Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Sejarah Beringin Tunggal Alun-alun Kebumen

Sejarah Beringin Tunggal Alun-alun Kebumen

  • account_circle Kebumen Update
  • calendar_month Ming, 25 Apr 2021
  • visibility 21.693
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

Oleh: KRT Arif Priyantoro Rekso Budoyo*

ALUN-alun berbentuk sebidang tanah persegi dengan rerumputan yang disusun rapi dan dikelilingi jalan raya. Konsep alun-alun adalah konsep yang diprakarsai oleh Kanjeng Sunan Kalijogo.

Di kalangan raja-raja Jawa, pohon beringin merupakan simbol keabsahan seorang raja yang dinobatkan dan keraton tempatnya bersemayam.

Ketika Ki Juru Martani dari Mataram (daerah Yogyakarta sekarang) ingin menghadap Sultan Pajang, ia harus duduk bersila di dekat batang wringin kurung itu.

Baru setelah diketahui oleh Sultan, Ki Juru Martani dipanggil masuk keraton dan ditanya apa maksud kedatangannya. Ternyata ia memberi tahu bahwa Ki Ageng Mataram yang diangkat Sultan Pajang sebagai raja daerah itu telah wafat.

Siapakah yang akan ditunjuk sebagai penggantinya?

Sultan Pajang menunjuk putranya, Ngabehi Loring Pasar atau kepala yang mencakup kabeh (semuanya) di daerah utara pasar.
Sebagai raja Mataram yang baru, ia dibalik namanya menjadi Senopati Ingalaga Sayidin Panatagama, sebelum kelak balik nama lagi sebagai Panembahan Senopati.

Pada zaman itu hanya Raja Mataram (yang kemudian sudah menaklukkan Sultan Pajang) yang boleh menanam beringin kembar. Itu sudah berlaku sejak Sultan Pajang membangun keraton di sebelah barat Solo dulu dan menanam pohon beringin di alun-alun depan keraton.

Karena dikurung dengan pagar tembok supaya rapi, pohon itu terkenal sebagai wringin kurung.

Raja lain yang kecil-kecil dianggap menyaingin Maharaja Mataram kalau berani meniru menanam beringin kembar, lalu dituduh menantang.

Pergeseran Makna Alun-alun Era Kolonial

Setelah Belanda benar-benar menguasai Jawa pada abad ke-19, alun-alun mengalami sejumlah pergeseran makna. Meski demikian, para bupati yang bekerja di bawah kekuasaan pemerintahan kolonial masih meneruskan warisan Mataram.

“Rumah bupati di Jawa selalu dibangun untuk menjadi miniatur keraton di Surakarta dan Yogyakarta,” tulis Handinoto.

Di depan rumah bupati dibangun pendopo dan di alun-alun diadakan pelbagai acara seperti sodoran, grebegan, dan sebagainya. Warisan tradisional ini menarik pemerintah kolonial untuk mengembangkannya dalam sistem pemerintahan tidak langsung yang mereka jalankan.

Pemerintahan kabupaten yang dipimpin seorang asisten residen (orang Belanda) dan bupati (pribumi), dipusatkan di sekitar alun-alun. Jika rumah bupati dan pendopo berada di sebelah selatan, maka rumah asisten residen biasanya di sebelah utara alun-alun.

Pada masa itu di sekeliling alun-alun, seperti dicatat Olivier Johannes Raap, selain rumah bupati dan pendopo, juga terdapat masjid, gedung pengadilan, penjara, pasar, kantor pos, halte kendaraan umum, kantor polisi, dan fasilitas lainnya.

“Sifat sakral alun-alun di zaman kolonial kemudian berkembang lebih merakyat. Pada zaman kolonial ini menjadi semacam ‘civic space’. Bahkan pada akhir zaman kolonial berkembang menjadi semacam plaza di Eropa,” catat Handinoto.

Begitu pula para bupati yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda di luar daerah kerajaan Mataram. Mereka dikukuhkan dengan pohon beringin tunggal di depan rumah kabupatennya.

Beringin Tunggal di Alun-alun Kebumen

Pasca peralihan kepemimpinan Kadhipaten Panjer yang dipimpin KRT Kolopaking IV yang digantikan KRT Aroengbinang IV ditandai dengan perang puputan kupu tarung. Penetapan Arung Binang IV sebagai pemimpin baru disahkan oleh Hindia Belanda yaitu pada 22 Agustus 1831 (Di buku Prof Sugeng Supriyadi).

Kebumen pada waktu itu di bawah Karesidenan Bagelen. Kemudian 1901 karesidenan Bagelen dihapus dan diganti Karesidenan Kedu.
Itulah sebabnya di Alun-alun Kebumen hanya ada satu pohon beringin. Karena Bupati pertama Kebumen KRT Aroengbinang IV diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda.

Bersama RT Hargo Yohanes kami menelusuri jejak sejarah budaya untuk edukasi, agar generasi berikutnya bisa lebih memahami sejarah dan budaya leluhurnya. (data dari berbagai sumber).

*KRT Arif Priyantoro Rekso Budoyo, Ketua Paguyuban Kawula Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Pakasa) Cabang Kebumen.

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News

Penulis

News & Inspiring

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Geopark Dieng

    Dataran Tinggi Dieng Jadi Geopark Nasional

    • calendar_month Rab, 24 Sep 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 653
    • 0Komentar

    SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Kawasan Dataran Tinggi Dieng secara resmi ditetapkan sebagai Geopark Nasional oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, melalui Surat Keputusan Nomor 172.K/GL.01/MEM.G/2025 tentang Penetapan Taman Bumi (Geopark) Nasional Dieng, yang diterbitkan pada 7 Mei 2025. Salinan surat keputusan tersebut diserahkan oleh Kepala BadanGeologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid kepada Wakil […]

  • Stadion Candradimuka

    PSSI Jateng akan Evaluasi Penggunaan Stadion Candradimuka Sebagai Veneu Pertandingan Liga IV

    • calendar_month Kam, 9 Jan 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.933
    • 0Komentar

    SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Keputusan untuk melanjutkan pertandingan antara laga Persak Kebumen dan Persip Pekalongan di tengah kondisi lapangan yang buruk menjadi sorotan berbagai pihak. PSSI Jawa Tengah menyatakan akan mengevaluasi kembali penggunaan Stadion Candradimuka sebagai venue pertandingan Liga 4 Jateng. Sekretaris Asprov PSSI Jateng, Purwidyastanto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan awal terhadap stadion sebelum […]

  • Berani Menjawab Pertanyaan Bupati, Siswa SMAN 1 Mirit Dapat Tiket Pesawat Gratis

    Berani Menjawab Pertanyaan Bupati, Siswa SMAN 1 Mirit Dapat Tiket Pesawat Gratis

    • calendar_month Jum, 24 Nov 2023
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 2.649
    • 0Komentar

    MIRIT (KebumenUpdate.com) – Peserta didik SMAN 1 Mirit mendapat kesempatan berdialog bersama Bupati Kebumen Arif Sugiyanto pada program Forkopimda Mengajar, Jumat 24 November 2023. Bagi peserta didik yang berani maju untuk menyampaikan pendapat atau pertanyaan yang diajukan ke bupati dan forkopimda, mereka mendapat hadiah. Tak tanggung-tanggung, bupati juga memberikan 10 tiket pesawat gratis kepada siswa […]

  • Peringati HUT Ke-11,  Ini Harapan Bupati Kepada PD BPR BKK Kebumen

    Peringati HUT Ke-11, Ini Harapan Bupati Kepada PD BPR BKK Kebumen

    • calendar_month Sab, 12 Okt 2019
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.310
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Perusahaan Daerah (PD) BPR BKK  diminta terus meningkatkan kinerja dan service excellent.  BPR plat merah itu diharapkan bisa memberikan modal bagi pengusaha kecil menengah, serta memberikan kontribusi pendapatan asli daerah. “Saya harap PD BPR BKK dapat meningkatkan kinerja dan pelayanan pada masyarakat. Terkait dengan kinerja PD BPR BKK Kebumen sendiri, saya berharap […]

  • PAFI Bantul

    PAFI Bantul: Pentingnya Konsultasi dengan Apoteker Sebelum Membeli Obat

    • calendar_month Sab, 11 Jan 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 504
    • 0Komentar

    PERNAHKAH Anda membeli obat bebas di apotek tanpa berkonsultasi dengan apoteker? Mungkin Anda berpikir bahwa obat bebas aman dikonsumsi tanpa perlu resep dokter. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Setiap obat, baik itu obat bebas maupun obat resep, memiliki potensi efek samping dan interaksi dengan obat lain. Oleh karena itu, Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) […]

  • Dies Natalis ke-15, Unindra Ingin Jadi Excellence City University

    Dies Natalis ke-15, Unindra Ingin Jadi Excellence City University

    • calendar_month Sen, 16 Sep 2019
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.867
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com)  –  Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Jakarta menapaki usia yang ke-15 tahun,  Jumat 6 September 2019.  Artinya tahun ini,  perguruan tinggi yang di bawah naungan Yayasan PGRI Jakarta itu tepat memeringati Lustrum ke-3. Di usia yang masih remaja untuk ukuran manusia, Unindra terus mengembangkan  perguruan tinggi baik dalam hal sarana prasarana maupun  sumberdaya manusia. […]

expand_less