Uhtie Ahya: Sosok di Balik Misteri Suara Hangat dari Gombong, VO Talent Kebumen
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 176
- comment 0 komentar

Uhtie Ahya, Voice Over (VO) Talent asal Gombong, Kebumen. (Foto: istimewa)
GOMBONG (KebumenUpdate.com) – Mendengarkan suara yang renyah, berwibawa, atau menenangkan di balik iklan televisi dan video profil perusahaan seringkali menyisakan rasa penasaran: siapa sosok pemilik suara tersebut?
Bagi Uhtie Ahya, talenta muda asal Gombong, Kebumen, suara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen seni yang mampu menghidupkan sebuah narasi.
Dalam bincang santai bersama KebumenUpdate.com, Selasa 28 April 2026, perempuan yang kini berprofesi sebagai Voice Over (VO) Talent ini berbagi kisah perjalanannya.
Sebuah perjalanan yang ia sebut sebagai “ketidaksengajaan yang berbuah manis.”
Awal Mula yang Tak Terduga
Langkah Uhtie Ahya di dunia olah suara dimulai pada tahun 2016. Setamat kuliah, ia mengawali karier sebagai news presenter di sebuah televisi lokal.
Di sanalah ia pertama kali bersentuhan dengan mikrofon, tak hanya untuk membacakan berita di depan kamera, tetapi juga mengisi suara (voice over) untuk berbagai program.
“Waktu itu teman-teman tim TV bilang kalau suara saya enak didengar. Dari situ saya mulai sadar ada potensi,” kenang Uhtie.
Kesadaran itu semakin kuat saat ia diminta mengisi suara untuk profil perusahaan sebuah bank di Purwokerto.
Meski sempat mencicipi dunia kerja kantoran dan menjadi analis media, magnet industri VO rupanya lebih kuat. Pada 2019, ia memantapkan diri menjadi freelance VO talent sepenuhnya.
Tantangan di Balik Keterbatasan Jarak
Meniti karier dari daerah bukan perkara mudah. Sebelum industri ini “booming” pasca-pandemi COVID-19, akses informasi dan pusat industri VO masih sangat terpusat di Jakarta.
“Tahun 2019 itu cari info workshop atau kelas VO susah sekali, apalagi buat saya yang tinggal di daerah. Saya sampai bela-belain ke Yogyakarta demi ikut workshop,” tuturnya.
Kini, perkembangan teknologi memungkinkan Uhtie bekerja secara remote dari rumah. Namun, ia menekankan bahwa menjadi VO talent bukan sekadar “asal ngomong.”
Ada teknik kompleks seperti artikulasi, intonasi, hingga theater of mind—kemampuan membayangkan sebuah karakter agar emosi yang dihasilkan sampai ke telinga pendengar.
Menjaga “Aset” dan Menghadapi Badai AI
Sebagai pengolah suara, pita suara adalah aset paling berharga bagi Uhtie. Ia sangat disiplin menjaga kesehatan dengan rutin berolahraga dan menghindari gorengan, kopi, hingga makanan manis sebelum proses rekaman.
“Salah makan sedikit saja bisa memicu suara jadi terdengar ‘becek’ dan tidak maksimal,” tambahnya.
Di tengah gempuran teknologi Artificial Intelligence (AI) yang mampu mengkloning suara, Uhtie tetap optimis. Baginya, AI mungkin menang secara teknis dan kecepatan, namun ia gagal dalam satu hal fundamental: rasa.
“Voice AI itu punya kekurangan di faktor emosi. Manusia bisa membangun emosi agar skripnya hidup. Itulah yang membuat kita harus lebih skillful dan adaptif dibanding AI,” tegas perempuan yang memiliki karakter suara deep tone yang hangat ini.
Waspada Pencurian Konten
Namun, kemajuan teknologi juga membawa sisi gelap. Uhtie menceritakan pengalaman pahitnya saat video-video miliknya dicatut oleh oknum tak bertanggung jawab untuk iklan promosi kelas tanpa izin.
Melalui dukungan komunitas Voice People Id, kasus ini akhirnya bisa ditangani melalui report massal.
Kini, melalui akun Instagram @uhtieahya dan portofolio di @ms.voiceover, Uhtie terus membuktikan bahwa talenta dari daerah seperti Gombong mampu bersaing di panggung nasional.
Baginya, setiap skrip adalah nyawa, dan setiap suara adalah cerita yang layak disampaikan dengan hati.
“Jika butuh pengisi suara untuk profil pemerintah, iklan, atau video apa pun, saya siap membantu menghidupkan naskah Anda,” pungkasnya dengan senyum. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar