Cerita Misteri: Rumah Sakit Londo (Bagian-1)
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 1 Apr 2025
- visibility 2.144
- comment 0 komentar

Gambar ilustrasi by AI
Mereka berjalan keluar dari gerbang sekolah dan menyebrang jalan desa. Tempat parkir di sekolah mereka memang terpisah dari kompleks bangunan utama sekolah yang terletak di seberang pintu gerbang. Sambil berjalan, sesekali mereka berpapasan dan bertegur sapa sekenanya dengan teman dari kelas lain.
Baru saja Akif dan Dani melangkah memasuki area parkir, tiba-tiba dari kejauhan mendekat sebuah motor matic. “Sreet…!” terdengar suara roda beradu dengan tanah basah ketika pedal rem ditekan.
“Dan, Kif, aku duluan ya!” kata Ira bendahara kelas. “Jangan lupa besok bayar iuran kas kelas!” ucapnya kencang sambil memuntir pedal gas motornya spontan, tanpa menunggu balasan.
Ira yang anaknya terkenal spontan itu tampak terburu-buru. Mungkin khawatir hujan akan kembali turun. Akif dan Dani yang melihatnya hanya bisa berpandangan kemudian tertawa ngakak.
Tempat parkir sudah terlihat sepi, hanya tinggal beberapa kendaraan yang tampak disana. Sembari mengeluarkan kunci dari saku celananya, Dani berjalan ke arah motornya yang terparkir tepat dibawah pohon.
“Nih pake,” kata Dani sambil menyodorkan helmnya kepada Akif.
Akif mengangguk saat menerima helm.
Daun-daun dan tetesan air hujan terkumpul di jok, Dani membersihkannya sebelum menaiki motor. Meski usianya sudah tua, motor bebek ini masih bisa diandalkan untuk menembus jalan-jalan kecil di desa mereka. Tak lama Akif lalu menyusul naik di belakangnya, sembari mencengkeram bahunya untuk pegangan.

Foto Ilustrasi by AI
Sandyakala
SMK Negeri di kota K terletak di tengah area persawahan yang luas, jauh dari keramaian kota. Di tengah hamparan sawah tersebut, terbentang sebuah jalan penghubung antar desa. Untuk pulang mereka harus melewati dua kecamatan dengan jarak sekitar 20 km. Walaupun terletak di pedesaan, namun hal itu tidak mengurangi fasilitas dan akses sekolah tersebut. Jalan menuju sekolah dari pusat kota pun terhitung sudah cukup bagus dengan mayoritas jalannya yang sudah dilapisi aspal.
Saat mereka keluar dari tempat parkir, ban beradu dengan permukaan trotoar yang basah, ban mengeluarkan suara desis lembut. Sesekali angin berhembus pelan, diikuti dengan udara yang dipenuhi aroma petrichor, aroma tanah yang selalu mengikuti ketika hujan turun.
Langit terlihat lebih gelap dan perjalanan pulang terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin karena efek hujan yang masih menyisakan kabut tipis di sepanjang jalan. Dani mengemudi perlahan, lebih berhati-hati dari biasanya karena kondisi jalan memang licin.
“Kok tumben atmosfirnya beda ya, Dan? Kaya sunyi gitu…?” tanya Akif agak keras membuka percakapan.
“Kamu ngrasa nggak?” tambah Akif lagi.
“Hmm…,” Dani menggumam.
“Mungkin karena udah masuk sandyakala (peralihan dari siang ke malam)?” jawab Dani balas bertanya.
“Lagian abis ujan gini, orang-orang kayaknya lebih milih di rumah daripada kudu keluar,” tambah Dani lagi.
Motor mereka melaju perlahan membelah area persawahan. Di kejauhan sesekali petir tampak berkelebat, sambar menyambar. Percakapan mereka terhenti, masing-masing hanya diam berusaha mencari penjelasan atas suasana yang berbeda yang mereka rasakan.
Tiba-tiba Dani berteriak, “Kif, lihat!” seru Dani sembari menunjuk jarinya ke samping. Tampak kerumunan burung Blekok yang terbang rendah di atas persawahan.
“Plak!” pukul Akif pelan ke helm Dani.
“Bikin kaget aja!” kesalnya lagi.
“Ya lagian kamu tiba-tiba diem aja, takutnya kan kesurupan,” goda Dani seraya terkekeh.
“Pasti kalo tuh burung terbangnya malem-malem bisa dikira kuntilanak!” jawab Akif ngawur, karena masih setengah kesal.








Saat ini belum ada komentar