Edukasi Seks Positif: Kenapa Anak Muda Butuh Tahu, Bukan Malu?
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 10 Mei 2025
- visibility 898
- comment 0 komentar

Image by Pixelshot
Di tengah era digital dan arus informasi yang deras, seks masih jadi topik yang sering dianggap tabu—khususnya di kalangan anak muda Indonesia. Padahal, justru mereka adalah kelompok yang paling membutuhkan edukasi seks yang sehat dan positif.
Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Tangerang Kota pafitangerangkota.org menyebutkan edukasi seks positif bukan berarti mendorong perilaku seksual bebas. Sebaliknya, ini tentang memahami tubuh sendiri, menyadari hak atas keamanan diri, serta memiliki informasi yang benar mengenai hubungan, kontrasepsi, infeksi menular seksual (IMS), dan persetujuan (consent).
Menurut data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), kurangnya edukasi seks membuat remaja rentan terhadap kehamilan tidak diinginkan, kekerasan seksual, hingga penularan IMS. Masih banyak anak muda yang mencari informasi dari sumber yang tidak akurat seperti situs porno atau rumor antar teman.
Sementara itu, menurut WHO, pendidikan seks yang komprehensif terbukti menunda usia pertama kali berhubungan seks, meningkatkan penggunaan kondom, dan mengurangi risiko kekerasan berbasis gender. Jadi, justru semakin anak muda tahu, semakin besar kemungkinan mereka mengambil keputusan yang bijak.
Tantangan terbesar? Rasa malu dan stigma. Banyak orang tua atau guru enggan membicarakan soal seks karena takut dianggap tidak sopan. Padahal, justru keterbukaan dan dialog yang aman adalah kunci agar anak muda tidak mencari informasi dari sumber yang salah.
Apa yang bisa dilakukan?
- Mulai dari pengetahuan dasar: Kenali anatomi tubuh sendiri, fungsi organ reproduksi, dan pentingnya menjaga kesehatan seksual.
- Pahami pentingnya persetujuan dan relasi sehat.
- Cari sumber informasi tepercaya seperti dari dokter, konselor, atau lembaga kesehatan seperti Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan WHO.
- Hindari rasa malu untuk bertanya—baik kepada ahli maupun melalui layanan edukasi resmi.
- Edukasi seks positif bukan hanya tentang mencegah risiko, tapi juga membentuk generasi yang berani, sehat, dan menghormati diri sendiri serta orang lain.
Sumber:
- World Health Organization (WHO), “Comprehensive Sexuality Education.”
- BKKBN, “Laporan Pendidikan Seks di Kalangan Remaja 2023.”
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti nasihat medis atau konseling profesional. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan reproduksi, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan terpercaya.







Saat ini belum ada komentar