Makam Tionghoa di Tengah Hamparan Sawah: Kisah Tan Peng Nio, Pendekar Wanita Berjuluk “Mulan van Java”
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 7 Jun 2024
- visibility 9.399
- comment 0 komentar

Makam Tan Peng Nio di area persawahan di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen. (Foto: Dok. Setyo Adi Nugroho)
Sulaiman Kertowongso tidak dapat menahan kuasa melihat kecantikan Tan Peng Nio. Pada akhirnya, Tan Peng Nio diperistri oleh Sulaiman Kertowongso, dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Endang Kertowongso (putra) dan Mulat Ningrum (putri). Endang Kertowongso alias Tan Eng Kiat kelak akan menggantikan Kolopaking IV yang gugur dalam Perang Kupu Tarung saat berhadapan dengan pasukan Arung Binang IV, sedangkan Mulat Ningrum kemudian akan menurunkan keluarga Siem (Simadibrata).
Asal Muasal Desa Jatimulyo

Makam Lie Beeng Goe dan istrinya di kompleks Makam Sokarini, Kedawung, Pejagoan. (Foto: Dok. Setyo Adi Nugroho)
Pertempuran antara Sulaiman Kertowongso dengan Tan Peng Nio mengakibatkan banyaknya pohon jati yang tumbang dan melintang di sepanjang Jalan Pangeran Bumidirjo. Masyarakat yang hendak berpergian ke Kebumen dari arah timur sering terhenti karena terhalang pohon-pohon jati yang tumbang dan melintang. Hingga akhirnya lambat laun masyarakat menyebut daerah tersebut dengan nama Jatimalang, artinya pohon jati yang melintang. Seiring berjalannya waktu, tempat ini sering digunakan oleh keduanya untuk memadu kasih sehingga dinamakan Jatimulyo (kemuliaan).
Peristirahatan Terakhir Tan Peng Nio

Makam Tan Peng Nio dipotret dari Jalan Pangeran Bumidirjo. (Dok. Setyo Adi Nugroho)
Tan Peng Nio dikebumikan di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, sesuai wasiatnya kepada Sulaiman Kertowongso apabila wafat dimakamkan di tempat keduanya sering bertemu. Sulaiman Kertowongso (Kolopaking III) sendiri dimakamkan bersama keluarga besarnya di kompleks makam Tumenggung Kolopaking, Desa Kalijirek, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, tidak jauh dari makam Tan Peng Nio.
Akan tetapi, tidak ada alasan yang pasti mengapa makam Tan Peng Nio terpisah dengan kompleks makam Tumenggung Kolopaking. Ada beberapa dugaan yang menyeruak. Pertama, berkaitan dengan perbedaan keyakinan. Kompleks makam Tumenggung Kolopaking merupakan kompleks pemakaman Islam, sedangkan makam Tan Peng Nio adalah makam khas Tionghoa.
Baca Juga: Usai Doakan Arwah Leluhur, Warga Tionghoa Bagikan 1.000 Paket Sembako
Kedua, Tan Peng Nio bukan istri utama Sulaiman Kertowongso (Kolopaking III) sehingga tidak dimakamkan dalam satu kompleks bersama. Terlepas dari dugaan-dugaan tersebut, saat ini baik makam Tan Peng Nio maupun kompleks makam Tumenggung Kolopaking sama-sama termasuk bagian dari Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang dilindungi oleh pemerintah.
Kedua anak Sulaiman Kertowongso (Kolopaking III) dengan Tan Peng Nio juga disemayamkan di lokasi yang berbeda. Endang Kertowongso dimakamkan di kompleks Bongpay Pejagoan dalam kondisi sudah tertutup rerumputan, sedangkan makam Mulat Ningrum berada di kompleks Makam Sokarini, Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, satu lokasi dengan makam Lie Beeng Goe.
Penulis: Setyo Adi Nugroho, Founder Potret Lawas Kebumen








Saat ini belum ada komentar