Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

Demam Franchise Minuman, Ketika Viralitas Mengalahkan Etika Bisnis

  • account_circle Rina Rudiarti
  • calendar_month Sen, 25 Mei 2026
  • visibility 716
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

DALAM beberapa tahun terakhir, gerai es teh dan es kopi kekinian tumbuh sangat cepat hingga menjangkau hampir setiap sudut kota maupun pedesaan. Di kawasan kampus, pusat perbelanjaan, hingga pinggir jalan, berbagai franchise minuman hadir dengan konsep yang relatif serupa, yaitu harga murah, ukuran besar, desain gerai menarik, dan promosi agresif di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bisnis franchise minuman telah menjadi salah satu model usaha paling diminati masyarakat. Banyak orang melihatnya sebagai peluang usaha yang mudah dijalankan dan mampu menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat. Perkembangan media sosial semakin mempercepat pertumbuhan tersebut. TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya kini menjadi ruang utama membangun tren sekaligus membentuk pola konsumsi masyarakat.

Tidak sedikit brand minuman menjadi viral hanya karena konten antrean panjang, ulasan influencer, atau promo seperti “beli satu gratis satu”. Dalam kondisi ini, viralitas perlahan berubah menjadi ukuran baru kesuksesan bisnis. Produk dianggap berhasil ketika ramai dibicarakan dan terus muncul di media sosial, meskipun kualitasnya belum tentu benar-benar berbeda dari kompetitor lain.

Kondisi tersebut melahirkan pola pikir baru bahwa franchise minuman adalah jalan cepat menuju keuntungan. Banyak orang tertarik membuka usaha hanya karena melihat bisnis serupa tampak ramai dan menghasilkan omzet besar. Padahal, tidak sedikit pelaku usaha yang masuk ke bisnis ini tanpa memahami manajemen operasional, pengelolaan keuangan, etika bisnis, pemilihan lokasi usaha, hingga strategi diferensiasi produk di tengah persaingan pasar yang sangat ketat.

Di balik ramainya franchise minuman viral, terdapat persoalan yang lebih besar mengenai budaya bisnis instan. Persaingan usaha kini tidak lagi selalu bertumpu pada kualitas produk dan inovasi, tetapi lebih banyak menekankan sensasi pemasaran, perang harga, dan kemampuan menciptakan perhatian publik. Akibatnya, pelaku usaha lebih sibuk mengejar popularitas dibanding membangun fondasi bisnis yang kuat.

Fenomena bisnis yang tutup setelah viral pun semakin sering terjadi. Banyak usaha mengalami lonjakan permintaan secara mendadak, tetapi tidak diimbangi kesiapan operasional dan manajemen yang matang. Antrean panjang, stok habis, pelayanan yang menurun, hingga kualitas produk yang tidak konsisten akhirnya mengecewakan konsumen. Ketika antusiasme publik mulai mereda, pelanggan perlahan menghilang dan bisnis kesulitan bertahan.

Selain itu, banyak pemilik usaha salah mengartikan omzet besar sebagai keuntungan bersih. Pendapatan tinggi di awal sering mendorong ekspansi berlebihan, mulai dari membuka cabang baru hingga merekrut banyak karyawan tanpa perhitungan yang matang. Ketika tren mulai menurun, biaya operasional justru menjadi beban yang sulit ditanggung.

Fenomena ini juga dipengaruhi budaya fear of missing out (FOMO) di media sosial. Konsumen membeli produk bukan semata karena kualitas, melainkan karena rasa penasaran dan keinginan mengikuti tren. Ketika muncul produk baru yang lebih viral, perhatian publik pun dengan cepat berpindah. Akibatnya, bisnis yang tidak memiliki kualitas produk dan loyalitas pelanggan yang kuat akan mudah kehilangan pasar.

Dalam kondisi tersebut, viralitas sering kali menjadi tujuan utama bisnis digital. Banyak pelaku usaha berlomba menciptakan sensasi agar produknya ramai diperbincangkan. Tidak sedikit yang menggunakan promosi berlebihan, testimoni yang dilebih-lebihkan, hingga strategi pemasaran yang lebih mementingkan pencitraan dibanding kejujuran produk. Bahkan, sebagian bisnis sengaja menciptakan kontroversi demi meningkatkan perhatian publik di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa etika bisnis perlahan mulai tersisih oleh ambisi mengejar popularitas. Dalam beberapa kasus, kualitas bahan baku, pelayanan, bahkan kesejahteraan karyawan dikorbankan agar bisnis tetap terlihat murah, ramai, dan kompetitif. Persaingan usaha berubah menjadi perlombaan mencari perhatian tercepat, bukan lagi upaya membangun kualitas terbaik.

Di sisi lain, pelaku UMKM lokal sering kesulitan bersaing dengan franchise besar yang memiliki kekuatan promosi digital lebih masif. Persaingan akhirnya menjadi tidak seimbang karena keberhasilan bisnis lebih banyak ditentukan oleh viralitas dibanding kualitas produk itu sendiri. Akibatnya, usaha kecil yang sebenarnya memiliki kualitas baik sering kalah oleh brand yang lebih kuat dalam membangun sensasi pemasaran.

Fenomena franchise minuman viral juga memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang kesuksesan usaha. Di era digital, keberhasilan sering diukur dari seberapa ramai bisnis diperbincangkan dan seberapa cepat menghasilkan keuntungan. Padahal, dunia usaha sesungguhnya dibangun melalui proses panjang, konsistensi, inovasi, dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan pasar.

Integritas Hingga Etika dalam Menjalankan Usaha

Dalam perspektif leadership, seorang pemimpin bisnis seharusnya tidak hanya fokus mengejar popularitas sesaat, tetapi juga membangun usaha yang memiliki visi jangka panjang. Kepemimpinan yang baik bukan sekadar kemampuan menjual produk, melainkan kemampuan menjaga kualitas, membangun kepercayaan konsumen, dan menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Sayangnya, budaya bisnis viral sering mendorong pelaku usaha lebih sibuk mengejar perhatian publik dibanding memperkuat fondasi usaha. Banyak bisnis berlomba membuka cabang ketika sedang viral, tetapi kurang memperhatikan konsistensi pelayanan dan kualitas produk. Akibatnya, bisnis terlihat ramai di awal, namun sulit bertahan ketika tren mulai berubah.

Padahal, keberhasilan bisnis jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan sensasi pemasaran. Bisnis yang sehat membutuhkan integritas, inovasi, tanggung jawab, dan etika dalam menjalankan usaha. Persaingan seharusnya mendorong peningkatan kualitas dan pelayanan, bukan sekadar perang harga demi popularitas sesaat.

Franchise minuman pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif. Kehadirannya mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan gairah kewirausahaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kalangan anak muda. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah munculnya budaya bisnis instan yang menempatkan viralitas sebagai tujuan utama.

Pada akhirnya, media sosial memang mampu membuat sebuah bisnis dikenal dalam waktu singkat. Namun, bisnis yang benar-benar bertahan tidak dibangun hanya melalui sensasi dan viralitas. Kepercayaan konsumen tetap lahir dari kualitas, integritas, dan etika yang dijaga secara konsisten. Sebab dalam dunia usaha, ramai belum tentu dipercaya, dan viral belum tentu bertahan. ***

Penulis: Rina Rudiarti, Mahasiswa S2 Magister Manajemen Universitas Putra Bangsa

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News
  • Penulis: Rina Rudiarti

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Berkinerja Terbaik dalam Penanganan Perkara Tindak Pidana Khusus Tahun 2022, Kejari Kebumen Raih Penghargaan

    Berkinerja Terbaik dalam Penanganan Perkara Tindak Pidana Khusus Tahun 2022, Kejari Kebumen Raih Penghargaan

    • calendar_month Sen, 9 Jan 2023
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.534
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Sepanjang tahun 2022, tindak pidana khusus (pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kebumen telah menangani 7 perkara dalam hal penyidikan, 7 penyelidikan, 9 penuntutan, 7 eksekusi, dan 5 laporan aduan. Atas kinerja tersebut, Kejari Kebumen mendapat penghargaan sebagai Satuan Kerja Berkinerja Terbaik dalam Penanganan Perkara Tindak Pidana Khusus Tahun 2022 Kategori Kejaksaan Negeri Tipe […]

  • Stadion Chandradimuka

    KONI Kebumen “Diusir” dari Stadion Chandradimuka

    • calendar_month Rab, 28 Jul 2021
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.346
    • 0Komentar

    Ketua KONI Diminta Gunakan Tempat Lain Sebagai Sekretariat dengan Alasan Pemeliharaan Stadion Chandradimuka KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kebumen terancam kembali tidak memiliki sekretariat. Hal ini setelah Pemkab Kebumen “mengusir” KONI dari kompleks Stadion Chandradimuka Kebumen. Tanpa melalui komunikasi terlebih dahulu, Pemkab Kebumen melayangkan surat resmi kepada Ketua KONI Kebumen.  Sekretaris Daerah […]

  • KPK

    KPK Dalami Aliran Uang di Rekening Penampungan Kasus Kasus TKA Kemnaker

    • calendar_month Kam, 21 Agu 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.183
    • 0Komentar

    JAKARTA (KebumenUpdate.con) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus dugaan korupsi pengurusan rencana penggunaan tenaga kerja asing (TKA) di Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan bahwa pihaknya telah memeriksa dua saksi yang dinilai mengetahui aliran dana dalam perkara tersebut. “Salah satu saksi diperiksa terkait dengan rekening penampungan yang digunakan untuk mengepul […]

  • Poster penolakan bangunan bersejarah bekas pabrik gula Prembun. (Foto: Istimewa)

    Gedung di SMPN 1 Prembun Dilarang Dirobohkan, Ini Penjelasannya

    • calendar_month Jum, 20 Mar 2020
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.266
    • 0Komentar

    PREMBUN (KebumenUpdate.com) – Rencana pembongkaran gedung di SMPN 1 Prembun mendapatkan perhatian banyak pihak. Pemkab Kebumen didesak tidak menghancurkan bangunan bekas administrasi Remboen Suiker Fabriek atau pabrik gula Prembun yang berdiri sekitar 1890. Saat ini gedung di SMPN 1 Prembun masuk dalam daftar bangunan yang diduga cagar budaya tahun 2019.  Bagunan lain saat ini menjadi […]

  • GKKYF Jalankan Program Geopark Goes to School di SMK N 1 Alian

    GKKYF Jalankan Program Geopark Goes to School di SMK N 1 Alian

    • calendar_month Rab, 13 Jul 2022
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.364
    • 0Komentar

    ALIAN (KebumenUpdate.com) – Geopark Karangsambung Karangbolong Youth Forum (GKKYF) menggelar acara bertajuk Geopark Goes to School di SMK N 1 Alian pada Rabu, 13 Juli 2022. Mengangkat tema Geopark Membumi Bersama Gen-Z, kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan dasar tentang Geopark Karangsambung Karangbolong beserta potensinya. Juga untuk memberikan pemahaman tentang peran penting pemuda dan masyarakat dalam […]

  • Polres Kebumen

    Personel Polres Kebumen Ikuti Ujian Beladiri

    • calendar_month Rab, 29 Sep 2021
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 988
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Polres Kebumen menggelar kegiatan ujian beladiri Polri. Ujian beladiri digelar di halaman Mapolres Kebumen dan diikuti seluruh personel Polres maupun Polsek. Kegiatan berlangsung selama tiga hari mulai Selasa 28 September 2021 . Kapolres Kebumen AKBP Piter Yanottama melalui Kasi Humas Polres Iptu Tugiman menjelaskan, ujian beladiri sekaligus untuk mengasah ketangkasan personel. “Selain […]

expand_less