Hadapi Disrupsi AI, Menaker Tekankan 3 Kesiapan Lulusan Perguruan Tingg
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 163
- comment 0 komentar

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli swafoto bersama para wisudawan. (Foto: Humas Kemenaker)
JAKARTA, Beritakebumen.com – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi perlu memiliki strategi “Triple Readiness” atau tiga kesiapan untuk menghadapi perubahan dunia kerja di era kecerdasan buatan (AI). Hal itu disampaikan dalam orasi ilmiah pada wisuda Universitas Paramadina di Jakarta, Sabtu 25 April 2026.
Dalam paparannya, Yassierli menyebut perubahan lanskap dunia kerja terjadi secara cepat akibat perkembangan teknologi. Ia mengutip data yang menunjukkan bahwa sebagian besar jenis pekerjaan saat ini tidak dikenal dua dekade lalu, dan dalam sepuluh tahun ke depan, sejumlah pekerjaan diprediksi akan tergantikan atau tidak lagi relevan.
“Dunia kerja terus berubah. Tantangan terbesar kita saat ini adalah kesenjangan keterampilan digital,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, tingkat pekerja Indonesia yang memiliki keterampilan digital masih sekitar 27 persen, jauh di bawah standar global yang berada di kisaran 60 hingga 70 persen.
Meski demikian, Menaker melihat peluang besar di sektor ekonomi baru seperti ekonomi hijau, platform digital, dan layanan berbasis kepedulian (care economy). Untuk memanfaatkan peluang tersebut, ia memperkenalkan konsep Triple Readiness bagi lulusan perguruan tinggi.
Kesiapan pertama adalah Technical Skills Readiness, yakni penguasaan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan, termasuk kemampuan digital tingkat lanjut dan pekerjaan berbasis ekonomi hijau.
Kedua, Human Skills Readiness, yang mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, dan kepemimpinan. Menurutnya, kemampuan ini tetap menjadi faktor pembeda di tengah perkembangan teknologi berbasis AI.
“AI tidak akan optimal tanpa sentuhan manusia. Human skills membantu memahami konteks dan risiko dalam penggunaannya,” jelasnya.
Ketiga, Market Entry Readiness, yaitu kesiapan memasuki dunia kerja melalui pemahaman industri, pengalaman magang, portofolio, serta sertifikasi kompetensi.
Pentingnya Penguasaan Keterampilan Terkait AI
Menaker juga menyoroti pentingnya penguasaan keterampilan terkait AI. Berdasarkan survei, sekitar 70 persen pemimpin bisnis di Indonesia cenderung tidak merekrut kandidat yang tidak memiliki kemampuan dasar AI. Selain itu, permintaan tenaga kerja dengan keterampilan AI di kawasan Asia Tenggara meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Yang dicari industri saat ini adalah kompetensi, bukan sekadar asal sekolah. Kami melihat peningkatan signifikan pada lowongan kerja yang menitikberatkan skill dibanding gelar,” tegasnya.
Sebagai upaya mendukung pengembangan kompetensi, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan terus memperluas akses pelatihan melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Program reskilling dan upskilling menjadi fokus utama untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja.
Menaker menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi perlu memiliki pola pikir berkembang (growth mindset) dan terus belajar sepanjang hayat. Dengan kesiapan keterampilan yang relevan, generasi muda diharapkan mampu beradaptasi dan bersaing di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis. ***







Saat ini belum ada komentar