

Oleh: Imam Gazi Al Farizi
KABUPATEN Kebumen sudah lama dikenal sebagai daerah yang kaya kesenian dan memiliki tradisi lokal yang kuat. Letaknya di persilangan kultur Banyumasan dan Bagelen membuat corak budaya di Kabupaten berslogan “Beriman” ini unik dan beragam.
Selama ini, jika membicarakan kesenian Kebumen, publik cenderung mengingat Tari Cepetan. Padahal, di balik itu, ada banyak kesenian lain yang patut dikenali bahkan “diselamatkan”. Salah satunya adalah Kesenian Menoreng, seni teater rakyat yang kini bertahan di Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan.
Menoreng awalnya berkembang pesat di Karangsambung, Karanggayam, hingga Pejagoan. Kini, satu-satunya pelestari adalah Kelompok Sanggar Dwi Putro di Desa Watulawang. Menoreng mengangkat lakon dari Serat Menak karya Yasadipura I, sumber cerita yang juga digunakan pada Wayang Sasak dan Wayang Golek Menak.
Pertunjukan diiringi alat musik tradisional seperti kendhang, jidor, rebana, serta syair sholawat. Dialognya menggunakan bahasa Jawa dialek ngapak, diselingi tembang dan suluk. Satu pementasan bisa berlangsung 4–5 jam, memadukan unsur seni peran, musik, dan sastra lisan.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan memiliki tiga wujud yakni gagasan (ide) yakni nilai, norma, dan pengetahuan yang terkandung dalam Menoreng, termasuk ajaran moral dari Serat Menak.
Kemudian aktivitas (tindakan berpola), tata cara pementasan, penggunaan bahasa, dan interaksi sosial dalam pertunjukan. Kemudian artefak (benda), alat musik pengiring, kostum, dan properti panggung.
Jika salah satu wujud hilang, kesinambungan budaya terancam. Fenomena ini sejalan dengan cultural ecology, yang melihat kesenian sebagai respons kreatif masyarakat terhadap lingkungan sosial dan alamnya. Hilangnya Menoreng berarti hilangnya salah satu adaptasi budaya khas Kebumen yang menjadi bagian dari cultural diversity Geopark Kebumen.
Menyelamatkan Menoreng bukan hanya tugas kelompok seni. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, hingga generasi muda memiliki peran penting. Program festival desa, pentas di ruang publik, hingga pengenalan di kurikulum muatan lokal dapat menjadi langkah konkret.
Lebih dari sekadar hiburan, Menoreng merupakan identitas, perekat sosial, dan warisan leluhur. Kehilangannya berarti kita kehilangan salah satu cermin jati diri sebagai masyarakat Kebumen yang kaya tradisi. Makin Tahu Indonesia
*Imam Gazi Al Farizi, Mahasiswa Universita Airlangga asal Karanggayam, Kabupaten Kebumen.
News & Inspiring