Cerita Misteri: Sosok
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Kam, 24 Mar 2022
- visibility 2.748
- comment 0 komentar

Ilustrasi sosok. (Foto: Canva)
Oleh: Dian PD
SOSOK
MALAM itu di luar sepi. Suara anjing milik tetangga di ujung jalan terdengar sampai ke telingaku. Sedikit bergidik. Bukan saja karena kutakut anjing, tapi hawa malam itu terasa berbeda. Gerimis sedari Maghrib, makin membuat nyaliku ciut .
Sesekali kulirik jam dinding.
“Kenapa malam ini terasa lama,” pikirku.
Malam itu seperti biasa aku hanya berdua bersama adikku. Kami tinggal bersama Mbah Putri di rumah tua yang konon katanya dulu adalah pekarangan berisi pohon-pohon, yang katanya juga, saat pemberontakan gestok, dijadikan salah satu lokasi pembantaian.
Pada akhirnya kemudian dibangun oleh para napi di rutan (rumah tahanan) di kota kami. Ya, kebetulan Mbah Kakung berdinas di Rutan sebagai Mantri Kesehatan.
Rumah Mbah sangat strategis karena berada di pusat kota kabupaten. Meskipun saat ini bangunannya sudah cukup tua. Tembok rumah terasa lembab dan mudah sekali rontok karena kurasa adonan semen dan tanah yang kurang sempurna komposisinya. Kayu-kayu kusen pun lapuk dimakan usia.
Semenjak Mbah Putri kami sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit daerah di tempat kami tinggal, terpaksa aku harus tinggal berdua saja dengan adikku. Bulek yang biasanya menemani kami, harus menunggu Mbah Putri di rumah sakit.
Aku yang terlatih mandiri sejak kecil, tidak begitu kesulitan dengan kondisi ini.
Bowo adikku, sudah tidur sejak tadi. Sebenarnya sempat terpikir untuk membuat mie rebus karena sejak siang belum ada makanan masuk ke perutku. Bukan karena tak ada makanan, tapi rasanya aku tak berselera makan.
Seaaaaaak ——–
Mendadak kudengar suara burung malam yang dipercaya sebagian besar orang sebagai tanda akan ada orang meninggal. Suara burung ini digambarkan seseorang yang sedang menggunting kain mori. Kain pembungkus jenazah.
Seaaaaaaak —–
Kudengar lagi suara Manuk Seak, begitu orang Jawa (di tempatku) menamainya. Sekarang suaranya tepat di atap rumah. Hatiku berdebar.
“Pertanda apa ini ?”
Kucoba untuk tidak memikirkannya, dan tidur.
Baru saja rasa kantuk datang, tiba-tiba aku mendengar suara menderit di luar. Seperti suara rem mobil, disusul suara pintu pagar dibuka pelan.
Aku memicingkan telinga.
“Siapa yang datang ?”
Selang beberapa detik kudengar pintu depan diketuk.
Lirih kudengar seseorang memanggil namaku.
“Pit… Pipit …”
“Siapa, ya ?”
“Bulek ni, buka pintunya… ”
***
“Ohh, ternyata Bulek. Lah,kenapa malam-malam ? Bukannya Bulek harusnya jagain Mbah Putri ? ”
Pikirku dalam hati. Aku pun bergegas membuka pintu.
Setelah pintu depan kubuka. Bau tanah tersiram hujan seketika menyeruak masuk. Wajah Bulek yang basah muncul di depanku.
“Sing sabar, Mbah Putri wes sedo…”
“Inalillahiiiiwainailaihirojiuuun .. “
Sontak aku berteriak dan menangis. Bulek menenangkanku.
Jenazah Mbah Putri dibawa dengan ambulance. Seorang petugas rumah sakit bertanya pada Bulek, dimana jenazah akan disemayamkan. Mereka berbicara lirih.
Lampu ruang tamu dinyalakan. Rumah yang semula gelap kini terang benderang.
Petugas rumah sakit dan beberapa tetangga yang kebetulan sedang ronda mulai memindahkan jenazah.
Kini jasad Mbah Putri sudah berada di ruang tamu, diatas sebuah meja kayu jati, ditutupi kain batik. Dan aku tergugu melihat pemandangan di depanku …
Aku masih menangis. Kali ini tanpa suara. Dan aku hanya berani memandangi tubuh Mbah Putri yang kini sudah terbujur kaku dari jauh. Aku duduk bersimpuh. Lemas.
Kudengar Bowo meraung, menangis. Bulek membangunkannya dengan kabar yang sudah pasti membuatnya sangat bersedih.
Tetangga satu dua mulai berdatangan menyampaikan duka cita. Sebagian ibu-ibu langsung membantu di belakang dan sebagian lainnya lek-lekan. Halaman rumah kami kini dipenuhi kursi dengan tarub di atasnya. Hujan masih turun, terdengar ritmis dan mistis …
Setelah berwudhu dan membacakan Surat Yasin, aku memilih duduk di ruang tengah. Dari situ aku bisa melihat langsung jenazah Mbah Putri yang tertutup kain batik tulis kesayangannya. Bulek kudengar sedang mengabari satu persatu keluarga besar kami lewat telpon. Bulek menepuk pundakku, menyuruhku tidur.
“Turu, Pit .. Tidur.. ”
“Gak bisa Bulek … Rasane masih gak percaya Mbah Putri udah gak ada,”
“Sing sabar .. Ini sudah jalan-Nya. Yang terbaik buat Mbah Putri..”
Aroma kopi tercium. Bu Bambang tetangga kami kulihat sedang menghidangkannya untuk Bapak-bapak yang berjaga di teras depan.
Aku terus memandangi ruang tamu kami. Melihat dimana kini Mbah Putri berada.
Berbagai kenangan berkelebat di benakku. Kenanganku bersama Mbah Putri.
Aku tinggal bersama Mbah Putri sejak kecil, tepatnya sejak bangku SD. Kedua orangtuaku memutuskan agar aku bersekolah di kampung, selain menghemat biaya sekolah di kota yang saat itu terbilang mahal, ya.. itung-itung sambil menemani Mbah Putri yang tinggal seorang diri sejak Mbah Kakung sedho.
Mbah Putriku termasuk perempuan Jawa kuno yang begitu memegang anggah ungguh , tata krama dan adat. Satu hal lagi, Mbah Putri sangat “kejawen”. Seringkali kudapati Mbah Putri meletakkan sesaji berisi bunga mawar dan rupa-rupa bunga lainnya, serta secangkir kopi.
Meski begitu, Mbah Putri muslimah yang taat. Sebagai salah satu cucunya dari total 20an orang jumlah cucu Mbah Putri, tentu aku mengingat dengan jelas apa-apa kebiasaan beliau. Mbah Putri juga yang mengajarkan kami dan selalu mengingatkan kami cucu-cucunya agar disiplin sholat 5 waktu.
Diluar hujan masih turun. Suara orang di teras depan sudah tak terdengar lagi. Aku memaksa diri untuk tidur. Meski sangat sulit, akhirnya aku bisa tertidur. Tiba-tiba …
Tiba-tiba … aku merasa ada seseorang memperhatikan. Aku merasakan deru nafas yang begitu dekat. Ada aroma tanah tercium dihidungku. Seketika kubuka mataku. Dan, astaga ! Aku melihat sesosok tubuh tinggi besar, hitam dan berbulu dengan mata besar, menatap tajam ke arahku !
Siapa dia ?? Makhluk apa itu ? Aku berteriak. Ya, rasanya aku sudah berteriak, tapi… tak ada suara yang keluar dari mulutku. Sesuatu seperti membuatku tak bisa bersuara. Makhluk yang tingginya mencapai atap rumah itu jelas menatapku !
Sejurus kemudian aku terbangun. Oh, aku bermimpi ? Tapi tadi terasa begitu nyata. Aku tergagap. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Kulihat jam dinding di angka 2 dini hari. Aku terpaku di atas tikar yang sedari tadi kujadikan alas tidur.
Aku bangun dan duduk terdiam. Mataku nanar melihat ke ruang tamu. Penuh rasa takut aku melihat kesana, ke arah dimana terdapat meja tempat dimana Mbah Putri terbujur kaku dalam tidur panjangnya. Muncul pikiran konyol dalam benakku, mungkinkah orang mati bisa bangun lagi ?
Aku berusaha untuk tidur lagi. Dan tiba-tiba kejadian yang sama berulang lagi. Sosok tinggi besar itu datang lagi. Memperhatikan dan seolah mengawasiku ! Aku terengah-enggah, mencoba bangun dan bersuara namun tak bisa berbuat apa-apa. Mataku seperti dipaksa untuk melihatnya.
Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Yang kulihat hanya sosoknya yang tinggi besar, berbulu dan hitam serupa malam tanpa cahaya penerang. Mata besarnya melihat ke arahku, menelitiku. Siapa sosok itu ?? Mengapa dia muncul tepat dimalam kematian Mbah Putri ??
Pagi hari jelang proses pemakaman Mbah Putri …
Sanak saudara berkumpul. Tetangga dan teman Mbah Putri sesama pensiunan, memenuhi rumah. Seluruh anak Mbah Putri pun berkumpul, termasuk kedua orangtuaku. Ternyata mereka sudah mendapat pertanda jika Mbah Putri akan meninggal.
Isak tangis mengiringi proses pemakaman Mbah Putri.
Liang lahat sudah disiapkan di makam keluarga. Jasad Mbah Putri akan dimakamkan bersebelahan dengan makam Mbah Kakung. Areal pemakaman seluas kurang lebih 3 hektar itu terawat dengan baik.
Mendung menggantung sejak pagi. Tanah pun masih basah sisa hujan semalam. Para pelayat yang ikut mengantar hingga ke pemakaman sepertinya sudah bersiap jika sewaktu-waktu hujan turun. Beberapa diantara mereka membawa payung hitam.
Pandanganku menyapu area pemakaman.
Aku berdiri di bawah pohon kamboja, tepat di sudut liang lahat. Aku menengadah, menikmati angin yang berhembus.
Ssssss … Tiba-tiba kudengar suara berbisik di telingaku. Kutolehkan wajah ke samping, tak ada siapapun. Bulu romaku pun berdiri.
Jasad Mbah Putri perlahan masuk ke dalam liang lahat.
Tubuh tak bernyawa terbungkus rapat kain kafan itu, kini telah diletakkan ke tanah.
Suasana begitu hening. Angin seperti berhenti berhembus. Mataku tiba-tiba menangkap sebuah bayangan. Ah, bisa jadi itu bayangan pelayat,kan ?
Tapi sebentar! Mana mungkin itu bayangan orang? Bentuknya yang semula kecil memanjang, makin lama makin membesar hingga menutupi tepat di atas liang lahat tempat jasad Mbah Putri berada. Kuusap mataku. Aku mengerjap bebarapa kali. Ini jelas bukan bayangan biasa. Lalu ini apa ??
Aku tersentak ketika kemudian Ibu menepuk pundakku.
” Pit, yok balik .. ”
” Iya, Bu … ”
Kami pun pulang, bergabung bersama sanak saudara lainnya. Iringan rombongan beberapa mobil dan ambulance menjadi satu rangkaian panjang.
Setelah di dalam mobil aku menoleh ke areal pemakaman. Air mataku menetes. Dalam hati kuucap lagi kata perpisahan untuk Mbah Putri.
“Baik-baik ya Mbah … Semoga tenang disana ..”
***
Ini malam Jumat. Yasinan sekaligus pengajian baru saja rampung. Tikar dan karpet masih tergelar. Ibuku berkumpul di ruang tengah bersama saudara lainnya. Rasanya letih, tubuhku seperti tak bertenaga. Mataku berat. Aku putuskan untuk tidur. Di kamar Mbah Putri.
Kubuka korden kamar Mbah Putri lalu melangkah masuk. Dimana Mbah Putri ? Ah, konyolnya aku. Masih saja tak percaya Mbah Putri sudah tiada.
Aku duduk di tepi tempat tidur kayu warna coklat dengan ukiran klasik dari Jepara. Kuraba spreinya, kupeluk erat bantal dan membauinya.
Wangi Mbah Putri ….
Aku melirik ke meja kecil di samping tempat tidur. Beberapa benda kesayangan Mbah Putri masih ada disitu. Sisir kecil, bedak tabur merk Viva warna kuning langsat, minyak cendana, dan sekotak perhiasan intan berlian koleksi Mbah Putri.
Rasa sedih menyeruak. Dadaku sesak. Mataku panas. Aku meringkuk naik ke atas tempat tidur yang sudah lebih dari satu bulan tidak ditempati.
Kurebahkan tubuhku. Air mataku mengalir deras, membasahi bantal bermotif kembang sepatu kesayangan Mbah Putri.
Sungguh, kehilangan dan ditinggalkan adalah hal yang menyakitkan. Tak ada yang menduga Mbah Putri akhirnya meninggal, karena kondisi kesehatannya yang mengalami kemajuan. Bahkan Dokter mengatakan satu dua hari lagi Mbah Putri diperbolehkan pulang. Ternyata takdir berkata lain …
“Ssssssss … ”
Suara itu lirih terdengar. Entah mengapa mataku susah diajak kompromi. Otakku memerintahkan untuk bangun, tapi bodo-boro bangun, sekedar membuka mata saja terasa berat. Sepertinya aku benar-benar kelelahan.
“Sssssssss… ”
Suara setengah berbisik itu terdengar lagi, makin jelas. Aku merasakan telingaku digelitik. Kakiku seperti dirambati sesuatu. Tubuhku terasa berat. Aku tersentak seketika. Mataku terbelalak. Mulutku menganga, tak bisa teriak.
Sosok itu…








Saat ini belum ada komentar