Tiga Pemuda di Jalan Merdeka
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Kam, 30 Des 2021
- visibility 11.963
- comment 0 komentar

Jalan Merdeka Kebumen. (Foto: Padmo)
Oleh: Sigit Tri Prabowo
SELASA Pahing, 28 Agustus 1945, sejak pagi udara Kebumen sudah terasa gerah. Cuaca panas tak menyurutkan geliat rakyat di seputaran Alun-alun Kebumen. Tampak kelompok-kelompok pemuda di jalan-jalan seputaran Masjid Agung dan Pendopo Kabupaten.
Sebagian tampak berbaju drill warna kakhi atau hijau tua hasil celupan wenter. Ada yang menyematkan tanda merah putih di dada, ada pula yang memakai tanda ikat kepala. Setiap kali saling berjumpa, pekik merdeka selalu diucapkan sepenuh jiwa.
Baca Juga: Jadi Nama Jalan di Kebumen, Ini Sosok dan Kiprah dr R Moehiman Kromoatmodjo
Di halaman pendopo kabupaten, tampak diparkir beberapa mobil dan truk bekas tentara Jepang. Ini adalah hasil rampasan oleh para pemuda revolusioner itu selang beberapa hari setelah proklamasi. Sementara di selatan alun-alun, di gedung Kantor Pos, sekelompok pemuda berbincang lebih serius.
Tampak yang memimpin pembicaraan adalah Sri Darmadji, sang pendiri sekaligus Ketua organisasi Angkatan Muda Kebumen. Di sampingnya tampak Wasilan dan Soemarsono, dua tokoh penting di Angkatan Muda.
Angkatan Muda
Mengingat sistem komunikasi yang masih serba terbatas, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia selain disambut dengan gegap gempita juga mendatangkan keraguan dan ketidakpastian di daerah. Pemerintah dan pejabat lokal di banyak kabupaten yang sebelum proklamasi ada di bawah pemerintah militer Jepang (Gunseikan) cenderung bersifat menunggu.
Dalam kondisi tak pasti ini, Angkatan Muda bergerak cepat. Gerakan yang awalnya merupakan gerakan bawah tanah di era pendudukan Jepang segera muncul menjadi motor gerakan pascaproklamasi di Kebumen.








Saat ini belum ada komentar