Semangat Perubahan di Gedung Gereja St. Mikael Gombong
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 24 Des 2021
- visibility 13.889
- comment 0 komentar

Gereja St Mikael. Foto: Istimewa)
Barulah pada 9 April 1935 Gombong ditetapkan sebagai Paroki (kesatuan wilayah mandiri dalam Gereja Katolik). Komposisi umat pada saat itu cukup beragam: Eropa (238 orang), Jawa (111 orang), Cina (1 orang). Di wilayah Kabupaten Kebumen konsentrasi umat Katolik masa itu memang berpusat di wilayah Gombong. Bahkan jemaat di wilayah kota Kebumen menginduk pada Paroki Gombong.
Baca Juga: Heritage On Wheels, Berwisata Sambil Mengenali Sejarah Kota
Seiring pendudukan Jepang, kehidupan umat Katolik di Gombong berubah drastis. Para pastor dan umat dari golongan Eropa ditangkap oleh Jepang. Di awal masa kemerdekaan, umat Katolik Gombong didominasi oleh golongan Jawa (298), Tionghoa (87) dengan hanya tiga orang Belanda.
Pada awal tahun 1960-an, seiring dengan perkembangan umat dan semakin tuanya bangunan gereja, dimulailah pembangunan gedung gereja baru. Pembangunannya dilakukan di lokasi gereja lama dengan pelaksana PB. Trio & Co (J. Lauw Djioe Ling) Purwokerto. Pada 12 September 1963 Gedung Gereja Baru diresmikan oleh Pastor R. Hoos, MSC selaku Vikaris Jenderal Keuskupan Purwokerto
Gereja Perubahan

Prasasti peresmian Gereka St Mikael. (Foto: Istimewa)
Salah satu catatan menarik adalah konteks global terkait masa pembangunan Gereja St.Mikael. Pada tahun 1962 – 1965, Gereja Katolik sedunia mengadakan Konsili (muktamar akbar membahas ajaran, sikap dan aturan gereja). Karena konsili ini diadakan di Vatikan Roma dan merupakan kali kedua, maka sering disebut dengan nama Konsili Vatikan II.








Saat ini belum ada komentar