Keluh Kesah Perajin Tahu di Tengah Tingginya Harga Kedelai dan Minyak Goreng
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 4 Mar 2022
- visibility 3.162
- comment 0 komentar

Pekerja menggoreng tahu di sentra kerajinan tahu Kemitir. (Foto: Padmo)
Jumlah selisih harga itu sudah bisa untuk membayar untuk upah beberapa pekerja. Belum lagi sejak lima bulan terjadi kenaikan harga minyak goreng. Padahal dalam sehari dirinya paling tidak membutuhkan 20 kg minyak goreng.
Minyak goreng curah yang biasanya dia bisa beli Rp 12.500/kg sekarang ini Rp 18.000/kg. Itu pun untuk mendapatkan minyak goreng curah bersubsidi harus rela antre.
“Ya, ibaratnya saya tetap bertahan untuk sekadar bisa makan. Makan tabungan maksudnya, ha ha ha,” selorohnya mengaku sudah banyak menguras tabungan sejak pandemi Corona melanda.
Naikan Harga Sampai Kecilkan Ukuran

Pekerja memotong tahu sebelum digoreng. (Foto: Padmo)
Obiq yang memiliki tujuh orang karyawan tetap mempertahankan usahanya. Berbagai strategi dilakukan untuk bertahan, tetapi hal itu tetap tidak sebanding dengan tingginya kenaikan bahan baku.
“Mulai dari menaikkan harga sampai mengecilkan ukuran. Sampai-sampai kami tidak punya alasan lagi saat ada pelanggan yang protes,” ujarnya.








Saat ini belum ada komentar