Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

  • account_circle Rina Rudiarti
  • calendar_month Sen, 25 Mei 2026
  • visibility 621
  • comment 0 komentar

DALAM beberapa tahun terakhir, gerai es teh dan es kopi kekinian tumbuh sangat cepat hingga menjangkau hampir setiap sudut kota maupun pedesaan. Di kawasan kampus, pusat perbelanjaan, hingga pinggir jalan, berbagai franchise minuman hadir dengan konsep yang relatif serupa, yaitu harga murah, ukuran besar, desain gerai menarik, dan promosi agresif di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bisnis franchise minuman telah menjadi salah satu model usaha paling diminati masyarakat. Banyak orang melihatnya sebagai peluang usaha yang mudah dijalankan dan mampu menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat. Perkembangan media sosial semakin mempercepat pertumbuhan tersebut. TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya kini menjadi ruang utama membangun tren sekaligus membentuk pola konsumsi masyarakat.

Tidak sedikit brand minuman menjadi viral hanya karena konten antrean panjang, ulasan influencer, atau promo seperti “beli satu gratis satu”. Dalam kondisi ini, viralitas perlahan berubah menjadi ukuran baru kesuksesan bisnis. Produk dianggap berhasil ketika ramai dibicarakan dan terus muncul di media sosial, meskipun kualitasnya belum tentu benar-benar berbeda dari kompetitor lain.

Kondisi tersebut melahirkan pola pikir baru bahwa franchise minuman adalah jalan cepat menuju keuntungan. Banyak orang tertarik membuka usaha hanya karena melihat bisnis serupa tampak ramai dan menghasilkan omzet besar. Padahal, tidak sedikit pelaku usaha yang masuk ke bisnis ini tanpa memahami manajemen operasional, pengelolaan keuangan, etika bisnis, pemilihan lokasi usaha, hingga strategi diferensiasi produk di tengah persaingan pasar yang sangat ketat.

Di balik ramainya franchise minuman viral, terdapat persoalan yang lebih besar mengenai budaya bisnis instan. Persaingan usaha kini tidak lagi selalu bertumpu pada kualitas produk dan inovasi, tetapi lebih banyak menekankan sensasi pemasaran, perang harga, dan kemampuan menciptakan perhatian publik. Akibatnya, pelaku usaha lebih sibuk mengejar popularitas dibanding membangun fondasi bisnis yang kuat.

Fenomena bisnis yang tutup setelah viral pun semakin sering terjadi. Banyak usaha mengalami lonjakan permintaan secara mendadak, tetapi tidak diimbangi kesiapan operasional dan manajemen yang matang. Antrean panjang, stok habis, pelayanan yang menurun, hingga kualitas produk yang tidak konsisten akhirnya mengecewakan konsumen. Ketika antusiasme publik mulai mereda, pelanggan perlahan menghilang dan bisnis kesulitan bertahan.

Selain itu, banyak pemilik usaha salah mengartikan omzet besar sebagai keuntungan bersih. Pendapatan tinggi di awal sering mendorong ekspansi berlebihan, mulai dari membuka cabang baru hingga merekrut banyak karyawan tanpa perhitungan yang matang. Ketika tren mulai menurun, biaya operasional justru menjadi beban yang sulit ditanggung.

Fenomena ini juga dipengaruhi budaya fear of missing out (FOMO) di media sosial. Konsumen membeli produk bukan semata karena kualitas, melainkan karena rasa penasaran dan keinginan mengikuti tren. Ketika muncul produk baru yang lebih viral, perhatian publik pun dengan cepat berpindah. Akibatnya, bisnis yang tidak memiliki kualitas produk dan loyalitas pelanggan yang kuat akan mudah kehilangan pasar.

Dalam kondisi tersebut, viralitas sering kali menjadi tujuan utama bisnis digital. Banyak pelaku usaha berlomba menciptakan sensasi agar produknya ramai diperbincangkan. Tidak sedikit yang menggunakan promosi berlebihan, testimoni yang dilebih-lebihkan, hingga strategi pemasaran yang lebih mementingkan pencitraan dibanding kejujuran produk. Bahkan, sebagian bisnis sengaja menciptakan kontroversi demi meningkatkan perhatian publik di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa etika bisnis perlahan mulai tersisih oleh ambisi mengejar popularitas. Dalam beberapa kasus, kualitas bahan baku, pelayanan, bahkan kesejahteraan karyawan dikorbankan agar bisnis tetap terlihat murah, ramai, dan kompetitif. Persaingan usaha berubah menjadi perlombaan mencari perhatian tercepat, bukan lagi upaya membangun kualitas terbaik.

Di sisi lain, pelaku UMKM lokal sering kesulitan bersaing dengan franchise besar yang memiliki kekuatan promosi digital lebih masif. Persaingan akhirnya menjadi tidak seimbang karena keberhasilan bisnis lebih banyak ditentukan oleh viralitas dibanding kualitas produk itu sendiri. Akibatnya, usaha kecil yang sebenarnya memiliki kualitas baik sering kalah oleh brand yang lebih kuat dalam membangun sensasi pemasaran.

Fenomena franchise minuman viral juga memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang kesuksesan usaha. Di era digital, keberhasilan sering diukur dari seberapa ramai bisnis diperbincangkan dan seberapa cepat menghasilkan keuntungan. Padahal, dunia usaha sesungguhnya dibangun melalui proses panjang, konsistensi, inovasi, dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan pasar.

Integritas Hingga Etika dalam Menjalankan Usaha

Dalam perspektif leadership, seorang pemimpin bisnis seharusnya tidak hanya fokus mengejar popularitas sesaat, tetapi juga membangun usaha yang memiliki visi jangka panjang. Kepemimpinan yang baik bukan sekadar kemampuan menjual produk, melainkan kemampuan menjaga kualitas, membangun kepercayaan konsumen, dan menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Sayangnya, budaya bisnis viral sering mendorong pelaku usaha lebih sibuk mengejar perhatian publik dibanding memperkuat fondasi usaha. Banyak bisnis berlomba membuka cabang ketika sedang viral, tetapi kurang memperhatikan konsistensi pelayanan dan kualitas produk. Akibatnya, bisnis terlihat ramai di awal, namun sulit bertahan ketika tren mulai berubah.

Padahal, keberhasilan bisnis jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan sensasi pemasaran. Bisnis yang sehat membutuhkan integritas, inovasi, tanggung jawab, dan etika dalam menjalankan usaha. Persaingan seharusnya mendorong peningkatan kualitas dan pelayanan, bukan sekadar perang harga demi popularitas sesaat.

Franchise minuman pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif. Kehadirannya mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan gairah kewirausahaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kalangan anak muda. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah munculnya budaya bisnis instan yang menempatkan viralitas sebagai tujuan utama.

Pada akhirnya, media sosial memang mampu membuat sebuah bisnis dikenal dalam waktu singkat. Namun, bisnis yang benar-benar bertahan tidak dibangun hanya melalui sensasi dan viralitas. Kepercayaan konsumen tetap lahir dari kualitas, integritas, dan etika yang dijaga secara konsisten. Sebab dalam dunia usaha, ramai belum tentu dipercaya, dan viral belum tentu bertahan. ***

Penulis: Rina Rudiarti, Mahasiswa S2 Magister Manajemen Universitas Putra Bangsa

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News
  • Penulis: Rina Rudiarti

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peran Aktif PAFI Sarmi dalam Pencegahan Penyakit Melalui Edukasi dan Farmasi

    Peran Aktif PAFI Sarmi dalam Pencegahan Penyakit Melalui Edukasi dan Farmasi

    • calendar_month Jum, 1 Nov 2024
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.674
    • 0Komentar

    KEBUMENUPDATE.COM – Kesehatan masyarakat adalah aspek penting yang perlu mendapat perhatian, khususnya di daerah-daerah terpencil seperti Kabupaten Sarmi di Papua. Kabupaten Sarmi memiliki karakteristik geografis yang menantang dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Melansir pafikabsarmi.org, Dari latar belakang tersebut, wilayah Sarmi menghadapi berbagai tantangan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Berbagai ancaman penyakit endemik di Papua […]

  • Rawa Pening

    Rawa Pening Bakal Disulap Jadi Destinasi Wisata Kelas Dunia! Ini Pesan Tegas Gubernur Ahmad Luthfi

    • calendar_month Sen, 26 Mei 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.065
    • 0Komentar

    KABUPATEN SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pemanfaatan Danau Rawa Pening harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Ia menyebut, Rawa Pening bukan hanya kawasan wisata, tetapi juga menjadi sumber penghidupan warga lewat pertanian dan perikanan. “Rawa Pening ini bukan hanya untuk wisata. Masyarakat di sini menggantungkan hidup dari bertani, mencari […]

  • 125.606 Segel Plastik Diterima KPU Kebumen, Kotak Suara Dijadwalkan Lusa

    125.606 Segel Plastik Diterima KPU Kebumen, Kotak Suara Dijadwalkan Lusa

    • calendar_month Jum, 24 Nov 2023
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.527
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – KPU Kabupaten Kebumen menggelar acara Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Perempuan dalam Pemilu 2024, Jumat 24 November 2023 di Mexolie Hotel Kebumen. Bersamaan dengan itu, di lokasi yang sama KPU Kebumen juga menerima logistik pemilu. Ketua KPU Kebumen Dzakiatul Banat menjelaskan, pihaknya menerima logistik pemilu yaitu segel plastik (cable ties) untuk kotak suara […]

  • Pemakaman Militer

    Dua Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Dimakamkan Secara Militer di Magelang dan Kulon Progo

    • calendar_month Ming, 5 Apr 2026
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 292
    • 0Komentar

    MAGELANG (KebumenUpdate.com) – Dua prajurit terbaik TNI yang gugur dalam misi perdamaian dunia di Lebanon, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon, dimakamkan secara militer pada Minggu 5 April 2026. Prosesi berlangsung khidmat di dua lokasi berbeda, yakni Magelang dan Kulon Progo, sebagai bentuk penghormatan negara atas jasa keduanya. Pemakaman Serka (Anumerta) […]

  • Bedah Rumah

    Kali Keenam, PSMTI Kebumen Bedah Rumah Tak Layak Huni

    • calendar_month Jum, 19 Mar 2021
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.450
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Warga Tionghoa yang tergabung dalam Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kebumen kembali melakukan aksi sosial berupa bedah rumah warga yang tidak layak huni. Kegiatan yang keenam kali ini membedah rumah milik Susilo Nyoto alias Jutwe (75) di Gang Manggis RT 02 RW 07 Pasar Rabuk, Kelurahan Kebumen. Sebelum dibedah, rumah kecil […]

  • Fun Futsal Empat Pilar

    PWI Kebumen Gelar Fun Futsal Empat Pilar Hari Pers Nasional 2024, Ini Juaranya

    • calendar_month Ming, 18 Feb 2024
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.154
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kebumen menggelar Fun Futsal Empat Pilar dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2024 dan HUT ke-78 PWI, Sabtu 17 Februari 2024. Pertandingan futsal persahabatan yang diikuti oleh unsur eksekutif, legislatif, yudikatif dan pers tersebut berlangsung selama sehari di Lapangan Futsal Lembu Sakti Kedungbener Kebumen. Fun futsal […]

expand_less