Panggung Cablaka di Kebumen Utara
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Kam, 3 Agu 2023
- visibility 3.145
- comment 0 komentar

Pertunjukan Gambus di event Festival Kalisat. (Foto: Dok. Sigit Tri Prabowo)
Suasana yang sama akan tertangkap jika kita menyaksikan pertunjukan menoreng di kawasan perbukitan Karangsambung hingga Sempor di wilayah Barat. Kesederhanaan, kebebasan berekspresi, keakraban dengan sekitar. Bahkan seni Cepetan yang tumbuh di kawasan Karanggayam dan sekitarnya pun awalnya tampil sangat sederhana, tak segemerlap tari cepetan versi modern saat ini. Begitu juga ritual Cowongan di Dukuh Pagakwungu di perbukitan karst Buayan. Sebuah seni pertunjukan (ritual) yang sederhana, apa adanya namun sangat masuk ke dalam roh kehidupan masyarakat pegunungan.
Pengaruh Mataram di Kebumen Selatan
Bentuk-bentuk kesenian ini akan terasa kontras jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk seni pertunjukan made in keraton sebagai pusat kebudayaan. Kostum dan tata panggung yang elok, alur kisah yang tertata, hingga para penonton yang ditata tertib dan rapih. Suasana inilah yang muncul saat menyaksikan pagelaran wayang kulit, kethoprak dan wayang orang yang lebih akrab bagi masyarakat Kebumen di wilayah Pesisir Selatan.
Hingga akhir Perang Jawa (1825-1830), wilayah pesisir Selatan memang menjadi lintasan utama para bangsawan Banyumas yang hendak pergi ke Mataram, atau sebaliknya. Hal ini menghasilkan interaksi antara masyarakat wilayah pesisir dengan budaya-budaya keraton.
Baca Juga: Ajang Kreativitas, Ratusan Murid SDN 1 Widoro Tampilkan Kesenian
Tak heran jika kiblat budaya (termasuk seni) sangat dipengaruhi oleh sistem kebudayaan Mataram. Bertumbuhnya sanggar seni dan para pelaku (dalang, pengrawit dll) yang bertahan hingga sekarang merupakan bukti pengaruh kebudayaan Mataram di wilayah Kebumen Selatan.








Saat ini belum ada komentar