Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

  • account_circle Rina Rudiarti
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 54
  • comment 0 komentar

DALAM beberapa tahun terakhir, gerai es teh dan es kopi kekinian tumbuh sangat cepat hingga menjangkau hampir setiap sudut kota maupun pedesaan. Di kawasan kampus, pusat perbelanjaan, hingga pinggir jalan, berbagai franchise minuman hadir dengan konsep yang relatif serupa, yaitu harga murah, ukuran besar, desain gerai menarik, dan promosi agresif di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bisnis franchise minuman telah menjadi salah satu model usaha paling diminati masyarakat. Banyak orang melihatnya sebagai peluang usaha yang mudah dijalankan dan mampu menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat. Perkembangan media sosial semakin mempercepat pertumbuhan tersebut. TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya kini menjadi ruang utama membangun tren sekaligus membentuk pola konsumsi masyarakat.

Tidak sedikit brand minuman menjadi viral hanya karena konten antrean panjang, ulasan influencer, atau promo seperti “beli satu gratis satu”. Dalam kondisi ini, viralitas perlahan berubah menjadi ukuran baru kesuksesan bisnis. Produk dianggap berhasil ketika ramai dibicarakan dan terus muncul di media sosial, meskipun kualitasnya belum tentu benar-benar berbeda dari kompetitor lain.

Kondisi tersebut melahirkan pola pikir baru bahwa franchise minuman adalah jalan cepat menuju keuntungan. Banyak orang tertarik membuka usaha hanya karena melihat bisnis serupa tampak ramai dan menghasilkan omzet besar. Padahal, tidak sedikit pelaku usaha yang masuk ke bisnis ini tanpa memahami manajemen operasional, pengelolaan keuangan, etika bisnis, pemilihan lokasi usaha, hingga strategi diferensiasi produk di tengah persaingan pasar yang sangat ketat.

Di balik ramainya franchise minuman viral, terdapat persoalan yang lebih besar mengenai budaya bisnis instan. Persaingan usaha kini tidak lagi selalu bertumpu pada kualitas produk dan inovasi, tetapi lebih banyak menekankan sensasi pemasaran, perang harga, dan kemampuan menciptakan perhatian publik. Akibatnya, pelaku usaha lebih sibuk mengejar popularitas dibanding membangun fondasi bisnis yang kuat.

Fenomena bisnis yang tutup setelah viral pun semakin sering terjadi. Banyak usaha mengalami lonjakan permintaan secara mendadak, tetapi tidak diimbangi kesiapan operasional dan manajemen yang matang. Antrean panjang, stok habis, pelayanan yang menurun, hingga kualitas produk yang tidak konsisten akhirnya mengecewakan konsumen. Ketika antusiasme publik mulai mereda, pelanggan perlahan menghilang dan bisnis kesulitan bertahan.

Selain itu, banyak pemilik usaha salah mengartikan omzet besar sebagai keuntungan bersih. Pendapatan tinggi di awal sering mendorong ekspansi berlebihan, mulai dari membuka cabang baru hingga merekrut banyak karyawan tanpa perhitungan yang matang. Ketika tren mulai menurun, biaya operasional justru menjadi beban yang sulit ditanggung.

Fenomena ini juga dipengaruhi budaya fear of missing out (FOMO) di media sosial. Konsumen membeli produk bukan semata karena kualitas, melainkan karena rasa penasaran dan keinginan mengikuti tren. Ketika muncul produk baru yang lebih viral, perhatian publik pun dengan cepat berpindah. Akibatnya, bisnis yang tidak memiliki kualitas produk dan loyalitas pelanggan yang kuat akan mudah kehilangan pasar.

Dalam kondisi tersebut, viralitas sering kali menjadi tujuan utama bisnis digital. Banyak pelaku usaha berlomba menciptakan sensasi agar produknya ramai diperbincangkan. Tidak sedikit yang menggunakan promosi berlebihan, testimoni yang dilebih-lebihkan, hingga strategi pemasaran yang lebih mementingkan pencitraan dibanding kejujuran produk. Bahkan, sebagian bisnis sengaja menciptakan kontroversi demi meningkatkan perhatian publik di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa etika bisnis perlahan mulai tersisih oleh ambisi mengejar popularitas. Dalam beberapa kasus, kualitas bahan baku, pelayanan, bahkan kesejahteraan karyawan dikorbankan agar bisnis tetap terlihat murah, ramai, dan kompetitif. Persaingan usaha berubah menjadi perlombaan mencari perhatian tercepat, bukan lagi upaya membangun kualitas terbaik.

Di sisi lain, pelaku UMKM lokal sering kesulitan bersaing dengan franchise besar yang memiliki kekuatan promosi digital lebih masif. Persaingan akhirnya menjadi tidak seimbang karena keberhasilan bisnis lebih banyak ditentukan oleh viralitas dibanding kualitas produk itu sendiri. Akibatnya, usaha kecil yang sebenarnya memiliki kualitas baik sering kalah oleh brand yang lebih kuat dalam membangun sensasi pemasaran.

Fenomena franchise minuman viral juga memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang kesuksesan usaha. Di era digital, keberhasilan sering diukur dari seberapa ramai bisnis diperbincangkan dan seberapa cepat menghasilkan keuntungan. Padahal, dunia usaha sesungguhnya dibangun melalui proses panjang, konsistensi, inovasi, dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan pasar.

Integritas Hingga Etika dalam Menjalankan Usaha

Dalam perspektif leadership, seorang pemimpin bisnis seharusnya tidak hanya fokus mengejar popularitas sesaat, tetapi juga membangun usaha yang memiliki visi jangka panjang. Kepemimpinan yang baik bukan sekadar kemampuan menjual produk, melainkan kemampuan menjaga kualitas, membangun kepercayaan konsumen, dan menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Sayangnya, budaya bisnis viral sering mendorong pelaku usaha lebih sibuk mengejar perhatian publik dibanding memperkuat fondasi usaha. Banyak bisnis berlomba membuka cabang ketika sedang viral, tetapi kurang memperhatikan konsistensi pelayanan dan kualitas produk. Akibatnya, bisnis terlihat ramai di awal, namun sulit bertahan ketika tren mulai berubah.

Padahal, keberhasilan bisnis jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan sensasi pemasaran. Bisnis yang sehat membutuhkan integritas, inovasi, tanggung jawab, dan etika dalam menjalankan usaha. Persaingan seharusnya mendorong peningkatan kualitas dan pelayanan, bukan sekadar perang harga demi popularitas sesaat.

Franchise minuman pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif. Kehadirannya mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan gairah kewirausahaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kalangan anak muda. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah munculnya budaya bisnis instan yang menempatkan viralitas sebagai tujuan utama.

Pada akhirnya, media sosial memang mampu membuat sebuah bisnis dikenal dalam waktu singkat. Namun, bisnis yang benar-benar bertahan tidak dibangun hanya melalui sensasi dan viralitas. Kepercayaan konsumen tetap lahir dari kualitas, integritas, dan etika yang dijaga secara konsisten. Sebab dalam dunia usaha, ramai belum tentu dipercaya, dan viral belum tentu bertahan. ***

Penulis: Rina Rudiarti, Mahasiswa S2 Magister Manajemen Universitas Putra Bangsa

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News
  • Penulis: Rina Rudiarti

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Video Pemuda Terluka

    Video Viral Pemuda Terluka di Jalan Soekarno Hatta Kebumen Bukan Korban Kejahatan Jalanan, Ini Kejadian Sesungguhnya

    • calendar_month Sen, 12 Jun 2023
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 13.757
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Beredarnya video maupun tangkapan layar di media sosial dua pemuda yang terluka di Jalan Soekarno-Hatta Kebumen yang dinarasikan sebagai korban kejahatan jalanan membuat masyarakat resah. Di dalam video terlihat dua pemuda tergeletak di pinggir jalan persisnya di bawah tiang penerangan jalan. Lalu dalam video berdurasi 13 detik itu diberikan keterangan sebagai korban […]

  • Kepatuhan Syariah KSPPS Ditingkatkan

    Kepatuhan Syariah KSPPS Ditingkatkan

    • calendar_month Sen, 2 Sep 2019
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 4.275
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Tingkat kepatuhan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS)/BMT di Kebumen terus ditingkatkan. Upaya itu dilakukan dengan mengoptimalkan kinerja Dewan Pengawas Syari’ah (DPS), Pengawas Manajemen  dan pengurus KSPPS. Sebanyak 55 DPS, Pengawas dan Pengurus 24 KSPPS di Kebumen mengikuti diklat yang digelar Perhimpunan BMT Indonesia Kebumen di Meotel Kebumen, Minggu (1/9/2019). Kegiatan […]

  • Badan Pengelola Geopark Kebumen Lakukan Edukasi Berkelanjutan Melalui Sekolah Bumi dan Geopark Goes to School

    Badan Pengelola Geopark Kebumen Lakukan Edukasi Berkelanjutan Melalui Sekolah Bumi dan Geopark Goes to School

    • calendar_month Ming, 23 Jun 2024
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 3.128
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Badan Pengelola (BP) Geopark Kebumen menggandeng Kebumen Geopark Youth Forum (KGYF) menginisiasi program edukasi melalui kegiatan Sekolah Bumi dan Geopark Goes to School (GTS). Kegiatan ini sebagai upaya optimalisasi kawasan Geopark Kebumen melalui edukasi berkelanjutan menuju masyarakat yang sejahtera dan bumi tetap lestari. Sekolah Bumi bertujuan untuk mengedukasi masyarakat Kebumen mengenai Geopark […]

  • DPRD Kebumen Jelaskan Renja 2024, Anggota Dewan: Saat Ini Banyak Warga Tidak Tahu Fungsi DPRD

    DPRD Kebumen Jelaskan Renja 2024, Anggota Dewan: Saat Ini Banyak Warga Tidak Tahu Fungsi DPRD

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.429
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Di hadapan awak media, DPRD Kabupaten Kebumen menyampaikan Rencana Kerja (Renja) tahun 2024 yang bertujuan sebagai implementasi pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. Penyampaian Renja 2024 dipimpin langsung Ketua DPRD Kebumen Sarimun, Wakil Ketua Fuad Wahyudi, dan Munawar Cholil. Serta diikuti anggota Komisi B DPRD Miftahul Ulum dan Sekretaris DPRD Munadi, Selasa 28 […]

  • Belajar dari Gua Petruk: Sebuah Perjalanan yang Terhalang Kebijakan Sekolah

    Belajar dari Gua Petruk: Sebuah Perjalanan yang Terhalang Kebijakan Sekolah

    • calendar_month Sab, 13 Sep 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 4.379
    • 0Komentar

    “Sebuah bangsa tidak akan kekurangan sosok pemimpin selama pemudanya sering berpetualang di hutan, gunung, dan lautan.” (Henry Dunant) BARU tiga minggu yang lalu, tepatnya Minggu 24 Agustus 2025, saya bersama 12 pengurus ekstrakurikuler pecinta alam Gaspala melakukan survei ke Gua Petruk. Satu dari sekian banyak objek wisata yang masuk ke dalam kawasan Kebumen UNESCO Global […]

  • Delapan Purnawirawan Polri Dikirab Naik Andong

    Delapan Purnawirawan Polri Dikirab Naik Andong

    • calendar_month Sab, 19 Okt 2019
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.539
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Delapan personel Polri dan satu PNS Polres Kebumen mengikuti wisuda purna bhakti. Para personel yang diwisuda merupakan yang memasuki masa pensiun terhitung mulai Agustus sampai Oktober 2019. Delapan personel Polri yang diwisuda meliputi tiga berpangkat perwira pertama (Pama), dua berpangkat perwira menengah (Pamen), dan tiga personel berpangkat Bintara. Upacara digelar di Mapolres […]

expand_less