Cerita Misteri: Rumah Sakit Londo (Bagian-1)
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 1 Apr 2025
- visibility 2.145
- comment 0 komentar

Gambar ilustrasi by AI
Suasana makin terasa gelap tak kala motor melewati sebidang area persawahan yang dipenuhi orang-orangan sawah. Di sampingnya, sebuah komplek pemakaman lawas tampak terbentang sepi dipagari pohon-pohon beringin tua yang menjulang tinggi disekitarnya. Rimbunnya dedaunan bergoyang perlahan tertiup angin, bergesekan dengan suara halus seperti bisikan. Di bawahnya tampak nisan-nisan tua yang sudah retak dan tampak berlumut karena lekang oleh waktu.
Tiba-tiba, kilatan petir menyambar dari kejauhan, membelah langit yang mendung. Cahaya kilat itu menerangi persawahan sesaat, dalam sekejap Akif seperti melihat sesuatu.
“DUARR!” suara petir menggelegar, menggema di atas persawahan yang sunyi.
“Hiiiyy…!” Akif menjerit, refleks mencengkeram pinggang Dani. Tubuhnya bergetar sejenak, terperanjat oleh suara keras yang datang tiba-tiba.
Belum hilang rasa kagetnya, dari sudut matanya ia seperti melihat boneka sawah di dekat pemakaman itu bergerak perlahan, seolah-olah berpindah tempat. Akif memicingkan matanya, mencoba memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi. Napasnya tertahan, matanya fokus pada boneka itu yang kembali tampak diam di tempat.
“Wah, takut petir ya, Kif?” Dani tertawa, suaranya terdengar ringan, seakan tidak menyadari kepanikan Akif. “Kaget sampe pegang pinggang segala, haha!” Dani terkekeh, menganggap Akif hanya berlebihan, sementara Akif terus menatap ke arah boneka sawah dengan keraguan yang makin menghantuinya.
“Kayaknya aku liat sesuatu deh, Dan?!” gumam Akif pelan antara percaya dan tidak.
…Satu detik,
…Dua detik, waktu berlalu tanpa terjadi apa-apa.
Boneka sawah itu tak bergerak sama sekali. Betul-betul hanya sebuah benda mati yang berdiri diam.
Tapi, kadangkala…—diam, bukan berarti tidak pernah bergerak kan?
Akif merasa ada bayangan yang mengintip dari balik boneka itu. Sesekali angin berhembus menggoyangkan pucuk daun padi disekitarnya.
“Hmm, benar juga, mungkin karena kena angin…,” batinnya berusaha menenangkan.
“Lihat apa sih?” tanya balik Dani heran, meminta penjelasan dari Akif.
Yang ditanya hanya diam tidak menjawab. Akif lalu mencoba mengalihkan pikiranya, membayangkan dirinya sudah di rumah. Bertemu dengan adiknya lalu makan dengan sayur asem dan lauk ikan asin kesukaanya. Mendadak perutnya terasa lapar karena membayangkan hal tersebut.
“Ngomong-ngomong, serem juga ya, Dan, kalau malam-malam lewat sini sendirian, apalagi pas gerimis, hiiyy!” ujar Akif mengalihkan percakapan, suaranya bergetar sedikit meski mencoba terdengar santai.
Dani menyeringai sambil melirik Akif. “Heh, emang lo lupa Kif? Tahun lalu pas pelantikan Pramuka, renungan malamnya kan diadakan di area pemakaman itu,” katanya, mengingatkan dengan nada menggoda.
“Kabarnya, ada beberapa peserta yang kesurupan loh, bahkan sampai ada yang lompat-lompat niruin pocong!”
Sambil menggaruk kakinya yang tidak gatal Akif tertawa kecil, tawanya terdengar canggung. “Oh, iya ya, aku beneran lupa soal itu… Serem banget sih kejadiannya. Aku inget sekarang, kata beberapa dewan pramuka, katanya malam itu suasananya dingin banget, terus tiba-tiba ada suara tangisan yang nggak tahu dari mana. Aku masih merinding klo inget cerita itu Dan.”
Dani menepuk tangan Akif, seakan mengejek.
“Makanya, jangan sok berani. Kalau inget yang begituan, jadi kebayang kan gimana seremnya lewat sini sendirian pas malam?”
Mata Akif menatap ke arah persawahan dan pemakaman di belakangnya. Ia menelan ludah, lalu menghela napas panjang, seakan mencoba menghilangkan bayangan-bayangan menyeramkan dari ingatannya. “Iya sih, sekarang rasanya bulu kudukku berdiri semua… kayak ada yang ngeliatin, dari balik pohon itu…”








Saat ini belum ada komentar