Update
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Ketika Anak Muda Berunjuk Rasa

Ketika Anak Muda Berunjuk Rasa

  • account_circle Kebumen Update
  • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
  • visibility 2.103
  • comment 0 komentar
  • print Cetak
Facebook Twitter Whatsapp Threads Threads

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SABTU, 30 Agustus 2025, sekelompok anak muda mengadakan unjuk rasa di Kebumen. Kegiatan yang diawali dari Markas Polres Kebumen ini kemudian dilanjutkan dengan long march menuju Gedung DPRD di selatan Alun-alun kota. Awalnya semua berjalan sejuk. Sore hingga malam demonstrasi berkembang ricuh. Kayu dan batu dilempar, ban-ban dibakar. Siapa pelakunya?

Menurut Kapolres Kebumen, mayoritas pelaku rusuh adalah anak-anak SMA. Dalam berbagai video yang berseliweran di media sosial juga tampak bagaimana sosok-sosok remaja ambil bagian secara aktif dalam unjuk rasa.

Sehari kemudian beredar data pribadi anak-anak yang diamankan. Entah daftar itu benar atau tidak. Jika pun informasi itu benar, sungguh ini adalah pelanggaran berat terhadap privasi anak dan perlindungan hak-hak anak. Bahkan dalam pengadilan anak pun, nama anak tak pernah disebut dan pengadilan selalu dilaksanakan tertutup.

Banyak pihak memberi tanggapan atas aksi para remaja ini. Hampir semua pihak kompak mengatakan bahwa keterlibatan remaja usia sekolah dalam unjuk rasa patut disesalkan. Bahwa demonstran remaja adalah anak nakal. Bahwa anak sekolah seharusnya berada di kelas, tidak ikut-ikutan turun ke jalan. Salah satu lembaga pendidikan bahkan menyebarkan poster digital “Siswa SMK Fokus Prestasi, Bukan Demonstrasi”. Semakin kuatlah citra unjuk rasa adalah pekerjaan anak nakal tanpa masa depan.

Penting untuk membandingkan peristiwa ini dengan kondisi Kebumen di tahun 1949. Saat itu, barisan anak muda berusia 15-18 tahun turun berjuang demi bangsa. Sebagai bagian dari Tentara Pelajar mereka bertempur melawan ketidakadilan penjajah, menegakkan kedaulatan bangsa. Pertempuran Sidobunder yang legendaris menjadi pembuktian cinta mereka pada tanah air.

Sama-sama anak muda belasan tahun. Sama-sama meninggalkan kelas. Sama-sama memperjuangkan keyakinan demi kebaikan bangsa. Mengapa tanggapannya berbeda langit dan bumi? Apakah karena saat itu yang dihadapi penjajah asing? Bukankah yang diperangi sama-sama ketidakadilan dan pengkhianatan terhadap nilai kebaikan?

Jawaban yang sekarang lazim muncul: karena anak muda belum paham lika-liku politik, karena anak muda akan mudah diperalat, karena anak muda akan lebih baik belajar di kelas agar cerah masa depannya.

Ki Hajar Dewantara akan menangis jika alasan-alasan di atas dipakai untuk mengikat anak dalam ruang kelas. Pendidikan yang muncul pun menjadi pendidikan semu yang menjauhkan anak didik dari realita kehidupan. Pendidikan semacam ini semata mengejar nilai dan prestasi akademis namun mengabaikan proses pendewasaan pribadi untuk menjadi warga negara yang membumi, berwawasan luas, kritis dan cerdas.

Momentum Introspeksi Lembaga Pendidikan, Pendidik, Pemerintah dan Masyarakat

Munculnya wajah-wajah remaja dalam parlemen jalanan jangan ditanggapi dengan stigma negatif sebagai alat memaksa mereka masuk ke ruang kelas. Jangan ada pemahaman bahwa terlibat dalam unjuk rasa adalah sebuah kejahatan dan kenakalan yang harus diberantas.

Semestinya momen ini justru menjadi momen introspeksi untuk lembaga pendidikan, para pendidik, pemerintah dan masyarakat. Apakah sekolah kita telah menjadi wadah berkembangnya jiwa-jiwa muda calon pemimpin bangsa yang berempati dan paham atas beban dan derita bangsanya? Atau hanya jadi pabrik penghasil pribadi steril jauh dari realita masyarakat untuk kelak menjadi penguasa pongah serakah yang menghalalkan segala cara?

Budaya berpikir kritis, berdialog, bersikap dewasa mesti menjadi bagian integral dalam pendidikan. Bawalah berbagai masalah bangsa ke ruang kelas, diskusikan dalam suasana setara. Didik anak-anak untuk berani berbeda pendapat tanpa memunculkan kebencian dan kehilangan akal sehat. Ijinkan mereka untuk bersuara, bahkan di ranah publik, bahkan ikut unjuk rasa sekalipun. Bisa jadi mereka salah, tapi pasti mereka akan belajar.

Sekolah yang baik semestinya menjadi jembatan bagi anak didik untuk memahami masyarakat dan bangsanya. Sekolah yang buruk akan mengurung anak didiknya di kotak-kotak kelas, berlagak bisu tuli terhadap hidup nyata sehari-hari di sekitarnya.

Pada saatnya nanti kita tak akan lagi was-was ketika para remaja turun ke jalan, karena mereka telah memiliki bekal memadai: cerdas mengupas dan tajam memilih. Mereka adalah warga negara muda yang memiliki cinta tulus pada bangsa ini. Ketulusan yang hari-hari ini terasa semakin langka. ***

Sigit Tri Prabowo, peminat isu pendidikan dan sosial.

Ikuti Kebumen Update agar tak ketinggalan berita

Penulis

News & Inspiring

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pencari Kerang yang Hilang di Pantai Karangbolong Akhirnya Ditemukan

    Pencari Kerang yang Hilang di Pantai Karangbolong Akhirnya Ditemukan

    • calendar_month Kamis, 11 Jan 2024
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.505
    • 0Komentar

    BUAYAN (KebumenUpdate.com) – Pencari kerang di Pantai Karangbolong yang sehari sebelumnya dinyatakan hilang, Ahmad Saefulloh (23) warga RT 01 RW 03 Desa Karangbolong Kecamatan Buayan, ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di tengah lautan. Kapolres Kebumen AKBP Recky melalui Kasihumas Polres AKP Heru Sanyoto menjelaskan, korban ditemukan oleh nelayan yang tengah mencari ikan di perairan Karangbolong, […]

  • Belum Ada Tanda-tanda Turun Hujan, PMI Kebumen Distribusikan Air Bersih di Sejumlah Desa

    Belum Ada Tanda-tanda Turun Hujan, PMI Kebumen Distribusikan Air Bersih di Sejumlah Desa

    • calendar_month Selasa, 5 Sep 2023
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.344
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Hingga awal September 2023, sebagian besar wilayah Jawa Tengah masih dalam kategori waspada untuk peringatan dini kekeringan berdasarkan data BMKG Jateng. Tidak terkecuali di wilayah Kabupaten Kebumen. Untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih, PMI Kebumen menyalurkan bantuan air bersih yang sudah dimulai sejak pertengahan Agustus 2023. Kegiatan penyaluran air bersih […]

  • Datang ke Lokasi dengan Bersepeda, Bupati Resmikan Pantai Heppii

    Datang ke Lokasi dengan Bersepeda, Bupati Resmikan Pantai Heppii

    • calendar_month Senin, 29 Apr 2024
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 5.028
    • 0Komentar

    BULUSPESANTREN (KebumenUpdate.com) – Pantai Heppii di Desa Ayamputih Kecamatan Buluspesantren baru saja diresmikan Bupati Kebumen Arif Sugiyanto, Minggu 28 April 2024. Peresmian ditandai dengan pemotongan pita dan pemecahan kendil. Menariknya, Bupati Arif datang ke Pantai Heppii dengan bersepeda dari Pendopo Kabumian bersama Wakil Bupati Ristawati Purwaningsih, jajaran forkopimda, pimpinan OPD, pimpinan BUMD, camat, lurah, staf […]

  • Secata Gombong Bersholawat: Kyai Jabir Sukses Padukan Dakwah, Humor, dan Nasionalisme

    Secata Gombong Bersholawat: Kyai Jabir Sukses Padukan Dakwah, Humor, dan Nasionalisme

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.513
    • 0Komentar

    GOMBONG (KebumenUpdate.com) – Kehadiran penceramah KH Jabir Huda Al Mansur “Kyai Dalang” dengan gaya dakwahnya yang unik menggunakan media wayang kulit dan sentuhan humor berhasil menyajikan tausiah kebangsaan yang segar, jenaka, namun tetap sarat makna di Masjid Roudlotul Muslimin Secata Gombong. Di acara Secata Bersholawat, Minggu 7 September 2025, ia berhasil mengajak jemaah merayakan Maulid […]

  • Mercusuar Tanggulangin

    Mercusuar Tanggulangin: Menara Pemandu yang Memesona

    • calendar_month Rabu, 26 Jun 2024
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 6.504
    • 0Komentar

    MERCUSUAR Tanggulangin terletak di Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen. Mercusuar ini tidak hanya berfungsi sebagai pemandu navigasi laut, tetapi juga menjadi salah satu ikon wisata yang menarik banyak pengunjung. Mercusuar Tanggulangin dibangun pada tahun 1997 sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan navigasi di perairan sekitar Desa Tanggulangin. Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan akan perawatan, […]

  • Jaringan Kiai Muda Pesantren

    Jaringan Kiai Muda Pesantren Nusantara Gelar Doa Bersama, Syukuran Kemenangan Prabowo-Gibran

    • calendar_month Sabtu, 17 Feb 2024
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.551
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Kemenangan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka berdasarkan hasil perhitungan cepat atau quick count pada Pilpres 2024 disambut antusias oleh berbagai kalangan. Salah satunya Jaringan Kiai Muda Pesantren (JKMP) Nusantara Kabupaten Kebumen yang menggelar doa bersama, Jumat 17 Februari 2024 sore.  Doa […]

expand_less