Pagelaran Eksotika Tjintjinggoeling Sebagai Perayaan dan Refleksi Kultural
- account_circle Teguh Hindarto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 79
- comment 0 komentar

KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Di tengah riuh dunia yang terus bergerak, budaya mengajarkan kita untuk berhenti sejenak—untuk mendengar bisikan tanah, menyimak cerita angin, dan menatap mata air sejarah yang mengalirkan kearifan. Karena dari sanalah kita mengenal siapa diri kita dan ke mana arah langkah kita.
Masyarakat Roma Kebon, kembali melakukan refleksi kultural dengan menggelar kegiatan bernama Pagelaran Eksotika Tjintjinggoeling (PET) yang telah diinisiasi sejak tahun 2024 lalu. Pergelaran Eksotika Tjintjinggoeling bukan sekadar program kerja atau agenda dua tahunan namun menjadi ikhtiar batin untuk menyulam kembali lembar-lembar jati diri bangsa yang mulai pudar.

“Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa silam yang bijaksana dengan masa depan yang bercahaya. Ia adalah api suci kebudayaan yang harus terus dijaga, dijaga bukan hanya dalam bentuk simbol, tetapi dalam kehidupan nyata, dalam pemikiran, tindakan, dan laku harian bangsa”, demikian disampaikan Bondan selaku founder Pagelaran Eksotika Tjintjinggoeling dan juga pemilik Janitra Wedding Conceptor.
Event budaya tahunan ini dilaksanakan sejak tanggal 14 Juni 2026 diawali dengan kegiatan bersih situs dan kawasan. Dilanjutkan tanggal 15 Juni 2026 dengan bersih dusun. Kemudian tanggal 16 Juni 2026 dilaksanakan penyembelihan hewan kurban dan kenduri massal. Setelah kegiatan bernuansa keagamaan dilanjutkan pada tanggal 17-19 Juni 2026 kegiatan pasar malam suran dan tanggal 20 Juni 2026 pasar kaget Sorjati (ngisor wit jati).
Puncak acara di tanggal 21 Juni 2026 yang menghadirkan kegiatan study trip (jalan-jalan sembari belajar sejarah) berkolaborasi dengan Historical Study Trips (HST) yang dipandu oleh Teguh Hindarto dan tim. Para peserta study trip diajak berkonvoi menuju bukit Kedoya dan melihat keindahan Gombong dan Waduk Sempor, darimana air sungai Tjintjinggoeling (Cincingguling) dikelola untuk kebutuhan masyarakat.
Usai berkonvoi, peserta diajak kembali menyusuri pekarangan warga dimana ada makam tua yang dihubungkan dengan tokoh di era kecamuk Perang Jawa, dimana wilayah Gombong dan sekitarnya masih disebut dengan Roma/Remo Jatinegara. Para peserta bukan hanya antusias mengikuti kegiatan namun sangat menikmati saat acara diakhir dengan membeli kuliner lokal di tepian sungai Tjintjinggoeling. Baca: Mengulik Tjintjinggoeling.
Setelah kegiatan study trip, acara dilanjutkan talk show bertema, “Air dan Kehidupan” dengan menghadirkan tiga narasumber, Teguh Hindarto (Historical Study Trips), Reza Adytama (Direktur Rumah Martha Tilaar), Sesa Wulandari (Jaga Semesta). Suasana talk show nampak semakin hidup dengan sajian musik dari Jazz Tjintjinggoeling.

Penutup kegiatan di siang hari adalah kirab budaya dan malam hari ditutup pertunjukkan musik. Kegiatan ini terlaksana selain kerjasama masyarakat Roma Kebon dan mitra kegiatan juga para sponsor yang terdiri dari beberapa pengusaha lokal brand dan brand level nasional serta para artis muda Gombong.
Melalui gelaran event kultural tahunan ini, penyelenggara mengajak seluruh pihak—pemerintah, masyarakat, tokoh adat, akademisi, pelajar, dan pecinta budaya— dapat turut mengambil bagian dalam perjalanan luhur yang dirayakan oleh masyarakat Roma Kebon. *** Makin tahu Indonesia
- Penulis: Teguh Hindarto








Saat ini belum ada komentar