Perjalanan Panjang Geopark Kebumen Menuju Memori Kolektif Bangsa
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Sen, 27 Jul 2026
- visibility 341
- comment 0 komentar

KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Dari hamparan perbukitan hingga singkapan batuan dasar samudra purba di Karangsambung, tanah Kebumen menyimpan lembaran sejarah bumi yang terbentang berjuta-juta tahun lampau. Jauh sebelum hiruk-pikuk era modern hari ini, kawasan ini telah lama menjadi laboratorium alam terbuka bagi para geolog maupun ilmuwan.
Perjalanan panjang tersebut mulai tertata sistematis pada tahun 2006 ketika Cagar Alam Geologi (KCAG) Karangsambung ditetapkan sebagai pusat pendidikan geologi pertama di Indonesia. Langkah ini terus berlanjut melalui penyesuaian wilayah serta perlindungan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gombong Selatan pada rentang 2012–2014.
Gagasan besar mulai bersemi pada 2016–2017 ketika Pemerintah Kabupaten Kebumen bersama Balai Informasi dan Konservasi Kebumian atau BIKK LIPI (kini BRIN) Karangsambung merintis pembentukan geopark daerah. Buah dari kerja keras lintas elemen tersebut akhirnya diresmikan melalui Keputusan Menteri ESDM pada tahun 2018 sebagai Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong.
Mengapa Arsip Perjuangan Ini Perlu Diselamatkan?
Di balik sertifikat pengakuan internasional sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp), tersimpan ribuan lembar dokumen, rekam jejak foto bersejarah, peta wilayah, hingga video dokumentasi dari jerih payah para perintisnya sejak awal dekade 2000-an. Tanpa dokumentasi yang terawat, memori kolektif ini terancam pudar ditelan zaman.
Kesadaran inilah yang mendorong Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Kebumen mengambil langkah taktis.
Setelah sukses mengantarkan arsip industri Genteng Sokka diakui sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB) berbasis warga (arsip vernakular), kini giliran arsip tata kelola dan sejarah Geopark Kebumen yang didorong untuk masuk dalam register nasional ANRI.
Rekapitulasi Arsip Autentik yang Berhasil Dihimpun
- 758 arsip foto otentik perjalanan lapangan dan penataan site.
- 261arsip tekstual (keputusan, naskah kebijakan, surat-menyurat).
- 112 arsip video dokumenter kegiatan ilmiah dan sosialisasi.
- 4 arsip peta wilayah strategis geopark.
- 147 arsip pendukung hasil riset akademisi dan peneliti BRIN.
Upaya penyelamatan warisan sejarah tersebut menemukan bentuk nyatanya pada Senin, 27 Juli 2026. Bertempat di Teater Besar Disarpus Kebumen, berlangsung Focus Group Discussion (FGD) MKB Geopark Kebumen.
Kegiatan ini dihadiri Kepala Disarpus Kebumen, camat, BP Geopark Kebumen, BRIN Karangsambung, Perhutani, BBWS Serayu Opak, Cabdin Kehutanan, dan pimpinan perguruan tinggi (UNIMUGO, IAINU, UMNU, UPB, Kampus Geologi Lukulo ITB).
Termasuk forum komunitas dan pegiat lingkungan (Geopark Youth Forum, Sekolah Bumi, Sahabat Lingkungan, FK Pokdarwis, KOSTAJASA), Tim Ahli Cagar Budaya, budayawan, kepala desa dari kawasan situs geopark, hingga insan pers.
Kepala Disarpus Kebumen, Sigit Dwi Purnomo, membuka forum dengan menekankan bahwa arsip bukan sekadar tumpukan kertas usang, melainkan saksi bisu perjuangan kolektif yang bernilai strategis bagi masa depan daerah.
Senada dengan hal tersebut, narasumber utama Dr. Ir. Chusni Ansori, M.T. (BRIN Karangsambung) bersama Sigit Tri Prabowo memaparkan betapa pentingnya peran serta masyarakat dalam merawat narasi sejarah lokal agar tetap autentik dan berkelanjutan.
Menatap Masa Depan: Warisan, Investasi, dan Kesejahteraan
Diskusi yang dipandu oleh moderator Eny Widiyanti menyoroti satu benang merah penting: bahwa pengakuan dunia melalui UGGp bukanlah garis akhir, melainkan sebuah lembaran baru.
Pengalaman berbagai daerah menunjukkan bahwa status geopark global mampu menjadi magnet luar biasa bagi masuknya investasi, baik dari korporasi, negara, maupun lembaga internasional.
Namun, fondasi paling mendasar dari semua itu adalah kesadaran merawat sejarah.
“Ini adalah pekerjaan rumah kita bersama. Bagaimana modal sejarah dan status UGGp ini benar-benar mendatangkan kesejahteraan nyata bagi masyarakat Kebumen. Generasi muda kelak tinggal menikmati dan harus merawat warisan besar ini,” pungkas Sigit Dwi Purnomo menutup rangkaian FGD. **Makin Tahu Indonesia








Saat ini belum ada komentar