Jaga Warisan Budaya, Pastrajakkeb Gelar Rutinan Jamjaneng di Kelurahan Panjer
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 49
- comment 0 komentar

KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Paguyuban Seni Tradisional Jamjaneng Kabupaten Kebumen (PASTRAJAKKEB) Kecamatan Kebumen kembali menggelar kegiatan rutin Selapanan sebagai upaya nyata melestarikan seni tradisional Jamjaneng.
Kegiatan ini dilaksanakan di Serambi Masjid Al-Mukarromah, Dukuh Panggel, Kelurahan Panjer, pada Minggu 3 Mei 2026.
Acara tersebut dihadiri oleh sembilan kelompok Jamjaneng se-Kecamatan Kebumen, tokoh agama KH Tobingi, serta Koordinator Bidang Seni dan Tradisi Lisan Dewan Kebudayaan Daerah Kebumen (DKDK), Pekik Sat Siswonirmolo.
Pertemuan rutin setiap 35 hari ini diawali dengan doa tahlil dan dilanjutkan dengan penampilan tembang-tembang Jamjaneng secara kolaboratif.
Dalam sesi sambung rasa, Ketua PASTRAJAKKEB Kecamatan Kebumen, Siman HW, menyampaikan terimakasih atas kepercayaan anggota yang kembali memilihnya secara aklamasi pada pertemuan sebelumnya di Desa Kawedusan.
Meski demikian, Siman menyoroti keterbatasan yang masih dihadapi organisasi dalam menjalankan roda pelestarian.
“Keberlangsungan Selapanan ini membutuhkan dukungan solid dari seluruh anggota maupun pemerintah daerah. Kami terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, namun dukungan yang mengalir memang belum maksimal,” ujar Siman.
Sebagai langkah syiar, PASTRAJAKKEB saat ini rutin mengudara di Radio In FM setiap Kamis malam. Siman berharap pemerintah memberikan ruang lebih luas bagi Jamjaneng, seperti pelibatan dalam agenda resmi pemerintahan maupun kegiatan rutin di Pendopo Kabumian.
Di sisi lain, Pekik Sat Siswonirmolo mengingatkan kembali bahwa Jamjaneng telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Mendikbudristek RI sejak 7 Desember 2021. Menurutnya, status nasional ini membawa tanggung jawab besar bagi Pemerintah Kabupaten Kebumen.
“Kondisi perkembangan Jamjaneng saat ini cukup memprihatinkan. Status WBTb menuntut perhatian serius dan kebijakan strategis yang bersifat top-down agar kesenian ini tidak punah di tanah kelahirannya sendiri,” tegas Pekik.
Melalui kegiatan Selapanan ini, para pegiat seni berharap sinergi antara komunitas dan pemerintah dapat terjalin lebih kuat demi menjaga eksistensi identitas budaya lokal Kebumen. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar