Kurang Gizi Kronis, 10.291 Balita di Kebumen Stunting
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 7 Okt 2019
- visibility 2.631
- comment 0 komentar

Sekda Kebumen Ahmad Ujang Sugiyono menyampaikan sambutan saat Kampanye Gerakan Peduli Stunting di Hotel Candisari. (Foto: Istimewa-KebumenUpdate)
KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Stunting masih menjadi problem serius di Kebumen. Bagaimana tidak, angka stunting di Kebumen pada tahun 2019 berada di 19,20 persen atau sekitar 10.291 balita stunting dari total balita 53.083 yang terdata. Potensi kasus stunting dapat bertambah mengingat sebagian balita masih dalam proses pendataan.
Kepala Dinas Kesehatan Kebumen dokter Hj Yohanita Rini Kristiani mengatakan, hingga saat ini di Kebumen baru sekitar 63 persen yang terdaftat pendata. Dengan 19,20 persen di antaranya mengalami masalah kekurangan gizi kronis. Sedangkan, sebanyak 37 persen balita lain tengah dalam proses pendataan.
“Dimungkinkan dapat ditemui stunting baru,” katanya saat kegiatan Kampanye Gerakan Peduli Stunting di Hotel Candisari Karanganyar, Senin (7/10/2019).
Baca Juga: 10.192 Balita di Kebumen Alami Stunting, Njur Piye?
Dokter Rini menjelaskan bahwa target penurunan angka stunting di Kebumen sekitar dua persen setiap tahun. Namun demikian, bagi Rini upaya tersebut perlu dilakukan semua pihak bukan saja Dinas Kesehatan.
“Stunting ini bukan tanggung jawab Dinas Kesehatan semata tetapi juga pemerintahan desa dan masyarakat lain,” ungkapnya.
Kampanye Gerakan Peduli Stunting diikuti oleh 500 peserta yang terdiri atas para kepala desa se-Kebumen, Kepala Puskesmas di Kebumen dan OPD terkait. Hadir saat pembukaan Kepala BAP3DA Pudjirahaju, dan perwakilan pimpinan OPD lain.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kebumen Ahmad Ujang Sugiono mengatakan penanganan masalah stunting memang harus menggunakan pendekatan multisektor. Oleh karenanya, seluruh perangkat daerah, dunia usaha, profesi, instansi dan elemen lain mengambil peran dalam upaya penanggulangan stunting.
Baca Juga: Bidan Wajib Miliki Skill Mumpuni Tangani Obstetri dan Neonatal Emergency
“Pejabat di wilayah, saya minta ikut memantau langsung ke lapangan bekerjasama dengan kepala desa dan lainnya memantau dan mendata semua bayi yang ada di wilayahnya. Saya ingin semua pertumbuhan bayi normal. Jika ada stunting, tolong diidentifikasi apa penyebabnya untuk ditangani bersama-sama,” tegasnya.
Tidak hanya bayi, lanjut Ujang, kondisi ibu hamil juga perlu dikawal, agar pertumbuhan janin di dalam rahimnya bisa sempurna. Masyarakat, utamanya para orang tua, harus diberikan pemahaman tentang pentingnya pemberian asupan gizi berimbang Pasalnya tidak orang miskin saja yang terancam kena stunting karena kurang gizi akibat kemampuan ekonomi yang terbatas.
“Orang kaya juga bisa kena karena tidak paham tentang asupan gizi yang sehat untuk anak-anaknya. Selain itu pernikahan dini juga harus terus dicegah. Karena rahim perempuan yang masih muda belum siap hamil. Sangat rawan untuk pertumbuhan bayi jika dipaksa hamil, akhirnya bisa stunting juga,” jelasnya.
(ndo)







Saat ini belum ada komentar