Ruang Budaya di Koridor Kota
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 19 Nov 2021
- visibility 5.321
- comment 0 komentar

Tugu PKK di Jalan Pahlawan. (Foto: Padmo)
Budayawan, seniman dan insan-insan kreatif Kebumen semestinya menangkap peluang-peluang kreatif dibalik proses penataan ini. Ruang-ruang publik (baik yang didesain oleh arsitek maupun diwujudkan oleh imajinasi seniman) harus dimanfaatkan seluas mungkin sebagai ruang-ruang kebudayaan. Pola menunggu difasilitasi sudah saatnya diubah dengan menciptakan ruang-ruang secara merdeka dan berdaulat, tentu dengan tetap memperhatikan norma serta rambu tata kelola.
Jika menyimak desain penataan kawasan Pasuma, tampak bahwa ada banyak ruang-ruang publik yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan seni budaya tanpa mengganggu kepentingan pengguna jalan lain. Ada banyak ruang terbuka untuk berbagai bentuk seni pertunjukan juga ruang diskusi terbuka.
Bagi para pelaku ekonomi kreatif, tata ruang ini menyediakan kesempatan berkreasi yang melimpah. Dari pentas musik skala mini, outlet kuliner hingga gerai-gerai kerajinan lokal. Tanpa bermaksud menjadi follower Malioboro, Pasuma bisa dikembangkan menjadi pusat aktivitas budaya dan ekonomi kreatif Kebumen.
Perlu Banyak Duduk Bersama
Keutuhan pengelolaan koridor kota akhirnya mensyaratkan adanya kehendak baik dari semua pihak untuk memberikan peran serta yang positif. Dinas PUPR sebagai leading sector dengan melibatkan OPD lain mesti sering-sering membuat forum duduk bersama dengan semua pihak.
Seniman, para pelaku ekonomi kreatif, budayawan sangat perlu diajak berdialog untuk bersama-sama melihat kondisi yang ada dan saling memperkaya dari perspektif masing-masing. Para pemilik toko, kantor dan rumah tinggal di kawasan Pasuma juga mesti menjadi aktor penting. Di halaman mereka lah nanti ruang-ruang kebudayaan ini akan terwujud. Tak elok jika para tuan rumah hanya tahu perkembangan dari media atau kabar beredar di udara.
Ijinkan tulisan ini ditutup dengan sebuah mimpi:
“Sabtu sore di Jalan Pahlawan, Bapak Ibu muda membawa putra-putrinya berjalan-jalan di jalur pedestrian yang lebar dan nyaman… menikmati alunan musik di sudut perempatan. Kadang mereka mampir di kios jajanan dan kerajinan yang digelar cantik rapih di halaman bank dan perkantoran. Di sudut sana, di bawah teduh pohon kenari, sekelompok anak muda berdiskusi penuh canda. Sementara di sudut alun-alun terdengar teriakan anak-anak teater berlatih mengolah suara…”
Kebumen, 19 November 2021
*Sigit Tri Prabowo, Peminat Budaya







Saat ini belum ada komentar