Keluh Kesah Perajin Tahu di Tengah Tingginya Harga Kedelai dan Minyak Goreng
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 4 Mar 2022
- visibility 3.115
- comment 0 komentar

Pekerja menggoreng tahu di sentra kerajinan tahu Kemitir. (Foto: Padmo)
MENJELANG tengah hari, tiga pekerja laki-laki tampak sibuk bekerja memproses tahu di sentra produksi Tahu Bawon di Kampung Kemitir, Kelurahan Bumirejo, Kebumen, belum lama ini. Sementara dua orang perempuan mengiris-irisnya dengan beragam ukuran lalu menggoreng tahu itu di tungku berukuran besar.
Aktifitas di salah satu produsen tahu terbesar di Kampung Kemitir tersebut tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Di tengah harga kedelai dan minyak goreng yang melambung tinggi, produsen tahu yang sudah ada sejak 1965 tersebut masih bertahan untuk melayani pelanggan.
“Juara bertahan, lama-lam mana tahan,” celetuk Obiq Suryadi (35) sang pemilik saat ditemui di rumah sekaligus tempat usahanya.
Baca Juga: Fadly Padi Lepas Tukik di Kali Ratu Kebumen
Obiq merupakan generasi kedua perajin tahu Kemitir yang legendaris itu. Dia meneruskan usaha itu sejak tahun 2013 setelah bapaknya meninggal dunia. Di Kampung Kemitir terdapat delapan perajin tahu, namun satu perajin sudah tidak aktif karena tidak ada anak yang meneruskan usahanya.
“Saat harga kedelai sangat tinggi, perajin tahu seperti kami semakin terpuruk,” ujar Obiq Suryadi berkeluh kesah soal kondisi usahanya.
Biaya Produksi Membengkak

Pekerja mengolah tahu. (Foto: Padmo)
Sekarang ini, harga kedelai impor sebagai bahan baku utama tahu mencapai Rp 11.500/kg. Kenaikan harga kedelai, menurut Obiq sebenarnya sudah cukup lama persisnya 15 bulan lalu saat pandemi Corona. Padahal sebelumnya harga kedelai masih di kisaran Rp 7.000 -Rp 7.500/kg.
Dengan kapasitas produksi 1 kwintal kedelai per hari, kenaikan harga kedelai cukup memukul usahanya. Bagaimana tidak, biaya produksi membengkak. Dari bahan baku kedelai saja mengalami kenaikan mencapai Rp 400.000.









Saat ini belum ada komentar