Situasi Kemerdekaan Indonesia di Kebumen
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 16 Agu 2024
- visibility 6.438
- comment 0 komentar

Tugu Perjuangan Sidomukti di Kecamatan Adimulyo untuk mengabadikan pertempuran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Dok. Setyo Adi Nugroho/Potret Lawas Kebumen)
Tidak hanya alat transportasi, Angkatan Muda juga melakukan perundingan dengan pihak Jepang mengenai pengambilalihan pabrik-pabrik yang dikuasai Jepang. Perusahaan-perusahaan besar yang ada di Kebumen berhasil diambil alih oleh Angkatan Muda, sepeti pabrik minyak kelapa “Mexolie” Kebumen, pabrik minyak kelapa Karanganyar, pabrik tenun Sruweng, dan pabrik genting Pejagoan.
Memasuki bulan September 1945, pergerakan Angkatan Muda semakin militan dengan melakukan pelucutan senjata milik Jepang. Pelucutan senjata dilakukan melalui perundingan dengan pihak Jepang. Perundingan dipimpin oleh Wasilan dengan bantuan Muin Sadjoko sebagai penerjemah karena dapat berbahasa Jepang.
Setelah hampir satu jam perundingan, akhirnya Jepang menyerah dan mau memberikan senjatanya kepada Angkatan Muda. Pada pelucutan senjata ini, Angkatan Muda dibantu oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) Kebumen serta Kepolisian Kebumen.
Munculnya Badan dan Laskar Perjuangan di Kebumen
Gegap gempita kemerdekaan disambut dengan dibentuknya berbagai organisasi di Kebumen, seperti Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Kebumen dan Gombong, Angkatan Oemat Islam (AOI) di Somalangu, Prajurit Keamanan Oemoem (PKO) di Ambal, Lasykar Merah di Kutowinangun, Sarekat Rakjat di Selang, dan masih banyak organisasi lainnya.
Pertempuran Kembali antara Indonesia dengan Belanda

Monumen Purangga di Kecamatan Karanggayam untuk mengabadikan pertempuran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Dok. Setyo Adi Nugroho/Potret Lawas Kebumen)
Baru beberapa tahun merasakan kemerdekaan, Indonesia sudah harus dihadapkan pada situasi yang genting. Kemenangan Blok Sekutu dari Jepang di Perang Dunia II membuat Belanda yang tergabung dalam Blok Sekutu ingin kembali menguasai Indonesia.
Kedatangan kembali Belanda tidak diterima begitu saja oleh rakyat Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahakan kemerdekaan. Hal ini memicu perlawanan yang menyebabkan terjadinya berbagai pertempuran fisik antara Indonesia dengan Belanda dan Blok Sekutu.
Baca Juga: Jejak Keberadaan Bioskop di Kebumen
Pertempuran yang kembali terjadi antara Indonesia dengan Belanda juga berlangsung cukup sengit di beberapa daerah di Kebumen. Baik tentara Indonesia maupun laskar-laskar dan badan-badan perjuangan rakyat saling bahu-membahu dalam menahan laju serangan tentara Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia.
Tercatat beberapa pertempuran yang terjadi di Kebumen selama periode tahun 1947-1949 diabadikan dalam pembangunan monumen dan tugu yang hingga saat ini masih dapat kita temui, di antaranya:
- Monumen Purangga (Karanggayam)
- Monumen Tentara Pelajar “Ganesha” (Prembun)
- Monumen Tentara Pelajar (Kebumen)
- Monumen Pena (Kebumen)
- Monumen Perjuangan ’45 Kemit (Karanganyar)
- Monumen Status Quo Kemit (Karanganyar)
- Tugu Canonade (Karanganyar)
- Tugu Marta Sentana (Adimulyo)
- Tugu Perjuangan Sidomukti (Adimulyo)
- Tugu Sidobunder (Puring)
- Tugu Renville (Kebumen)
Peran besar Kebumen dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga melibatkan masyarakat sipil sebagai pager desa dan pusat logistik berupa pembangunan dapur-dapur umum untuk membantu para prajurit Indonesia yang sedang bergerilya perang. Lokasi dapur-dapur umum tersebut berada di Ayah, Buayan, Gombong, Rowokele, dan Sempor.
Dukungan logsitik yang mengalir biasanya berasal dari daerah-daerah yang berada dekat dengan medan pertempuran. Adanya dukungan logistik ini mampu meningkatkan moral prajurit Indonesia dalam berjuang di garis terdepan.
Referensi
- Darto Harnoko Poliman. (1986). “Perang Kemerdekaan Kebumen Tahun 1942-1950”. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
- Fuad Yogo Hardyanto. (2010). “Perang Mempertahankan Kemerdekaan di Kebumen Tahun 1945-1950”. Skripsi dari Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
- Ikatan Keluarga Resimen XX Kedu Selatan. (2003). “Gelegar di Bagelen”.
- Sigit Tri Prabowo. (2021). “Tiga Pemuda di Jalan Merdeka”. Artikel dari Kebumen Update.
- (2013). “Berdirinya Kabupaten Kebumen Berdasarkan Prasasti 3 Juli 1848”.
Penulis: Setyo Adi Nugroho, Founder Potret Lawas Kebumen







Saat ini belum ada komentar