Wariyun, Arif dan Jemblung
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 12 Agu 2024
- visibility 5.001
- comment 0 komentar

Semua akan menanggapi dengan tawa dan menerimanya sebagai bagian atraksi, sebagai bunga-bunga komunikasi. Bahkan tak jarang pengunjung yang menunggu-nunggu sebagaimana atraksi stand up comedy me-roasting tokoh-tokoh penting.
Dalam budaya Kebumen yang sangat egaliter dan blakasuta, komunikasi antar-hierarki sosial memang sering tak seperti yang terjadi di kawasan Yogya Solo. Istri yang berbicara ‘ngoko’ pada suami bisa jadi terasa saru tak sopan di lingkungan keraton, tapi di perbukitan Karanggayam, para suami mungkin akan bengong ketika istrinya tiba-tiba berbicara krama inggil. Pola komunikasi yang blakasuta terusterang khas Kebumen mesti dipahami secara terbuka, tidak semata-mata diadili dengan standar budaya istana.
Baca Juga: Sejarah Beringin Tunggal Alun-alun Kebumen
Bisa jadi inilah yang sedang dilakukan Pak Arif: mencoba membangun pola komunikasi rakyat-pimpinan secara sejajar, egaliter. Cara komunikasi yang bisa dipahami dan dinikmati mayoritas rakyat Kebumen di pedesaan. Cara bertegur sapa yang ‘kasar dan tak sopan’, namun sebenarnya adalah cara sehari-hari rakyat tanpa kehilangan rasa hormatnya.
Sebuah langkah memangkas komunikasi yang manis dan berbunga-bunga namun tak pernah berani mengungkapkan kesejatiannya. Sebuah pilihan yang dalam beberapa pekan ke depan akan mengalami pembuktian keefektifannya.
Kita tentu menunggu calon-calon lain untuk juga menjalin komunikasi intens dan terbuka dengan masyarakat. Sebuah komunikasi yang memberi kesempatan rakyat memilah dan memilih pemimpinnya. Sehingga memilih tak semata-mata karena dorongan emosional, apalagi godaan amplop tebal. ***
Penulis: Sigit Tri Prabowo, Peminat Masalah Kebudayaan







Saat ini belum ada komentar