Kualitas Hidup Rendah, Ibu Remaja Rentan Depresi Pasca Melahirkan
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 24 Okt 2022
- visibility 3.985
- comment 0 komentar

Wulan Rahmadhani SST MMR Dr PH memyampaikan orasi ilmiah. (Foto: Dok. Unimugo)
PERJUANGAN perempuan sebagai seorang ibu dimulai dari proses kehamilan, persalinan sampai masa nifas selesai. Kehamilan merupakan suatu proses alamiah yang menyenangkan dan didambakan oleh setiap wanita.
Bukan semata-mata untuk meneruskan keturunan, tetapi juga dapat melengkapi kesempurnaan sebagai seorang wanita. Kehamilan juga merupakan awal penentu terciptanya generasi-generasi penerus bangsa yang unggul.
Peningkatan kesehatan ibu harus menjadi prioritas pengembangan kesehatan nasional. Kesehatan ibu hamil harus menjadi prioritas utama, karena kondisi kehamilan yang berisiko dapat mengakibatkan terganggunya kondisi psikologis.
Baca Juga: Modal Jadi Universitas, Empat Dosen Stikes Muhammadiyah Gombong Raih Gelar Doktor
Gangguang psikologis itu dapat menjadi suatu depresi setelah melahirkan yang disebut dengan depresi pasca melahirkan atau postpartum depression. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh usia wanita saat menikah dan saat hamil.
Seperti kita tahu bahwa di Indonesia ada aturan pembatasan usia dalam pernikahan yaitu setelah berusia 20 tahun. Batas usia dalam pernikahan ini sangat penting karena berkaitan dengan kematangan emosional, fisik maupun psikologis. Sehingga persiapan mengenai bagaimana cara membina keluarga dan aspek-aspek dalam pernikahan akan lebih matang dan siap.
Akan tetapi data menunjukkan bahwa di Indonesia masih banyak wanita yang menikah dan mengalami kehamilan pertamanya pada usia yang masih muda.
Faktor Penyebab Postpartum Depression
World Health Organization (WHO) memperkirakan wanita melahirkan yang mengalami depresi postpartum ringan berkisar 10 per 1.000 kelahiran hidup. Kemudian yang mengalami depresi postpartum sedang atau berat berkisar 30 sampai 200 per 1.000 kelahiran hidup.







Saat ini belum ada komentar