Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

  • account_circle Rina Rudiarti
  • calendar_month Sen, 25 Mei 2026
  • visibility 881
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

DALAM beberapa tahun terakhir, gerai es teh dan es kopi kekinian tumbuh sangat cepat hingga menjangkau hampir setiap sudut kota maupun pedesaan. Di kawasan kampus, pusat perbelanjaan, hingga pinggir jalan, berbagai franchise minuman hadir dengan konsep yang relatif serupa, yaitu harga murah, ukuran besar, desain gerai menarik, dan promosi agresif di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bisnis franchise minuman telah menjadi salah satu model usaha paling diminati masyarakat. Banyak orang melihatnya sebagai peluang usaha yang mudah dijalankan dan mampu menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat. Perkembangan media sosial semakin mempercepat pertumbuhan tersebut. TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya kini menjadi ruang utama membangun tren sekaligus membentuk pola konsumsi masyarakat.

Tidak sedikit brand minuman menjadi viral hanya karena konten antrean panjang, ulasan influencer, atau promo seperti “beli satu gratis satu”. Dalam kondisi ini, viralitas perlahan berubah menjadi ukuran baru kesuksesan bisnis. Produk dianggap berhasil ketika ramai dibicarakan dan terus muncul di media sosial, meskipun kualitasnya belum tentu benar-benar berbeda dari kompetitor lain.

Kondisi tersebut melahirkan pola pikir baru bahwa franchise minuman adalah jalan cepat menuju keuntungan. Banyak orang tertarik membuka usaha hanya karena melihat bisnis serupa tampak ramai dan menghasilkan omzet besar. Padahal, tidak sedikit pelaku usaha yang masuk ke bisnis ini tanpa memahami manajemen operasional, pengelolaan keuangan, etika bisnis, pemilihan lokasi usaha, hingga strategi diferensiasi produk di tengah persaingan pasar yang sangat ketat.

Di balik ramainya franchise minuman viral, terdapat persoalan yang lebih besar mengenai budaya bisnis instan. Persaingan usaha kini tidak lagi selalu bertumpu pada kualitas produk dan inovasi, tetapi lebih banyak menekankan sensasi pemasaran, perang harga, dan kemampuan menciptakan perhatian publik. Akibatnya, pelaku usaha lebih sibuk mengejar popularitas dibanding membangun fondasi bisnis yang kuat.

Fenomena bisnis yang tutup setelah viral pun semakin sering terjadi. Banyak usaha mengalami lonjakan permintaan secara mendadak, tetapi tidak diimbangi kesiapan operasional dan manajemen yang matang. Antrean panjang, stok habis, pelayanan yang menurun, hingga kualitas produk yang tidak konsisten akhirnya mengecewakan konsumen. Ketika antusiasme publik mulai mereda, pelanggan perlahan menghilang dan bisnis kesulitan bertahan.

Selain itu, banyak pemilik usaha salah mengartikan omzet besar sebagai keuntungan bersih. Pendapatan tinggi di awal sering mendorong ekspansi berlebihan, mulai dari membuka cabang baru hingga merekrut banyak karyawan tanpa perhitungan yang matang. Ketika tren mulai menurun, biaya operasional justru menjadi beban yang sulit ditanggung.

Fenomena ini juga dipengaruhi budaya fear of missing out (FOMO) di media sosial. Konsumen membeli produk bukan semata karena kualitas, melainkan karena rasa penasaran dan keinginan mengikuti tren. Ketika muncul produk baru yang lebih viral, perhatian publik pun dengan cepat berpindah. Akibatnya, bisnis yang tidak memiliki kualitas produk dan loyalitas pelanggan yang kuat akan mudah kehilangan pasar.

Dalam kondisi tersebut, viralitas sering kali menjadi tujuan utama bisnis digital. Banyak pelaku usaha berlomba menciptakan sensasi agar produknya ramai diperbincangkan. Tidak sedikit yang menggunakan promosi berlebihan, testimoni yang dilebih-lebihkan, hingga strategi pemasaran yang lebih mementingkan pencitraan dibanding kejujuran produk. Bahkan, sebagian bisnis sengaja menciptakan kontroversi demi meningkatkan perhatian publik di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa etika bisnis perlahan mulai tersisih oleh ambisi mengejar popularitas. Dalam beberapa kasus, kualitas bahan baku, pelayanan, bahkan kesejahteraan karyawan dikorbankan agar bisnis tetap terlihat murah, ramai, dan kompetitif. Persaingan usaha berubah menjadi perlombaan mencari perhatian tercepat, bukan lagi upaya membangun kualitas terbaik.

Di sisi lain, pelaku UMKM lokal sering kesulitan bersaing dengan franchise besar yang memiliki kekuatan promosi digital lebih masif. Persaingan akhirnya menjadi tidak seimbang karena keberhasilan bisnis lebih banyak ditentukan oleh viralitas dibanding kualitas produk itu sendiri. Akibatnya, usaha kecil yang sebenarnya memiliki kualitas baik sering kalah oleh brand yang lebih kuat dalam membangun sensasi pemasaran.

Fenomena franchise minuman viral juga memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang kesuksesan usaha. Di era digital, keberhasilan sering diukur dari seberapa ramai bisnis diperbincangkan dan seberapa cepat menghasilkan keuntungan. Padahal, dunia usaha sesungguhnya dibangun melalui proses panjang, konsistensi, inovasi, dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan pasar.

Integritas Hingga Etika dalam Menjalankan Usaha

Dalam perspektif leadership, seorang pemimpin bisnis seharusnya tidak hanya fokus mengejar popularitas sesaat, tetapi juga membangun usaha yang memiliki visi jangka panjang. Kepemimpinan yang baik bukan sekadar kemampuan menjual produk, melainkan kemampuan menjaga kualitas, membangun kepercayaan konsumen, dan menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Sayangnya, budaya bisnis viral sering mendorong pelaku usaha lebih sibuk mengejar perhatian publik dibanding memperkuat fondasi usaha. Banyak bisnis berlomba membuka cabang ketika sedang viral, tetapi kurang memperhatikan konsistensi pelayanan dan kualitas produk. Akibatnya, bisnis terlihat ramai di awal, namun sulit bertahan ketika tren mulai berubah.

Padahal, keberhasilan bisnis jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan sensasi pemasaran. Bisnis yang sehat membutuhkan integritas, inovasi, tanggung jawab, dan etika dalam menjalankan usaha. Persaingan seharusnya mendorong peningkatan kualitas dan pelayanan, bukan sekadar perang harga demi popularitas sesaat.

Franchise minuman pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif. Kehadirannya mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan gairah kewirausahaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kalangan anak muda. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah munculnya budaya bisnis instan yang menempatkan viralitas sebagai tujuan utama.

Pada akhirnya, media sosial memang mampu membuat sebuah bisnis dikenal dalam waktu singkat. Namun, bisnis yang benar-benar bertahan tidak dibangun hanya melalui sensasi dan viralitas. Kepercayaan konsumen tetap lahir dari kualitas, integritas, dan etika yang dijaga secara konsisten. Sebab dalam dunia usaha, ramai belum tentu dipercaya, dan viral belum tentu bertahan. ***

Penulis: Rina Rudiarti, Mahasiswa S2 Magister Manajemen Universitas Putra Bangsa

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News
  • Penulis: Rina Rudiarti

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Tanah Suci Makkah, Bupati Sampaikan Permohonan Maaf

    Dari Tanah Suci Makkah, Bupati Sampaikan Permohonan Maaf

    • calendar_month Ming, 16 Jun 2024
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.935
    • 0Komentar

    MAKKAH (KebumenUpdate.com) – Dari tanah suci Makkah, Bupati Kebumen Arif Sugiyanto menyampaikan pesan kepada masyarakat Kebumen bahwa dirinya bersama seluruh jamaah haji asal Kebumen sudah berada di Arafah untuk menjalani puncak ibadah haji yaitu wukuf di Arafah dilanjutkan bermalam di Muzdalifah dan Mina, Sabtu 15 Juni 2023 waktu Makkah. Adapun pelaksanaan Hari Raya Idul Adha […]

  • Hadiah mobil Mitsubishi XPander

    Guru SMKN 1 Ambal Terima Hadiah Mobil Mitsubishi XPander, Begini Ceritanya

    • calendar_month Jum, 13 Jan 2023
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 5.046
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Seorang guru SMK Negeri 1 Ambal Kabupaten Kebumen beruntung mendapatkan hadiah mobil Mitsubishi XPander. Guru bernama Ety Ariningsih (51) warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen tersebut menjadi pemenang Undian Tabungan Bima Periode I Tahun 2022 dari Bank Jateng Kebumen. Bupati Kebumen H Arif Sugiyanto SH menyerahkan langsung hadiah mobil tersebut Kantor Cabang […]

  • Pelantikan Pengawas TPS

    Dibekali Aplikasi Siwaslu, 4.831 Pengawas TPS Siap Bertugas

    • calendar_month Sel, 23 Jan 2024
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.333
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Sebanyak 4.831 Pengawas TPS  siap bertugas dalam pengawasan Pemilu Serentak 2024. Bawaslu Kebumen melakukan supervisi pelantikan Pengawas TPS di setiap kecamatan, Senin 22 Januari 2024. Supervisi melibatkan seluruh anggota Bawaslu Kebumen, sekaligus memberikan materi/pembekalan kepada Pengawas TPS terlantik. Dalam pemberian materinya, Koordinator Divisi Pencegahan, Parmas dan Humas Bawaslu Kebumen (P2H) Badruzzaman mengingatkan […]

  • Senyap di Aspal Jalur Selatan: Catatan Perjalanan Indomobil Emotor Adora Solo-Kebumen

    Senyap di Aspal Jalur Selatan: Catatan Perjalanan Indomobil Emotor Adora Solo-Kebumen

    • calendar_month Kam, 19 Mar 2026
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 494
    • 0Komentar

    KEINGINAN untuk beralih ke kendaraan listrik sebenarnya sudah lama mengendap. Sejak akhir tahun lalu, layar ponsel saya kerap dipenuhi diskusi hangat di forum komunitas motor listrik. Pilihan pun jatuh pada unit Indomobil. Setelah sempat gagal meminang tipe Tyranno karena kendala wilayah pembiayaan, semesta akhirnya mempertemukan saya dengan Indomobil Emotor Adora. Statusnya bukan unit baru gres, […]

  • Ini Daftar Paket Pekerjaan Jalan tiap Kecamatan di Kebumen

    Ini Daftar Paket Pekerjaan Jalan tiap Kecamatan di Kebumen

    • calendar_month Sen, 13 Jul 2026
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 3.678
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Pemerintah Kabupaten Kebumen melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) tengah mematangkan rencana pelaksanaan sejumlah paket pekerjaan infrastruktur jalan dan jembatan untuk Semester II Tahun Anggaran 2026. Proyek ini tersebar di berbagai kecamatan sebagai upaya meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas wilayah. Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Kabupaten Kebumen, Kurnia Hadi, dalam keterangannya […]

  • Debat Terbuka

    Zaini Miftah Sebut Debat Tak Penting, Dawamudin Masdar: Itu Melecehkan SDM Kebumen

    • calendar_month Ming, 3 Nov 2024
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.715
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Video wawancara dari calon wakil bupati Kebumen nomor urut 01 Zaini Miftah mengenai debat Pilkada ramai di media sosial. Pasalnya, ia menyebut bahwa debat calon kepala daerah tidak penting, begitu juga visi-misi. Menurut Zaini yang penting bagi dia adalah isi dan ngisi. Menanggapi hal itu, Ketua PCNU Kebumen periode 2018-2024 Dawamudin Masdar […]

expand_less