen, yaitu Drs Wahid Supriyadi MA dan Dr Hendri Saparini. Pak Wahid adalah putra Prembun yang sempat menjabat Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (UEA), Belarus dan Rusia. Beliau juga seorang akademisi yang banyak menelaah dunia perdagangan internasional. Sementara Bu Hendri adalah ekonom senior, peneliti dan konsultan yang banyak berkiprah di berbagai BUMN dan Kementerian.
Pak Wahid hadir dalam dua acara bincang-bincang. Yang pertama adalah diskusi tentang pengembangan Kebumen Timur, bertempat di Joglo Prembun Angkringan. Yang kedua, bersama dengan Ibu Hendri menjadi pembicara dalam talkshow dalam ajang International Business and Investment Forum (IBIF) di Pendapa Kabumian Kebumen.
Selain berbagai isu ekonomi (mikro dan makro) serta pengembangan wilayah, satu hal yang berkali-kali diangkat oleh kedua tokoh ini adalah peran kaum diaspora dalam mengembangkan tanah kelahirannya. Pak Wahid bahkan memberi contoh nyata bagaimana desa masa kecilnya yang bernama Winong di Kecamatan Mirit mendapatkan banyak manfaat dari keberadaan diaspora. Beberapa program pemberdayaan tengah dan akan dilakukan di sana. Begitu juga dengan Ibu Hendri yang asli Pejagoan, betapa sebenarnya ada panggilan kuat untuk doing something, berbuat sesuatu untuk kampung halaman.
Siapa Diaspora ?
Istilah diaspora berasal dari Bahasa Yunani διασπορά yang secara harafiah berarti ‘penyebaran atau penaburan benih’. Di masa sekarang istilah ini merujuk kepada bangsa atau penduduk yang meninggalkan tanah air atau kampung halamanya, baik dengan motivasi ekonomi, sosial maupun hal-hal lainnya.
Diaspora Kebumen sendiri sebenarnya bukan barang baru. Sejak dimulainya masa kolonial (1830), Kebumen merupakan pemasok tenaga kerja ke wilayah lain, baik di Jawa maupun luar Jawa. Beberapa catatan bahkan menunjukkan sebaran diaspora tersebut mencapai wilayah Suriname dan Kaledonia Baru.







Saat ini belum ada komentar