Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

  • account_circle Rina Rudiarti
  • calendar_month Sen, 25 Mei 2026
  • visibility 954
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

DALAM beberapa tahun terakhir, gerai es teh dan es kopi kekinian tumbuh sangat cepat hingga menjangkau hampir setiap sudut kota maupun pedesaan. Di kawasan kampus, pusat perbelanjaan, hingga pinggir jalan, berbagai franchise minuman hadir dengan konsep yang relatif serupa, yaitu harga murah, ukuran besar, desain gerai menarik, dan promosi agresif di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bisnis franchise minuman telah menjadi salah satu model usaha paling diminati masyarakat. Banyak orang melihatnya sebagai peluang usaha yang mudah dijalankan dan mampu menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat. Perkembangan media sosial semakin mempercepat pertumbuhan tersebut. TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya kini menjadi ruang utama membangun tren sekaligus membentuk pola konsumsi masyarakat.

Tidak sedikit brand minuman menjadi viral hanya karena konten antrean panjang, ulasan influencer, atau promo seperti “beli satu gratis satu”. Dalam kondisi ini, viralitas perlahan berubah menjadi ukuran baru kesuksesan bisnis. Produk dianggap berhasil ketika ramai dibicarakan dan terus muncul di media sosial, meskipun kualitasnya belum tentu benar-benar berbeda dari kompetitor lain.

Kondisi tersebut melahirkan pola pikir baru bahwa franchise minuman adalah jalan cepat menuju keuntungan. Banyak orang tertarik membuka usaha hanya karena melihat bisnis serupa tampak ramai dan menghasilkan omzet besar. Padahal, tidak sedikit pelaku usaha yang masuk ke bisnis ini tanpa memahami manajemen operasional, pengelolaan keuangan, etika bisnis, pemilihan lokasi usaha, hingga strategi diferensiasi produk di tengah persaingan pasar yang sangat ketat.

Di balik ramainya franchise minuman viral, terdapat persoalan yang lebih besar mengenai budaya bisnis instan. Persaingan usaha kini tidak lagi selalu bertumpu pada kualitas produk dan inovasi, tetapi lebih banyak menekankan sensasi pemasaran, perang harga, dan kemampuan menciptakan perhatian publik. Akibatnya, pelaku usaha lebih sibuk mengejar popularitas dibanding membangun fondasi bisnis yang kuat.

Fenomena bisnis yang tutup setelah viral pun semakin sering terjadi. Banyak usaha mengalami lonjakan permintaan secara mendadak, tetapi tidak diimbangi kesiapan operasional dan manajemen yang matang. Antrean panjang, stok habis, pelayanan yang menurun, hingga kualitas produk yang tidak konsisten akhirnya mengecewakan konsumen. Ketika antusiasme publik mulai mereda, pelanggan perlahan menghilang dan bisnis kesulitan bertahan.

Selain itu, banyak pemilik usaha salah mengartikan omzet besar sebagai keuntungan bersih. Pendapatan tinggi di awal sering mendorong ekspansi berlebihan, mulai dari membuka cabang baru hingga merekrut banyak karyawan tanpa perhitungan yang matang. Ketika tren mulai menurun, biaya operasional justru menjadi beban yang sulit ditanggung.

Fenomena ini juga dipengaruhi budaya fear of missing out (FOMO) di media sosial. Konsumen membeli produk bukan semata karena kualitas, melainkan karena rasa penasaran dan keinginan mengikuti tren. Ketika muncul produk baru yang lebih viral, perhatian publik pun dengan cepat berpindah. Akibatnya, bisnis yang tidak memiliki kualitas produk dan loyalitas pelanggan yang kuat akan mudah kehilangan pasar.

Dalam kondisi tersebut, viralitas sering kali menjadi tujuan utama bisnis digital. Banyak pelaku usaha berlomba menciptakan sensasi agar produknya ramai diperbincangkan. Tidak sedikit yang menggunakan promosi berlebihan, testimoni yang dilebih-lebihkan, hingga strategi pemasaran yang lebih mementingkan pencitraan dibanding kejujuran produk. Bahkan, sebagian bisnis sengaja menciptakan kontroversi demi meningkatkan perhatian publik di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa etika bisnis perlahan mulai tersisih oleh ambisi mengejar popularitas. Dalam beberapa kasus, kualitas bahan baku, pelayanan, bahkan kesejahteraan karyawan dikorbankan agar bisnis tetap terlihat murah, ramai, dan kompetitif. Persaingan usaha berubah menjadi perlombaan mencari perhatian tercepat, bukan lagi upaya membangun kualitas terbaik.

Di sisi lain, pelaku UMKM lokal sering kesulitan bersaing dengan franchise besar yang memiliki kekuatan promosi digital lebih masif. Persaingan akhirnya menjadi tidak seimbang karena keberhasilan bisnis lebih banyak ditentukan oleh viralitas dibanding kualitas produk itu sendiri. Akibatnya, usaha kecil yang sebenarnya memiliki kualitas baik sering kalah oleh brand yang lebih kuat dalam membangun sensasi pemasaran.

Fenomena franchise minuman viral juga memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang kesuksesan usaha. Di era digital, keberhasilan sering diukur dari seberapa ramai bisnis diperbincangkan dan seberapa cepat menghasilkan keuntungan. Padahal, dunia usaha sesungguhnya dibangun melalui proses panjang, konsistensi, inovasi, dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan pasar.

Integritas Hingga Etika dalam Menjalankan Usaha

Dalam perspektif leadership, seorang pemimpin bisnis seharusnya tidak hanya fokus mengejar popularitas sesaat, tetapi juga membangun usaha yang memiliki visi jangka panjang. Kepemimpinan yang baik bukan sekadar kemampuan menjual produk, melainkan kemampuan menjaga kualitas, membangun kepercayaan konsumen, dan menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Sayangnya, budaya bisnis viral sering mendorong pelaku usaha lebih sibuk mengejar perhatian publik dibanding memperkuat fondasi usaha. Banyak bisnis berlomba membuka cabang ketika sedang viral, tetapi kurang memperhatikan konsistensi pelayanan dan kualitas produk. Akibatnya, bisnis terlihat ramai di awal, namun sulit bertahan ketika tren mulai berubah.

Padahal, keberhasilan bisnis jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan sensasi pemasaran. Bisnis yang sehat membutuhkan integritas, inovasi, tanggung jawab, dan etika dalam menjalankan usaha. Persaingan seharusnya mendorong peningkatan kualitas dan pelayanan, bukan sekadar perang harga demi popularitas sesaat.

Franchise minuman pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif. Kehadirannya mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan gairah kewirausahaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kalangan anak muda. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah munculnya budaya bisnis instan yang menempatkan viralitas sebagai tujuan utama.

Pada akhirnya, media sosial memang mampu membuat sebuah bisnis dikenal dalam waktu singkat. Namun, bisnis yang benar-benar bertahan tidak dibangun hanya melalui sensasi dan viralitas. Kepercayaan konsumen tetap lahir dari kualitas, integritas, dan etika yang dijaga secara konsisten. Sebab dalam dunia usaha, ramai belum tentu dipercaya, dan viral belum tentu bertahan. ***

Penulis: Rina Rudiarti, Mahasiswa S2 Magister Manajemen Universitas Putra Bangsa

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News
  • Penulis: Rina Rudiarti

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Desa Kenteng Jadi Lokasi Kegiatan KBM Guyub Rukun Tahap 1

    Desa Kenteng Jadi Lokasi Kegiatan KBM Guyub Rukun Tahap 1

    • calendar_month Jum, 19 Jan 2024
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.952
    • 0Komentar

    SEMPOR (KebumenUpdate.com) – Bupati Kebumen Arif Sugiyanto membuka kegiatan Karya Bakti Manunggal (KBM) Guyub Rukun Tahap 1 TA 2024 di Desa Kenteng Kecamatan Sempor, Jumat 19 Januari 2024. KBM Guyub Rukun merupakan kegiatan yang diselenggarakan rutin setiap tahun oleh Kodim 0709 Kebumen bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kebumen. Hadir secara langsung Dandim 0709 Kebumen Letkol Czi […]

  • Dari Donasi Gaji Hingga Pabrik RDF: Komitmen Bupati Lilis Atasi Masalah Sampah Kebumen

    Dari Donasi Gaji Hingga Pabrik RDF: Komitmen Bupati Lilis Atasi Masalah Sampah Kebumen

    • calendar_month Rab, 16 Apr 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 5.422
    • 0Komentar

    SEMPOR (KebumenUpdate.com) – Aksi nyata kepedulian Bupati Lilis Nuryani dalam berbagi dengan sesama kembali terlihat. Rabu 15 April 2025, bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-60, Bupati Lilis mendonasikan dari gajinya yang kedua kepada 30 pemulung yang bekerja keras di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Semali, Kecamatan Sempor. Secara simbolis, penyerahan donasi sebesar Rp200.000 per orang […]

  • UNIMUGO

    Dosen UNIMUGO dan UMS Berdayakan Kelompok Wanita Tani dan Kader Posyandu Lewat Pelatihan Pembuatan Abon Lele, Ketahanan Pangan Hingga Edukasi Gizi

    • calendar_month Jum, 31 Okt 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 628
    • 0Komentar

    BANYUMAS (KebumenUpdate.com) – Sebagai upaya mendukung pembangunan kesehatan dan peningkatan ekonomi masyarakat, Universitas Muhammadiyah Gombong (UNIMUGO) berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan kader Posyandu di Desa Bogangin, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Pemberdayaan ini sebagai upaya terpadu dalam pengurangan angka stunting melalui peningkatan kapasitas ekonomi keluarga, ketahanan pangan, serta […]

  • Diguyur Hujan Deras, Pesta Kembang Api di Alun-alun Kebumen Tetap Berlangsung

    Diguyur Hujan Deras, Pesta Kembang Api di Alun-alun Kebumen Tetap Berlangsung

    • calendar_month Sen, 1 Jan 2024
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 11.036
    • 0Komentar

    PETANAHAN (KebumenUpdate.com) – Seremoni menyambut malam pergantian tahun dengan pesta kembang api di Kebumen akhirnya berlangsung di 2 tempat: Pantai Pandan Kuning dan Alun-alun Pancasila, Minggu 31 Desember 2023. Di Pantai Pandan Kuning, masyarakat yang berkerumun di halaman objek wisata Pandan Kuning Park dapat menyaksikan pesta kembang api pada pukul 22.46 WIB setelah hadirnya Bupati […]

  • Pelatihan TDB Desa Jladri, Kenali Potensi Bahaya di Sekitar

    Pelatihan TDB Desa Jladri, Kenali Potensi Bahaya di Sekitar

    • calendar_month Jum, 11 Nov 2022
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.934
    • 0Komentar

    BUAYAN (KebumenUpdate.com) – Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) sebagai ujung tombak PMI, sudah sewajarnya memahami tentang kebencanaan. Salah satu contohnya yaitu mengenal potensi bahaya yang ada di sekitarnya. Apalagi bagi desa yang wilayahnya sering dilanda bencana ketika musim hujan tiba seperti sekarang ini. Dengan pengetahuan tentang kebencanaan, maka potensi kerugian yang ditimbulkan dapat diminimalkan. Baca […]

  • Satlantas Polres Kebumen

    Melalui Program “Polantas Menyapa”, Pelayanan SIM di Satlantas Polres Kebumen Makin Humanis

    • calendar_month Sab, 25 Okt 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 534
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kebumen terus berinovasi dalam memberikan pelayanan publik yang cepat dan humanis. Melalui program bertajuk “Polantas Menyapa”, jajaran Satlantas turun langsung memberikan layanan Surat Izin Mengemudi (SIM) serta edukasi tertib berlalu lintas kepada masyarakat, Sabtu 25 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung di area Pelayanan SIM Polres Kebumen ini […]

expand_less