Keluh Kesah Perajin Tahu di Tengah Tingginya Harga Kedelai dan Minyak Goreng
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 4 Mar 2022
- visibility 3.163
- comment 0 komentar

Pekerja menggoreng tahu di sentra kerajinan tahu Kemitir. (Foto: Padmo)
Tahu Bawon menjual tahu goreng, tahu putih, tahu kuning, dan tahu bulat pedas. Sebagian besar, tahu produksinya terserap langsung oleh pelanggan yang datang termasuk dari hotel, rumah makan, maupun konsumen rumahan.
Adapun potongan tahu goreng dibuat bervariasi mulai yang terkecil Rp 125, Rp 250, Rp 350, Rp 500, hingga Rp 600. Sedangkan tahu putih perpotong dijual Rp 600/potong dari sebelumnya Rp 500/potong.
“Kami berharap pemerintah bisa turun tangan agar harga kedelai bisa turun kembali. Begitu juga minyak goreng,” pintanya.
Berharap Harga Kedelai Turun

Proses pembuatan tahu. (Foto: Padmo)
Kondisi serupa dirasakan oleh sekitar 25 orang perajin tahu di Desa Krakal, Kecamatan Alian Kebumen. Rusminem (61) adalah salah satunya. Bahkan Rusminem mengaku sejak kenaikan harga kedelai produksi tahu turun hampir 50 persen. Jika biasanya sehari memproduksi lebih dari satu kuintal kedelai, saat ini hanya sekitar 60 kg saja.
“Kalau di sini tetap produksi tapi sedikit. Tadinya sudah mau ngga jualan tapi ada yang pesan jadi bikin tapi nggak banyak. Katanya perajin tahu mogok produksi tapi di sana, di kota besar yang modalnya gedhe. Kalau kami kan modalnya cuma sedikit paling cuma buat nyambung hidup,” keluhnya.
Agar usahanya tetap berjalan Rusminem menyiasati dengan menaikkan harga jual tahunya. Biasanya harga Rp 10.000 mendapat 30 biji sekarang Rp 10.000 mendapat 25 biji.
“Harapannya harga kedelainya turun soalnya tahu kan makanan orang yang kalangan masyarakat menengah ke bawah. Kalau orang-orang kaya makanannya macam-macam kalau kaya kita makanan pokoknya tahu tempe,” imbuhnya.








Saat ini belum ada komentar