Mengapa Gombong Berbeda?
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 14 Apr 2023
- visibility 18.160
- comment 0 komentar

Suasana lalu lintas di depan Pasar Wonokriyo Gombong. (Foto: Istimewa)
Salah satu dokumen resmi tertua yang menyebut Gombong adalah keputusan pemerintah kolonial untuk memberikan nama Cochius kepada sebuah benteng (sekarang dikenal dengan nama Van der Wijck). Dokumen berangka tahun 1839 ini menjadi salah satu rujukan tertua keberadaan Gombong selain beberapa peta militer bertahun 1835 dan 1836.
Kenyataannya, pembangunan benteng Cochius menjadi salah satu pemicu utama tumbuhnya sebuah kota bernama Gombong. Markas militer yang kemudian berkembang menjadi sekolah militer itu telah mendorong pemukiman di sekitar yang pada gilirannya memunculkan simpul-simpul pertumbuhan ekonomi dan sosial.
Ibarat film koboi, Gombong dari semula sebuah wilayah tak terkenal, pelan-pelan berubah menjadi kota seiring dengan berdatangannya orang-orang untuk bermukim di situ. Daerah yang relatif subur serta jaminan keamanan karena kehadiran militer menjadikan Gombong sasaran ideal untuk bermukim dan mengembangkan usaha.
Proses terbentuknya kota ini sangat berbeda dengan banyak kota tradisional di Jawa yang terbentuk sebagai hasil dari manajemen dan struktur kekuasan Mataram (atau kekuasan kolonial yang memanfaatkan pola kekuasaan Mataram). Sekalipun militer menjadi alasan kuat tumbuhnya kota, terbukti dalam kehidupan sosial ekonomi, militer sebagai alat kekuasaan tidak banyak campur tangan.
Implikasinya adalah Gombong berkembang secara lebih partisipatif, egaliter inklusif. Proses pembentukan dan pengembangan kota tidak terpusat pada trah penguasa atau elite tertentu, baik elite politik maupun elite religius.
Kota Pergerakan dan Keragaman
Titik-titik dinamika masyarakat yang menyebar membuat pergerakan sosial, ekonomi dan budaya di Gombong lebih dinamis. Aktor-aktor perubahan bermunculan dari berbagai kalangan. Di era kolonial, setidaknya ada beberapa nama yang layak disebut.
Haji Tohir misalnya. Beliau adalah seorang saudagar dari trah keluarga Kalang, sebuah sub suku Jawa yang menguasai perdagangan di berbagai daerah di Jawa. Tak hanya menjadi taipan dagang, beliau juga bersumbangsih pada kemajuan bangsa dengan mendirikan sebuah sekolah Neutral School.
Baca Juga: Semangat Perubahan di Gedung Gereja St. Mikael Gombong
Ada pula Kyai Siradj, seorang kyai dari lingkungan pesantren di Brangkal. Bisa dibilang beliau adalah kyai pergerakan yang hidupnya lebih banyak di dunia pergerakan daripada di pesantren. Sebagai pimpinan Sarekat Islam di Gombong, beliau banyak mengilhami kaum muda untuk terjun di dunia pergerakan. Salah satunya adalah Marto Darsono, seorang guru muda yang akhirnya menjadi salah satu tokoh yang ikut membangun Muhammadiyah di Gombong.
Dari kalangan Tionghoa ada keluarga Oei, sang ayah Oei Tjing Hwat dan Oei Wan Tiong anaknya. Mereka adalah wijckmeester (kepala kampung) Pecinan yang menggagas perkumpulan masyarakat Tionghoa (THHK) dan mendirikan sekolah untuk anak-anak Tionghoa. Mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat lintas-kelompok.
Ada sebuah peristiwa penting yang dimuat di Harian Pemandangan tahun 1937. Perserikatan Muhamadiyah Gombong mengadakan peringatan ulang tahun perguruan Hollandse Indische School m.d. Quran. Sebuah sekolah modern berbasis nilai-nilai Islami di Gombong. Yang menarik, perhelatan itu didukung saudagar kalang Mulyo Widharto (pendiri PO Mulyo) dan Oei Wan Tiong. Selain itu juga dimeriahkan oleh paduan suara remaja Indo-Belanda yang dipimpin seorang blasteran Ambon Belanda bernama Huawe.
Egaliter dan Partisipatif
Masyarakat Gombong yang tumbuh dalam keragaman memunculkan karakter yang egaliter dan disatukan oleh identitas ‘kegombongan’ yang melampaui identitas kelompok dan kesukuan. Kebanggaan teritorial ini menjadi bahan bakar pembangunan Gombong terutama di awal era kemerdekaan.







Saat ini belum ada komentar