Gapai 3 Puncak di Gunung Merbabu Jalur Wekas

Di Puncak Syarif Gunung Merbabu dengan background Gunung Merapi. (Foto: Hari)

Dengan target sampai di pos 2 sebelum gelap/magrib, kami optimis dapat melakukannya. Hal ini didukung dengan jumlah personel yang tidak begitu banyak (8 orang). Tentu akan berbeda jika berjalan dengan rombongan besar.

Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan tim evakuasi yang mengangkut pendaki sakit tadi. Dengan ketangkasan dan kelihaiannya, mereka dapat berjalan dengan cepat sambil menandu korban.

Bacaan Lainnya

Ciri khas mendekati pos 2 saya sampaikan ke teman-teman yaitu dengan tanda kontur jalan yang landai serta terdapat pipa air di tengahnya.

Benar saja, memasuki area tersebut, kami percepat langkah kaki agar segera sampai di pos 2 karena perut sudah berteriak ingin mendapat asupan makanan.

Menjalin keakraban dalam hangatnya tenda. (Foto: Hari)
Sampai Pos 2

Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB saat kami mulai masuk ke area pos 2 dan telah banyak tenda yang berdiri. Kami coba mencari area yang masih tersisa. Lalu didapatlah tempat di area yang tidak jauh dari tempat kami dulu bermalam (Merbabu 2022, hujan badai).

Baca juga: Pendakian Gunung di Musim Hujan, Waspadalah! 

Masing-masing bahu membahu mendirikan tenda. Di sini kami mendirikan 2 tenda dan 1 bivak. Tenda pertama untuk Akhsan, Galih, Dendy, Ulhaq, dan Hamid. Tenda kedua untuk Saffana dan Devi. Sedangkan bivak untuk saya sendiri. Perintah untuk mengganti pakaian juga saya sampaikan ke yang lain. Ini untuk mencegah terjadinya hipotermia.

Usai tenda berdiri, acara berikutnya dan paling ditunggu-tunggu adalah makan malam. Juga yang tidak kalah penting mengambil air yang ada di pos 2 untuk keperluan wudhu, memasak, dan lain-lain.

Menu kami, racikan MasterChef of Karangtanjung. (Foto: Hari)

Kami memasak sayur sop yang dibeli Devi sejumlah 2 bungkus dengan chef andalan Akhsan, jebolan masterchef of Karangtanjung. Juga menggoreng bakwan isi kubis dan wortel. Ditambah nasi bungkus yang kami bawa dari basecamp. Nikmat sekali. Ingin rasanya saya nambah 2 piring, tapi karena malu dengan mereka, terpaksa saya urungkan maksud saya tadi.

Sementara Akhsan masih sibuk menanak nasi untuk bekal saat summit, saya dan lainnya bermain kartu seperti poker dan minuman. Tak lupa sesekali melihat ke arah luar bagaimana kondisi cuacanya apakah berkabut atau cerah.

Karena Hamid, Saffana, dan Devi tidak ikut bermain kartu alias hanya menonton, saya merasa kasihan dan sepertinya memang kami sudah mengantuk. Ditambah saya yang berkali-kali kalah dalam bermain kartu, maka diputuskan untuk mengakhiri permainan ini.

Pos terkait