Semangat Perubahan di Gedung Gereja St. Mikael Gombong
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 24 Des 2021
- visibility 13.888
- comment 0 komentar

Gereja St Mikael. Foto: Istimewa)
Konsili yang digagas oleh Paus Yohanes XXIII ini dipandang sebagai masa paling penting bagi terwujudnya wajah Gereja Katolik modern. Di sinilah awal munculnya sikap gereja yang lebih terbuka, inklusif dan peka terhadap perubahan jaman. Sekalipun dalam prosesnya penuh dengan pergulatan dan perdebatan sengit, semua pihak mengakui masa 1962-1965 menjadi masa paling penting dalam sejarah Gereja Katolik dunia.
Semangat perubahan itulah yang tampaknya ingin disematkan pada Gereja St. Mikael. Pada prasasti peresmiannya disebutkan bahwa gereja ini diresmikan “Dalam Tahun Konsili Vatikan II…”. Semangat perubahan dan kelokalan menjadi pesan tersirat yang tertanam di batu prasasti itu.

Gereja St Mikael hasil pembangunan 1963. (Foto: Istimewa)
Dalam perjalanannya memang tampak para perintis umat Katolik di Gombong ingin menunjukkan wajah lokal gereja. Apalagi di awal kemerdekaan, dimana agama Kristen dan Katolik sangat lekat dengan citra agama Eropa. Di tahun 1950an, umat Gombong dalam salah satu kegiatan sempat mengundang Pak Besut, penyiar radio kondang dari Yogyakarta. Kemudian di tahun 1970an dipentaskan Sendratari Natal karya Ki Bagong Kussudiarjo di Gedung Bioskop Lestari. Juga munculnya karya-karya karitatif dengan sasaran lintas golongan.
Lepas dari kiprah umat di dalamnya, Gedung Gereja St. Mikael sendiri sudah memposisikan diri sebagai salah satu ikon heritage di Gombong. Berada di salah satu ruas utama kawasan pusaka Gombong: Benteng VdW, rumah sakit DKT dan Gereja GKI, rasanya wong Gombong, dari golongan apapun, selayaknya melihat Gereja St. Mikael sebagai salah satu aset heritage yang mesti memberi nilai kebermanfaatan bagi siapapun. ***
Sigit Tri Prabowo, Pegiat Wisata Heritage








Saat ini belum ada komentar