Rahasia di Balik Gua Petruk dan Mengapa Sekolah Perlu Mendukung Kebumen UNESCO Global Geopark
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Rab, 17 Des 2025
- visibility 1.096
- comment 0 komentar

SEJATINYA pagi ini, Rabu 17 Desember 2025, saya akan mengikuti kegiatan telusur Gua Petruk yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kebumen.
Namun baru sampai di Desa Sidoharjo Sruweng, urung melanjutkan perjalanan ke barat. Melihat langit yang keabuan sedikit gelap, perkiraan hujan pagi ini akan merata.
Dengan menggunakan sepeda motor dan sudah terlanjur kehujanan, rasa-rasanya tidak akan baik jika saya terus melanjutkan.
Maka dengan terpaksa balik kanan. Toh beberapa dokumentasi Gua Petruk saya masih menyimpannya. Ini membuat sedikit lega meski tidak jadi mengikuti kegiatan caving tersebut.
Kegiatan yang digelar oleh Disparbud Kebumen tersebut tidak lain dalam rangka mengenalkan Geopark Kebumen UGGp kepada generasi muda, khususnya pelajar SMA/SMK/MA di Kabupaten Kebumen.
Bertajuk “Jelajah Geopark Kebumen, Petualangan Sungai Bawah Tanah Karst Gombong Selatan”, kegiatan ini mengundang 20 sekolah dengan masing-masing sekolah mengirimkan 10 perwakilan (9 murid, 1 pendamping).
Maka total peserta adalah 200 orang jika semua sekolah mengirimkan lengkap delegasinya. Jumlah sebanyak itu akan dibagi dalam 2 sesi, Rabu 17 Desember 2025 sebanyak 100 orang dan Kamis 18 Desember 2025 sebanyak 100 orang.
Tentu masih dalam ingatan ketika awal September kemarin saya bersama anak-anak Gaspala (ekstrakurikuler pecinta alam) mengajukan kegiatan serupa namun ditolak oleh kepala sekolah.
Dengan alasan yang sulit diterima, maka momentum tersebut membuat saya mantap untuk mengundurkan diri dari pembina Gaspala.
Namun kini ketika sekolah dihadapkan pada kegiatan serupa dan yang mengundang adalah dinas, alasan penolakan kegiatan telusur gua (caving) rasanya tidak akan mampu dikeluarkan. Ini jadi semacam standar ganda atau mungkin diskriminasi.
Selain melakukan penelusuran gua, di kegiatan ini juga akan singgah Curug Leses. (Baca: Curug Leses)
Program yang diselenggarakan Disparbud Kebumen ini dirancang untuk menjawab kebutuhan sekolah akan metode belajar di luar kelas (outdoor learning) guna meningkatkan kepekaan siswa terhadap lingkungan.
Melalui interaksi langsung dengan ekosistem asli, siswa diharapkan mampu membangun kedekatan emosional dan sikap positif terhadap pelestarian alam.
Tak hanya mengasah wawasan, kegiatan ini juga menjadi ajang bagi siswa untuk melatih ketahanan mental, kerja sama tim, dan kemampuan memecahkan masalah di lapangan.
Inovasi eduwisata ini diharapkan dapat terus terintegrasi dengan kurikulum sekolah, baik di dalam maupun di luar Kabupaten Kebumen, serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi pengembangan pariwisata berbasis pendidikan di Indonesia. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar