Semangat Perubahan di Gedung Gereja St. Mikael Gombong
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 24 Des 2021
- visibility 13.887
- comment 0 komentar

Gereja St Mikael. Foto: Istimewa)
Oleh: Sigit Tri Prabowo
SEJAK tahun 2016, Kawasan Perkotaan Gombong ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen sebagai kawasan prioritas program P3KP (Pelestarian dan Penataan Kota Pusaka). Sekalipun karena faktor kebijakan anggaran dari pemerintah pusat akhirnya program ini terhenti, namun momen itu menjadi salah satu titik bangkitnya perhatian publik terhadap aset-aset pusaka/heritage di kawasan Gombong.
Jika semula Benteng Van der Wijck (VdW) dipandang sebagai satu-satunya aset heritage di Gombong, saat ini orang semakin menyadari bahwa sebenarnya ada banyak aset heritage yang saling terkait dan benteng VdW sebagai pusatnya.
Salah satu aset heritage yang secara kasat mata cukup menonjol adalah gedung Gereja Katolik St. Mikael yang terletak di Jalan Gereja Gombong. Gedung ini dibangun tahun 1963 sehingga secara usia sudah masuk 58 tahun. Signifikansi secara sosial budaya pun tak perlu diragukan lagi sehingga sebenarnya layak gedung ini menyandang status situs pusaka.
Baca Juga: Ultah Pertama, Gombong Heritage Menyusuri Masjid Tua
Keberadaan Gereja St. Mikael tentu tak lepas dari terbentuknya jemaat Katolik di Gombong. Sekalipun Kota Gombong sudah mulai terbentuk sejak beroperasinya Benteng VdW pada tahun 1840-an. Misi Katolik di Gombong sendiri baru dimulai hampir 100 tahun kemudian, yaitu bersamaan dengan peresmian wilayah Jawa Tengah bagian Barat (Purworejo, Kebumen, Banyumas, Pekalongan dll) sebagai tanah Misi Kristus Raja pada tahun 1927.
Bekas Gedung Societeit

Interior Gereja St Mikael. (Foto: Istimewa)
Pada awal karya misi tersebut, Gombong belum memiliki gedung gereja untuk umat Katolik. Gereja yang jauh lebih tua melayani jemaat Kristen yang merupakan agama mayoritas bagi tentara Belanda masa itu. Mereka berkegiatan di gedung Indische Kerk (Gereja Hindia Belanda) yang terletak di depan rumah sakit militer, saat ini menjadi Gedung Gereja Kristen Indonesia.
Untuk memenuhi kebutuhan ibadat, akhirnya pada tahun 1928 misi membeli sebuah gedung tua bekas societeit (gedung perkumpulan) yang terbengkalai. Gedung tersebut diperbaiki dan dijadikan gedung gereja. Meski demikian kegiatan pada masa itu masih sangat terbatas, apalagi belum ada pastor tetap di Gombong. Pelayanan umat diberikan oleh pastor yang datang dari Purworejo atau Purwokerto.








Saat ini belum ada komentar